Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Dikuasai oleh Amarah


__ADS_3

Sudah 10 hari Elvano berdiam diri di rumah untuk pemulihan lukanya. Dan 10 hari itu juga Elvano dan Alisha sudah semakin dekat, walaupun terkadang keduanya masih merasa canggung.


Hari ini Elvano sudah mulai kembali ke aktivitas seperti biasa, mengurus perusahaan dan pergi ke markas untuk sekedar melihat perkembangan dari ekspor impor amunisi.


Alisha pun sudah memiliki pelayan khusus dan tentunya pelayan itu adalah seorang wanita. Bukan hanya pelayan, Alisha juga sudah memiliki asisten pribadi dan tentunya juga seorang wanita. Tidak lain itu semua atas kehendak Elvano yang meminta Hito untuk mencarikan kandidat yang cocok untuk Alisa.


Seleksi demi seleksi Elvano lakukan karena menurutnya itu sangatlah penting, karena menyangkut keselamatan Alisha juga. Dia tidak mau mengambil resiko untuk mempekerjakan sembarangan orang, terlebih lagi memasuki istananya. Karena bisa saja seorang musuh menyamar dengan sangat pintarnya.


Di markas Hercules, Elvano yang baru saja tiba langsung disambut oleh anak buahnya dengan sangat hormat. Erik, Dion, Bima. Mereka ikut menyambut kembalinya ketua mereka.


Kini keempat pria tampan sedang berkumpul di suatu ruangan, membicarakan masalah pekerjaan juga amunisi yang baru saja mereka terima dari negara tetangga.


Tapi tiba-tiba Erik membahas seseorang yang telah melukai Elvano yaitu Deva, hingga suasana yang tadinya kondusif seketika berubah dingin.


''El, Deva—''


''Dia dimana?!'' tanya Elvano begitu dingin.


''Di ruang bawah tanah, sebenarnya ada satu hal yang dia katakan, tapi—''


''Apa?''


Erik menatap Dion dan Bima meminta untuk meninggalkan mereka hanya berdua saja. Dion dan Bima pun pergi karena mereka tahu ada sesuatu yang ingin Erik katakan hanya berdua.


''Ada apa?''


''Sebaiknya kita temui dia saja di sana, tapi sebelum itu aku minta kau harus berpikir dengan logis jangan gegabah!''


Elvano tidak mengidahkan ucapan Erik, dia malah berlalu begitu saja pergi ke sebuah anak tangga yang menuju ruangan bawah tanah.


Bau anyir juga minim cahaya sudah tidak lagi membuat Elvano risih, karena sudah terbiasa baginya.


Erik pun menyusul dan menuntut dari belakang, dua laki-laki tampan itu berjalan melewati sel-sel yang terdapat beberapa tahanan mereka di sana. Ya di sanalah tempatnya para pengkhianat dan para bandit yang mencoba menghianati kepercayaan Elvano.


Dan di seberangnya ada sebuah tempat khusus eksekusi target mereka. Crak! Elvano menginjak sebuah genangan namun bukan genangan air melainkan genangan darah yang berasal dari ruangan eksekusi itu.


Elvano menoleh ke arah Erik dan Erik pun segera menjawab arti dari tatapan Elvano itu. ''Hari ini jadwal eksekusi orang dari Bison.''


Kembali melangkah hingga ke sebuah pintu yang di sana adalah ruangan yang tidak memiliki jendela ataupun ventilasi, dan


ruangan itu disebut ruangan tikus oleh para Hercules squad.


Erik membukakan pintu tersebut untuk Elvano masuk, dan disana ada seorang pria yang duduk dengan tangan yang terikat ke atas. Menatap nyalang pada Elvano juga Erik yang berdiri di ambang pintu.


Tatapan meremehkan itu terlihat nyata pada mata tajam orang itu, yang tidak lain adalah Deva. Pria yang membawa pergi wanita milik sang Mafia, George Elvano Abraham.


Elvano berjalan dengan langkah yang lebar, dan ...


Bugh'


Tepat di ulu hati Deva, Elvano melepaskan pukulannya dengan amarah yang sudah tertahan beberapa hari ini.


Bugh'


Pukulan itu mendarat lagi pada rahang sebelah kanan sehingga sudut bibir Deva pun mengeluarkan darah segar.


Bugh'


Dan kali ini pukulan itu ia tujukan tepat di tulang iga yang mungkin saja mengakibatkan patahnya tulang-tulang. Dan bahkan Deva sudah memuntahkan darah yang cukup banyak.


''Sudah, dia bisa mati kalau seperti itu. Hari ini bukanlah jadwal pemakamannya,'' ujar Erik menahan tubuh Elvano.


''Pengecut!'' maki Deva dengan sisah tenaganya.


''Pantas saja, dia lebih memilih ku ketimbang dirimu! rupanya kau begitu payah!'' racau Deva.


''Sebenarnya kau siapa? kenapa berbuat seperti itu?'' tanya Erik yang masih berbicara dengan tertata.

