Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Membasmi Pengkhianat


__ADS_3

Bugh' Bugh' Bugh' Bugh Bugh' ...


Elvano seperti kesetanan, menghajar semuanya dengan membabi buta, tidak ada jeda sedikitpun walaupun dia juga ada beberapa luka lebam, tapi baginya itu tidak ada apa-apanya. Dia marah, dia merasa harga dirinya tengah di pertaruhkan. Dia sangat membenci seseorang yang telah melukai wajah kebanggaannya.


Tapi bukannya musuhnya habis karena dia juga sudah menghajarnya, musuh malah semakin banyak yang datang dari segala penjuru.


''Ck, sial!'' serunya yang sedang merenggangkan otot-ototnya.


Tapi Elvano bersyukur karena saat dia sudah mulai jengah, anak buahnya pun datang dengan jumlah lebih banyak dari pada musuhnya.


Elvano mengangkat lengannya, melirik jarum arlojinya.


''22 menit?''


''Sorry El, tadi ada kesalahan teknis,'' sahut Erik.


''Ck, urus mereka. Aku harus pergi.''


''Baik, hati-hatilah.''


''Emmm!''


Elvano pun pergi dari sana meninggalkan Erik yang membawa 35 anak buah untuk menangani para musuh Elvano itu.


Ya seorang mafia tentu akan memiliki banyak musuh, entah itu rival dari perusahaan ataupun seseorang yang tidak terima jika Elvano yang memimpin para mafia di negara sana.


Elvano yang sedang mengendarai mobil sesekali mengecek luka lebamnya itu, rahangnya terasa kaku, ia berpikir akan pergi ke perusahaan atau kembali pulang.


Tapi dia harus ke perusahaan karena ada yang harus ia tangani di sana. Menginjak pedal gas dengan dalam, mobil keluaran Italia itu melaju sangat kencangnya di bawah kendali seorang George Elvano Abraham.


Sesampainya ditempat tujuannya, Elvano segera keluar dari mobilnya yang sudah ada dua orang laki-laki yang sudah menyambut nya dengan hormat.


''Dimana dia?'' tanya Elvano pada salasatu dari mereka.

__ADS_1


''Sudah di ruangan, Tuan.''


Elvano pun berjalan dengan cepat, raut wajahnya seperti sedang menahan emosi. Lengan bajunya sudah ia lipat sampai siku. Telinganya terus mendengarkan kaki tangannya membacakan laporan yang diperdengarkan untuk Elvano.


Tangan Elvano terangkat, meminta agar kaki tangannya itu diam ketika dia sudah sampai di ruangannya.


''Baik Tuan, saya permisi.''


''Emmm.''


Sorot mata Elvano menatap nyalang pada seseorang yang tengah duduk di sofa ruangannya.


Memberikan deheman sebagai tanda kalau dirinya telah datang, sosok pria yang duduk itupun seketika terbangun dan membungkuk hormat padanya.


''Selamat malam tuan George.'' Sapa dia dengan senyum sumringahnya tanpa tahu kalau tengah menjadi buruan sang raja hutan.


''Emmm, duduklah.''


''Terima kasih.''


''Pajak? oh belum Tuan, karena mereka belum menerima barangnya, dengan begitu mereka juga tidak ingin memberikan pajaknya.'' Elvano hanya mengangguk-angguk dengan raut wajah yang aneh.


Bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri pria itu lalu duduk di sofa tunggal miliknya dengan melipat kaki panjangnya.


''Lalu apa Artileri yang seharusnya kita terima bulan lalu, sudah ada laporan?'' tanya Elvano lagi dan pria yang menjabat sebagai manager keuangan itu tetap saja berbohong.


''Belum juga Tuan, mereka baru akan mengirimkannya setelah dua bulan di tangan.'' Elvano mengangguk-angguk lagi.


''Apa ada pertanyaan lagi Tuan, kalau tidak saya pamit undur diri.'' Pria itu sudah bangun dari duduknya dan merapikan jasnya, bersiap untuk pergi namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika Elvano memanggilnya dengan nama aslinya.


''Yans Gurve. Apa kau mengenal nama itu Ben?'' Elvano melangkah ke arahnya.


''Tidak, saya tidak mengenalnya,'' kilah Beni.

__ADS_1


''Emmm baik. Kalau Chloe? Rihana? apa kau juga tidak mengenalnya?''


Pertanyaan Elvano membuat pria bernama Beni itu seketika berkeringat, wajahnya pucat karena nama yang disebut Elvano adalah nama ibu dan adik perempuannya.


Beni pria yang dipercayakan Elvano untuk menangani pengiriman ataupun menerima amunisi dan senjata api dari luar negeri. Entah faktor apa sampai Beni pun mengkhianati Elvano dengan cara berkorupsi yang bernilai yang cukup fantastis.


Dan bahkan ia juga menggunakan nama samaran untuk bekerja disana. Mungkin kalau untuk masalah uang, Elvano tidak mempermasalahkannya, karena Elvano tipe pemimpin yang sangat royal, meminta pun akan dia berikan dengan senang hati. Tapi dengan cara Beni berkorupsi dan membohonginya, itu yang tidak dapat ditoleransi oleh Elvano.


''Jangan pernah menyangkut pautkan mereka didalam urusan kita,'' ucap Beni setelah sekian lama membisu.


Krek..


Beni mengeluarkan sebuah senjata api dan mengarahkannya pada Elvano yang bahkan tidak sama sekali takut.


''Sudah berkhianat, sekarang kau malah berniat menyerang ku?''


''Jangan banyak mulut kau George!''


Dor 💥


Darah sudah menggenang dengan berbarengan tumbangnya Beni dibawah lantai. Elvano tersenyum dengan puas, karena sang pengkhianat bisa ia singkirkan.


Berjongkok di depan Beni yang terkapar tak berdaya Elvano tersenyum dengan sangat manisnya menepuk pipi dan mengelus kepala Beni. Sungguh psikopat yang sangat berbahaya!


Setelah memastikan Beni sudah tidak bernapas Elvano segera menghubungi anak buahnya yang berjaga di depan ruangannya, buat apa? ya buat apa lagi kalau bukan untuk menyingkirkan jejak dosanya.


''Untuk hari ini cukup sampai di sini, wajahku semakin terasa kaku gara-gara si brengsekk itu.''


Elvano pun pergi dari sana meninggalkan anak buahnya yang ditugaskan untuk mengurus jasad Beni.


Pulang ke mansion Abraham. Elvano melangkah masuk yang langsung menuju kamar Alisha. Membuka pintu depan perlahan dan ternyata benar dugaannya kalau Alisha sudah tertidur pulas di atas ranjang.


Elvano perlahan melangkah mendekat ke arah Alisha, membetulkan selimut yang tersingkap sehingga membuat Alisha semakin terhanyut dalam mimpinya.

__ADS_1


''Aku tidak menyangka akan bertemu kamu di dunia nyata, wanita yang selama ini mengganggu mimpiku ternyata sekarang berada di depanku. Aku tidak akan melepaskanmu, Alisha. Kau tetap milikku sampai kapanpun itu.''


__ADS_2