
Dor! đź’Ą
“Keluar kau, Elvano!”
Suara tembakan menggema di luar hotel, sehingga membuat penghuni hotel tersebut ketakutan dan mulai meninggalkan gedung pencakar langit itu.
Elvano yang baru saja selesai mandi bersama dengan Alisha, mendengar jelas suara tembakan itu serta suara yang sangat ia kenal.
Matanya terpejam sesaat, menetralkan emosinya yang sudah tercampur menjadi satu dengan hawa nafsu setan.
“By? ada apa?!” tanya Alisha yang ikut panik karena mendengar suara letupan senjata api juga suara teriakan seorang pria.
“Kamu tunggu di kamar, jangan pernah keluar sebelum aku yang meminta. Mengerti?” Alisha mengangguk patuh, dan Elvano segera memakai baju dan celananya, lalu keluar dari kamar dan juga tidak lupa untuk mengunci pintu serta mengaktifkan fitur kedap suara pada kamarnya.
Langkah Elvano terhenti pada meja ruang tamu yang terdapat jasnya, ia mengambil pistol dari dalam saku jasnya lalu menaruhnya di saku celananya.
“Elvano!!” teriak orang itu sekali lagi.
“Bim, kau jangan seperti ini, kita bisa bicarakan baik-baik!” ucap Erik.
Ya orang itu adalah Bima. Entah karena apa, dia datang ke kamar Elvano dan mengamuk, yang di cegah terus oleh Erik, karena dia tidak ingin ada keributan di negara orang lain.
"Elvano!” Bima nampak seperti tidak menghiraukan ucapan Erik, ia terus berteriak, mengamuk sejadi-jadinya.
Klik'!
Pintu pun terbuka, Elvano berdiri dengan ekspresi yang datar namun mematikan. Tapi Bima tidak sama sekali takut dengan tatapan dan warna raut wajahnya.
“Brengsek! kau menyembunyikan ini dari ku!” bentak Bima yang langsung mencengkram erat baju tak berkerah Elvano.
Elvano tak bergeming, ia hanya menatap tajam tangan Bima yang mencengkram bajunya. Menyadari kalau Elvano tengah menahan emosi, Erik sudah lebih dulu menarik tangan Bima untuk lepas dari sana.
__ADS_1
“Bim, lepas!” bentak Erik.
Elvano melirik langit-langit lorong yang terlihat bolong karena tembakan Bima. Elvano sedikit menggedikan kepalanya pada Erik untuk membawa Bima kedalam unit dan Erik pun mengangguk samar.
Elvano berlalu masuk begitu saja tanpa berkata sepatah katapun.
“Dion, temui penanggung jawab tempat ini, berikan kompensasi yang dia inginkan, aku akan masuk dan kau menyusul lah!” ucap Erik pada Dion yang baru saja datang, dan Dion pun mengangguk mengerti dengan perintah Erik.
Erik masih memegangi lengan Bima, dia tidak ingin ada pertumpahan darah lagi antara sahabatnya. Sudah cukup hanya Boni yang hampir mati waktu itu. Dan dia tidak ingin terjadi lagi antara Elvano ketua geng mereka dengan Bima yang sifatnya hampir sama.
“Dimana dia?!” tanya Bima yang sedang menahan dirinya.
“Dia aman bersama ku,” sahut Elvano yang membuat Bima kembali naik pitam karena bukan itu jawaban yang dia inginkan.
“Kembalikan dia pada kami!”
“Ck, dia bukan barang, dia sudah menjadi nyonya George, dan dia sudah menjadi hak ku!”
“Cih!dia adikku!”
“Kau tahu El, ibuku hampir saja hilang akal karena kehilangannya, dan dari itu aku meminta, agar kau mengembalikannya pada kami dengan suka rela.”
“Sudah kukatakan, Bim. Dia bukan barang yang kapan pun bisa diambil dan dikembalikan ataupun dipinjam, karena aku mengetahui dia adalah adikmu ataupun anak dari keluarga Houten, baru tadi malam. Yang sebelumnya aku hanya tahu dia gadis kecil yang kehilangan arah dan aku membawanya dari jalanan lalu menikahinya secara resmi!”
Tegas Elvano, menjelaskan semuanya dengan rinci dan memang yang sebenarnya terjadi. Tapi Bima seakan menutup mata akan hal itu.
