
Mata Alisha mengerling sekilas, melihat kepergian pria yang dia sendiri tidak mengetahui motif di balik bantuannya. Tapi dia cukup berterima kasih dengan niat baiknya itu.
Seperti apa yang dikatakan pria bernama Deva itu, dia harus menunggu semuanya terlihat aman, dan seterusnya dua jam lamanya dan sudah menjadi santapan empuk para tentara nyamuk, Alisha pun memutuskan untuk menjalankan aksinya menuju pintu timur yang saat ini kuncinya telah berada di tangannya.
Sebuah pintu yang sepertinya sudah lama tidak di jamah oleh siapapun, karena terlihat dari material yang sudah usang dan berkarat, juga sudah ada tumbuhan yang menjalar di daun pintu itu.
Semula Alisha mengalami kesulitan saat memutar kunci nya , karena lubang kunci yang sudah berkarat dan itu faktor salasatunya. Tapi beberapa saat kemudian setelah ia berusaha lebih keras lagi, akhirnya pintu pun berhasil ia buka dan benar ternyata pintu itu menuju kesebuah jalanan yang di samping kiri kanannya adalah gedung yang tidak terpakai.
Berjalan dijalan yang benar-benar sepi tanpa alas kaki, karena sandal miliknya tertinggal di kamar tempat dia dikurung Elvano.
Bulu kuduknya berdiri, tengkuknya terasa dingin, matanya melirik penuh awas, sungguh jalanan seperti ini sangat mirip di drama horor yang pernah ia lihat di tv bibinya waktu didesa.
Berulang kali Alisha menoleh kebelakang, karena takut ada seseorang yang mengikutinya, tapi sejauh dia melangkah dia hanya seorang diri disana.
Hampir tiba ia di ujung jalan, yang terlihat terang mungkin saja karena lampu jalanan yang menyorot. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya karena merasakan sakit dan perih diarea telapak kaki yang ternyata ada sebilah kaca yang menancap disana sehingga membuat sobekan kecil namun dalam dan darah pun sudah keluar dengan kentalnya.
Dengan memberanikan diri, Alisha menarik kaca yang tertancap itu dan darah pun semakin banyak yang keluar. Tapi entah sudah terbiasa atau memang tidak ia rasa, Alisha pun kembali melangkah walaupun dengan tertatih.
Setibanya di ujung jalan yang ternyata dia langsung melihat jalanan raya yang tempat berlalu lalangnya para kendaraan, Alisha pun berniat menghentikan mobil yang melintas di sana namun karena penampilan Alisha yang berantakan, sehingga siapapun tidak ingin memberikan tumpangan, dan diapun menyadari itu.
Hampir putus asa karena tidak satupun mobil yang berhenti memberikan tumpangan. Alisha duduk di batu besar berniat melihat telapak kakinya yang semakin terasa sakit dan ternyata benar luka itu menganga lebar yang setau dia hanya robekan kecil.
Sebuah mobil berhenti tepat di depannya dan seorang pria keluar dari sana menghampiri Alisha yang memicingkan matanya.
Pria yang tadi memberikan kunci padanya lah yang saat ini berdiri didepannya. ''Tuan yang tadi-'' ucapnya menggantung karena pria itu sudah lebih dulu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
''Ya ini aku, pasti juga kamu lupa dengan nama ku kan, aku akan memperkenalkan sekali lagi nama ku. Aku Deva.'' Pria bernama Deva itu mengulurkan tangannya pada Alisha yang bahkan tidak menyambutnya.
''Kenapa kamu membantu ku?''
Bukan menyambut jabatan tangan Deva, Alisha malah memberikan pertanyaan padanya.
''Karena tempat itu bukanlah tempat yang baik, dan kamu tidak pantas disana.''
''Memangnya tempat itu kenapa? dan Elvano itu siapa?''
Deva tersenyum sesaat, lalu menjawabnya lagi, ''Kelak kamu pasti akan tahu Elvano itu siapa. Kalau begitu kau mau ikut denganku atau tidak? karena anak buah Elvano akan menemukan kita disini.''
Dengan keyakinan yang di kumpulkannya, Alisha pun terpaksa ikut dengan Deva, pria yang juga baru ia kenal.
Membukakan pintu untuk Alisha lalu menutupnya dan tersenyum dengan menarik sudut bibirnya.
Di mansion kekacauan sedang terjadi, karena Elvano yang mengamuk pada semua orang, bahkan sudah beberapa anak buahnya yang tewas karena Elvano melepaskan tembakan dengan membabi buta.
''Menjaga seorang gadis pun kalian tidak sanggup, dasar tidak berguna!!''
''Maafkan kami Tuan, tapi sepertinya saat kami cari tahu, dia melarikan diri-''
Bugh'
Belum juga anak buahnya menyelesaikan kalimatnya, Elvano kembali menghajarnya dengan sangat keras.
__ADS_1
''Siapa yang kau panggil 'dia'! hah!! panggil dia dengan sebutan Nyonya! karena dia adalah Nyonya kalian!''
''M-maaf Tuan. Saya salah.''
''Lanjutkan!''
''Sepertinya Nyonya melarikan diri bukan melalui jendela ataupun celah kamar mandi, tapi benar-benar melewati pintu dengan mudah.''
''Itu berarti-'' gumam Elvano. ''Siapa yang menjaga pintu kamar?!'' Teriak Elvano pada para anak buahnya.
Tidak satupun ada yang menjawabnya, dengan amarah yang masih membara Elvano pun berlalu pergi dari sana menuju sebuah ruangan monitor yang disanalah bisa melihat siapa saja yang masuk dan keluar dari mansion.
Matanya memicing ketika melihat seorang pria yang berdiri di depan pintu Alisha, dan secara diam-diam ia memasukan sebuah kunci lalu membukanya sedikit dan tidak berselang lama Alisha yang menyadari kalau pintunya terbuka, diapun melarikan diri dengan sangat mudahnya. Tapi ada yang membuat Elvano bingung karena sepanjang langkah Alisha, tidak ada satupun anak buahnya yang terlihat dari kamera monitor.
''Hoto!!!'' panggil Elvano dengan berteriak.
''Ya Tuan?!''
''Lihat! siapa dia?'' tunjuk Elvano pada layar monitor yang disanalah menunjukan seorang pria yang membuka pintu kamar Alisha seakan memberikan kesempatan agar Alisha dapat keluar dari sana.
''Dia? saya tidak mengenalnya Tuan. Dia bukan orang-orang yang biasa anda percayakan untuk berjaga disana,'' jelas Hito.
''Sial!! ternyata ada penyusup!''
Elvano baru menyadari bahwa seorang penyusup telah berhasil masuk ke dalam kerajaannya.
__ADS_1
Mata Elvano seketika mendelik. ''Alisha dalam bahaya! Cepat kerahkan semua anak buah untuk mencari Alisha, sekarang juga!!''
Hito pun mengangguk mengerti dan langsung pergi dari sana untuk menjalankan tugasnya yang langsung Elvano titah kan padanya.