__ADS_1


''Cih! aku siapa, bukan urusan kalian! Yang pasti aku hanya menginginkan kehancuran George Elvano Abraham!''


''Kau utusan siapa? jika kau mengatakan dengan jujur, aku akan mempertimbangkan untuk melepaskan mu!'' Erik bicara lagi dengan sebuah penawaran.


Ha..ha..ha..ha..


Bukannya menjawab Deva malah tertawa dengan sangat kencangnya yang seolah-olah tawanya itu mengandung sebuah ejekan.


''Mempertimbangkan? lebih baik aku mati!'' Cuih...


Dia meludah ke arah Elvano sehingga tangannya terkena darah dari mulut Deva. Mata tajam Yang mana hanya melirik dan kembali menatap Deva dengan tatapan mematikan.


''Jadi itu yang kau mau?!''


''Ya! tapi sebelum itu kau harus tahu sesuatu!''


''Cepat katakan sebelum aku benar-benar menghabisimu!''


''Kau sangat menginginkan Alisha, bukan?''


Bugh'


''Jangan sebut namanya dari mulut kotor mu itu!''


Elvano menendang bagian perut Deva karena tidak menyukai nama wanitanya disebut dengan lantang olehnya.


''Ha.. ha.. ha.. secinta itu kau dengannya? apa dia tidak mengatakan apapun padamu. Biar aku beritahu, aku sudah menidurinya! aku sudah menikmati tubuhnya! dan kau hanya mendapatkan sisanya saja! ha..ha..ha..''


Elvano menggertakkan gigi-giginya, tangannya pun sudah mengepal kuat, rahangnya mengeras bahkan matanya sudah akan menyemburkan sebuah lava.


''Brengsek!!''


Bugh' Bugh' Bugh' Bugh'...


Elvano seperti kesetanan dia bahkan tidak memberikan kesempatan Deva untuk bernapas.


Erik tidak sama sekali melerainya karena dia tahu kalau Elvano sedang melampiaskan apa yang dirasakannya. Setelah beberapa kali pukulan dan tendangan Elvano berikan, Deva pun sudah tidak sadarkan diri lagi, entah mati ataupun hanya sekedar pingsan. Tapi Elvano tidak peduli itu, dia berlalu pergi dengan sebuah perintah yang mutlak pada Erik.


''Eksekusi dia, sekarang juga!''


Erik mengejarnya karena dia tidak ingin Elvano gelap mata pada Alisha. Erik sangat tahu kalau Elvano sangat membenci penghianat, maka dari itu, apa yang ditakutinya jangan sampai terjadi.


''El tunggu, El !''


Elvano tetap berjalan dengan cepat.


''Pikirkan baik-baik, jangan sampai kau gegabah, dan melakukan yang nantinya akan membuat kau menyesal! El!!''


Erik berusaha menenangkan pikiran Elvano, namun... dia tetap pergi dari sana dengan keadaan amarahnya yang memuncak.


Mengendarai mobil dengan sangat kencang dan bahkan ada beberapa mobil yang hilang kendali karena dia. Ucapan Deva terus terngiang-ngiang di telinganya.


Sungguh! mendengar itu dia sangat marah, ada rasa kecewa dalam hatinya jika memang itu benar-benar terjadi.


Hanya 15 menit perjalanan elvano pun sampai di mansion miliknya. Memarkirkan mobilnya dengan sembarang lalu turun dan masuk ke dalam istananya dengan wajah yang memerah karena amarah.


Kamarnya lah sebagai tujuan utamanya, mencari Alisha di sana, yang ternyata Alisa tidak ada di kamarnya.


Braakkkk


Elvano membanting pintu dan berkeliling hanya untuk mencari keberadaannya. Yang dia lihat adalah Hito yang sedang mengatur para pelayan.


''Dimana dia?''


''Nona sedang di ruangan olahraga, Tuan.''


''Bubarkan semuanya! kosongkan sementara. Jangan ada pertanyaan!''

__ADS_1


Elvano pun berlalu lagi, ke ruangan yang disebutkan Hito tadi. Saat ia membuka pintu, benar saja Alisha memang berada di sana, dengan asisten pribadinya yang baru saja bekerja beberapa hari ini untuk menemaninya.


''Tuan?'' bibir Alisha mengembang, berlari menuju Elvano yang sedang tidak baik-baik saja.


''Keluar!'' usir Elvano pada wanita yang sejak tadi bersama Alisha.


Dan tinggallah mereka berdua disana. Alisha yang belum tahu kalau keadaannya sedang terancam, bersikap biasa saja, bahkan ia menatap Elvano dengan mata bundarnya.


''Ada apa?'' tanya Alisha yang menyadari garis wajah Elvano tidak seperti biasanya.


Elvano menatapnya dengan sangat tajam yang kemudian mencengkram tangan Alisha dan menariknya ke sofa yang ada disana lalu membantingnya dengan sangat kasar.