Ya, Bima adalah anak laki-laki dari keluarga Houten, dan Alisha adalah anak perempuan atau adik perempuannya yang hilang 18 tahun lalu, saat usia Bima masih 12 tahun. Di usia dini seperti itu, Bima harus menyaksikan kawarasan sang ibu di gempur habis karena hilangnya sang adik, dan sang ayah sampai sakit lalu meninggal dunia karena terpuruk dan merasa bersalah karena hilangnya Alisha.
Dan sekarang saat dia berhasil menemukan adik kecilnya, dia harus menghadapi kenyataan bahwa adik kecilnya telah menikah dengan pria kejam dan tak berperasaan seperti Elvano, juga pria Casanova yang dia kenal sejak dulu.
Apakah dia akan merasa ikhlas menyerahkan begitu saja adik kecilnya itu pada Elvano yang dia sangat tahu tabiatnya, walaupun memang Elvano adalah sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Bima tidak perduli walaupun Erik ataupun Dion mengatakan kalau Elvano sudah berubah menjadi lebih baik saat menikah dengan Alisha, karena yang dia tahu Elvano adalah pria bejat juga brengsekk.
“Dia adikku, dia masih mempunyai keluarga! dia anak perempuan keluarga Houten, Elvano!”
“Aku sangat tahu itu, Bim. Tapi apa kau bisa menjamin kalau kalian tidak akan memisahkan aku dengan istriku?”
Bima tersenyum kecut mendengarnya matanya memutar malas, gemeletuk gigi pun terdengar menandakan geramnya Bima pada ucapan Elvano.
“Biarkan aku mempertemukan dia dengan ibuku dulu, untuk jaminan yang kau pinta, bisa aku pikirkan. Dia berhak mengetahui keberadaan ibunya, El.”
Suara Bima melemah, karena dia benar-benar sangat ingin mempertemukan ibunya dengan adik perempuannya itu, walaupun memang ibunya sudah sembuh dari mental yang hancur. Tapi dia juga sangat tahu setiap hari sang Ibu merindukan anak perempuan tersayangnya itu, yang bahkan sudah berpuluh-puluh tumpukkan kain yang disulam atas nama Purnama, yaitu nama belakang Alisha sendiri.
Elvano mengusap wajahnya kasar. Dia juga sangat ingin mempertemukan Alisha dengan ibu kandungnya, dan dia tidak menyangka kalau ternyata Bima adalah keluarga asli dari Alisha. Yang dia khawatirkan adalah, Bima akan menjauhkan Alisha dengannya karena Bima tahu tabiatnya.
Dia benar-benar tidak sanggup jika harus berpisah dengan istrinya.
“Baiklah, jika seperti itu berikan waktu beberapa hari untuk di negara ini. Kau bisa menunggu sampai kami pulang, aku yang akan mengantarkan dia langsung kerumah mu.”
“Tapi—”
“Hanya beberapa hari, aku meminta waktu. Kau bisa menunggunya bertahun-tahun, bukan tidak mungkin kau bisa menunggunya untuk beberapa lagi kan?”
Elvano memotong kalimat Bima.
Erik menepuk pundak Bima, yang seolah-olah mengatakan, 'Turutilah ucapannya'. Bima mendengus kesal.
“Baiklah kalau begitu, aku percayakan padamu, jangan membuat kami menunggu dalam waktu lama lagi, El. Karena ibuku masih sangat mengharapkannya kembali kedalam pangkuannya.”
Elvano mengangguk, yang bahkan hatinya masih merasa resah, karena jawaban Bima yang terkesan masih ragu dan mengatakan akan memikirkan jaminan yang dia pinta.
Yang bisa saja Bima berubah pikiran, lalu mengambil langkah untuk menjauhkan Alisha dengan Elvano. dyan dia tidak mau hal itu terjadi.
__ADS_1
Bima berlalu pergi dengan matanya yang menatap satu pintu yang tertutup rapat di atas sana. Dia berharap Alisha keluar dari sana tapi tidak, pintu itu masih rapat seperti sebelumnya yang seakan tidak berpenghuni.
Dia sudah menemukan adik kecilnya, tapi kenapa masih ada dinding pembatas yang tebal menghalangi dia untuk membawa adik kecilnya itu ke dalam pangkuan sang ibunda.