
Sepanjang langkah Erik, ia tidak habisnya menggerutu. Karena ia bary pertama kalinya ditolak wanita mentah-mentah begini, yaitu dengan Dokter Lita.
"Jangan salahkan aku jika esok kau yang akan berlutut dikakiku," gumam Erik dengan kesal yang entah itu adalah sebuah tekad atau semacam harapan.
*
Dikamar, Alisha yang sudah merasa bosan akhirnya berniat untuk keluar kamar, karena baginya waktu istirahatnya sudah sangat cukup, bahkan lebih dari cukup. Ia keluar dengan diam-diam karena memang Elvano yang masih melarangnya untuk keluar kamar walaupun sang dokter pun sudah mengatakan kalau Alisha sudah boleh melakukan aktifitas seperti biasanya.
sambil bersenandung, Alisha menuruni anak tangga. Matanya memperhatikan sekeliling yang terlihat sepi. Dan kini matanya tertuju pada pintu yang menuju sebuah halaman belakang.
Bibirnya menganga karena disana sangat terlihat sejuk, para pekerja sedang melakukan sesuatu disebuah rumah kaca yang dia yakini itu adalah sebuah pertanian. "Mereka sedang bertani kah?" gumam Alisha yang melangkah mendekat.
"Permisi?" suara Alisha mendominasi semuanya untuk segera menoleh secara bersmaan yang pastinya mereka semua terkejut karena kedatangan nyonya dari tempat mereka bekerja.
"Nyonya Alisha? Anda sedang apa disini?" tanya seorang pelayan yang juga Alisha kenal dengan nama Jessi.
"Kak Jes, ini sedang apa?"
__ADS_1
"Kami sedang memanen sayuran, Nyonya. Anda kembalilah kekamar karena Tuan akan marah jika melihat Nyonya berada disini," ucap pelayan itu.
"Tidak Kak, Alisha bosan dikamar terus. Boleh aku ikut memanen bersama kalian?" ucapan Alisha membuat semua ternganga, mereka bingung harus menolak Nyonya-nya atau menyetujuinya. Jika mereka meyetujuinya, mereka pasti akan kena marah dengan Tuan-nya, dan jika menolaknya, mereka juga tidak enak pada Nyonya-nya.
Tanpa menunggu jawaban mereka, Alisha sudah menyambar sebuah sarung tangan yang tergantung di sebuah paku lalu memakainya. Berjalan kearah para pekerja dan mencabut beberapa sayuran yang dia pilih karena memang sudah siap panen hari itu juga. Dengan sangat lihay Alisha mencabuti dan mengumpulinya di lain wadah. sungguh pekerja disana sangat heran karena sang Nyonya yang seperti terbiasa dengan pekerjaan kotor seperti itu.
"Kak itu sudah terlalu tua, akan terasa pahit jika untuk diolah, lebih baik dijadikan pupuk saja," ucap Alisha yang melihat salasatu dari mereka akan mencabut satu gabung sayuran yang memang sudah terlalu tua.
Mereka yang mendengarnya merasa kagum karena ternyata pengetahuan bertani sang nyonya lebih baik dari mereka.
Sedang mereka asik memanen secara bersama-sama bahkan Alisha membuat semuanya tidak lagi canggung terhadapnya, seorang pria berdiri di ambang pintu rumah kaca dengan tangan yang bersedekap dada, dan salasatu pelayan disana yang melihatnya langsung terdiam dengan wajah pucat, bahkan sayuran yang sedang ia bawa pun terjatuh ketanah.
Jessi dengan takut menghampiri pria itu lalu berkata, "Maaf Tuan, Nyonya yang memaksa," lirih Jessi.
"Bagaimana jika Tuan kalian mengetahui ini, hah!" bentaknya yang membuat semua terjingkat kaget begitu juga Alisha yang langsung menoleh keasal suara.
"Ka Dion bukan?" tanya Alisha yang sudah melangkah dengan sekeranjang sayuran di tangannya.
__ADS_1
Ya pria itu adalah Dion. Dion yang melihat penampilan Alisha saat ini benar-benar membuat dia sedikit takut. Ya dia takut jika Elvano melihat istrinya yang kotor karena ikut bekerja dengan para pelayan. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, berulang kali melihat kearah belakang karena takut tiba-tiba Elavno akan datang dan melihat penampilan istrinya yang berantakan. Dia dapat membayangkan kalau semua pelayan disana akan dipecat dengan tidak hormat karena membiarkan istri dari Tuan George Elvano Abraham bekerja.
"Nona, sebaiknya Anda cepat membersihkan diri Anda, karena aku khawatir akan ada badai setelah ini." Alisha mengernyit bingung.
"Badai apa? terang begini," ucap pelan Alisha yang mendongak kelangit.
"Hiiissshh, bukan badai itu yang ku maksud... ."
Dan ternyata ketakutan Dion benar terjadi, Elavano menghampirinya yang datang dari arah belakang dan belum melihat Alisha. "Dion, apa sudah beres," ucap Elvano pada Dion yang bahkan tidak berani menolehkan kepalanya.
Pada saat Elvano melewati tubuh Dion yang di ajak bicara tidak menyahutinya, dan Dion pun memejamkan matanya karena dia tahu akan ada badai setelah ini. Alangkah syoknya Elvano, disana sudah berdirinya Alisha, istrinya dengan pakaian yang sangat kotor, bahkan pipinya terdapat noda tanah.
"Haaahhh? Alisha? kau sedang apa?" tanya Elavno tapi Alisha hanya tersenyum dengan memamerkan gigi-giginya yang putih. Tatapan Elvano beralih denagn tajam ke arah rumah kaca tepatnya pada para pelayan yang saat ini tengah tertunduk takut.
"By..., aku hanya sedang mengobati rasa bosan ku," ucap Alisha.
"Kembali kekamar, bersihkan tubuhmu itu!" ucap Elvano dengan tegas.
__ADS_1
"Baiklah..." Alisha melangkah pergi dari sana setelah memberikan sekeranjang sayurannya pada Dion.
"Kalian berkumpul di ruang 4!" suara Elvano menggelegar membuat semuanya terjingkat kaget.