Alisha yang tidak mengerti tentu merasa takut, terlebih lagi raut wajah Elvano yang benar-benar menyeramkan. ''Sakit!'' Alisa meringis karena tubuh belakangnya terhantup ujung sofa.


Alisha sudah benar-benar gemetaran ia sangat takut. Dan ditambah Elvano yang saat ini tiba-tiba menindihnya. Tangan besar Elvano mencengkram kuat pipi Alisha sehingga bibirnya pun mengumpul di tengah.


Tidak! ini bukan Elvano yang seperti dia kenal, yang lembut, yang sayang padanya, yang selalu bersikap hangat padanya! saat ini yang menindihnya seperti monster wajahnya pun menyeramkan Alisha gemetar takut bahkan air matanya pun sudah mengalir deras.


''Tuan… kau kenapa? Apa salahku?''


''Jujurlah padaku! selama tiga hari kau bersama dengan Deva, kalian sudah berbuat apa saja?''


''Ti-tidak, kami tidak berbuat apa-ap—''


''Katakan Alisha!!!'' bentak Elvano.


''Katakan yang sejujurnya!''


''Aku berkata jujur…''


Mendengar jawab Alisha, rupanya bukan membuat amarah Elvano mereda, dia malah semakin marah bahkan tangannya semakin mengeratkan cengkramannya pada rahang Alisha.


''Tuan, sakitt… hiks hiks''


Alisha meringis, karena memang dia merasa kesakitan yang amat sangat.


''Sakit kau bilang?!'' Elvano masih menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah Alisha ini adalah musuhnya.


''Apa kau tetap tidak mau mengakuinya?'' Alisha menggeleng dengan sisah air matanya.


''Baik! ada satu cara untuk membuktikannya!'' Brekkkk


Elvano membuka paksa baju Alisha, hingga kancing-kancing bajunya pun terpental ke sembarang tempat, matanya melihat kacamata berwarna nude yang membungkus gumpalan daging yang terlihat sekal dan menggoda.


Alisha sudah benar-benar ketakutan, tangannya sudah membentuk silang pada dadanya, menatap penuh harap agar Elvano tidak berniat jauh dari itu.


''Dimana dia menyentuh mu? hah!'' Elvano menyingkirkan tangan Alisha dan melepaskan B-ra itu dari tempatnya, dan saat ini dia benar-benar sudah tidak lagi terkontrol, nafasnya memburu, apalagi melihat gumpalan daging yang sangat indah itu. Bahkan suara tangisan Alisha pun tidak ia pedulikan karena dikuasai amarah setan.


Alisha menggeleng cepat, memberontak tapi tetap saja tenaganya kalah oleh tenaga besar Elvano. Sekali lagi air matanya menetes berharap Elvano dapat berbelas kasih kepadanya, tapi tidak! air panas sudah benar-benar dipengaruhi amarah, yang entah apa sebabnya Alisha pun tidak mengerti.


Elvano melepaskan sabuk dari celananya lalu menanggalkan celana jeansnya yang dilemparkan ke sembarangan arah. dan kini hanya menyisakan celana dal-lam nya saja.


Alisha semakin dibuat ketakutan dia meringsut mundur, tapi tangan cepat Elvano menariknya sampai Alisa pun kembali terjatuh di atas sofa. Menggunakan tangan besar nya, Elvano kini sudah melepaskan bawahan Alisha.


Dan saat ini Alisa sudah tidak lagi menggunakan sehelai benang pun. Entah dimulai dari kapan Elvano sudah menancapkan rudalnya ke dalam lubang surgawi milik Alisha. Yang awalnya memang terasa sangat sulit dan akhirnya semua pun amblas.


Mata Elvano terbelalak karena melihat darah yang mengalir di tongkat saktinya saat ia angkat kembali keluar dari goa indah itu. Apa dia telah salah sangka? matanya naik ke wajah Alisha yang ternyata mata Alisha sudah banjir dengan air matanya.


Elvano benar-benar menyesal, diapun segera memeluk Alisha dengan erat, merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan. Terlebih lagi dia telah bersikap sangat kasar.


''Maafkan aku, aku salah, aku memang bodoh, hukum aku Alisha, hukum aku!''


Alisha tidak menjawab, ia hanya bisa menangis dengan tersedu-sedu. Rasanya sangat sakit diperlakukan seperti itu. Apalagi sebuah tuduhan yang tidak beralasan itu kepadanya.


''Aku bukan wanita seperti itu…'' lirih Alisha.


''Iya, iya. Aku salah, aku benar-benar minta maaf.'' Elvano terus memeluk Alisha. Merasa paling bodoh karena percaya begitu saja pada orang lain yang belum terbukti nyatanya.

__ADS_1


Dia sendiri yang meminta kepercayaan pada Alisha, tapi dia sendiri juga yang tidak mempercayai Alisha. Barulah ia menyesal dengan apa yang terjadi, yang kenyataannya ternyata Alisha benar-benar wanita yang suci dan tidak sama sekali tersentuh. Dan dengan bodohnya ia malah merusaknya dengan sangat kasar.


__ADS_2