Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Apa tidak merasakan apa-apa?


__ADS_3

Tangan Elvano menyentuh pipi Alisha dengan begitu lembutnya, namun entah kenapa tiba-tiba Alisha meringsut takut dengan diselingi sebuah gumaman lirih dari mulutnya.


''Ampun, jangan pukul aku!''


Elvano mendekatkan telinganya ke bibir Alisha, dan dia dapat mendengar jelas racauan Alisha yang menyayat hati itu.


Pukul? Elvano melihat tangannya yang terdapat noda darah di sana. Elvano berpikir sejenak, kenapa Alisha bisa mengigau kalau tidak ada sebabnya.


''Apa dia sebelumnya menjadi korban kekerasan?'' gumam Elvano.


Dia pikir Alisha sudah kembali tertidur tapi ternyata tidak! Alisha justru semakin menangis tersedu-sedu dalam tidurnya. Yang sudah di pastikan kalau Alisha saat ini tengah bermimpi buruk.


Dengan khawatir, Elvano pun membangunkan Alisha dengan cara menepuk pipinya beberapa kali dan ternyata berhasil. Alisha membuka matanya dengan air mata yang sudah banjir di pelipisnya.


Tanpa diduga, begitu Alisha terbangun tiba-tiba ia memeluk Elvano dengan sangat eratnya, tubuhnya gemetar dan Elvano sendiri tidak sama sekali merasa keberatan yang malah membalas pelukan itu dengan sangat lembutnya.


''Hei, tenang. Ada apa? katakan padaku?'' tanya Elvano yang seketika membuat Alisha tersadar dan menjauh dari Elvano dengan wajah yang memerah.


Elvano mengulurkan tangannya ingin mengusap kepala Alisha namun Alisha menghindar dengan cepat. Mengusap wajahnya yang basah dengan asal lalu menatap heran pada Elvano.


''Kamu mau apa, Tuan?''


Elvano menarik tangannya lagi, tersenyum dengan tipis dan menggeleng. ''Tidak, tadi aku melihatmu tertidur dengan menangis, apa baru sama bermimpi buruk?''


''Hah? tidak. Aku tidak bermimpi apapun.''


''Ya karena memang perjalan hidup ku selama ini seperti mimpi buruk,'' gumam Alisha dengan suara yang hampir tidak keluar.

__ADS_1


''Eh tunggu! wajah mu? wajah mu kenapa?'' tanya Alisha yang reflek memegang sudut bibir Elvano.


Ada sesuatu di sana, di hati Elvano juga jantungnya yang entah kenapa saat disentuh oleh Alisha dadanya terasa sesak tangannya seketika gemetar. Bukankah ini bukan pertama kalinya dia bersentuhan langsung dengan Alisha tapi kali ini sangatlah berbeda.


''Apa tuan habis bertengkar?'' tanya Alisha dengan suara seraknya.


''Tidak, ini tadi ada masalah sedikit.'' Kilah Elvano yang entah kenapa ia tidak mau berkata jujur pada Alisha.


''Ini harus segera di kompres, kalau tidak akan membekas dan bengkak.'' Alisha memperhatikan luka yang ada di wajah Elvano dengan sangat dekat sehingga membuatnya menahan nafasnya.


''El, ini bukan pertama kalinya kamu berdekatan dengan wanita, bahkan Alisha lah wanita yang kesekian kalinya ada didekat mu. Kontrol ayo kontrol. Jangan gugup!'' Elvano membatin.


Alisha tiba-tiba melompat dari ranjang dan Elvano segera meraih tangannya. ''Kau mau kemana?''


''Sebentar! aku kekamar mandi dulu.'' Alisha melepaskan tangan Elvano dan berlalu.


''Kemarilah! Tahan sebentar ya,'' dengan sangat telaten Alisha mengompres luka lebam yang ada di wajah Elvano. Posisi mereka sangatlah dekat, terlebih lagi Alisha yang mendekatkan wajahnya ke wajah Elvano.


Dengan susah payah Elvano menelan ludahnya sampai buah jakunnya pun bergerak naik turun di buatnya. Mata Elvano menatap bibir ranum milik Alisha. Jantungnya semakin berpacu cepat, hasratnya membara, sangat ingin merasakan bibir ranum milik Alisha. Tapi Elvano mengusir pikiran setan itu.


''Kau tau Tuan?''


Alisha memulia pembicaraan.


''Hemmm.''


''Dulu aku sering memiliki luka seperti ini. Tapi beruntung aku memiliki bibi yang sangat baik, dia selalu merawat ku dengan baik.''

__ADS_1


''Memiliki luka seperti ini? dari mana?''


''Ayah, dia selalu bersikap kasar padaku, tapi aku tidak marah padanya. Aku tetap menyayanginya walaupun ternyata mereka bukan orang tua kandung ku.'' Alisha bercerita bagaikan tidak memiliki beban yang seharusnya itu adalah cerita yang membuat dirinya bersedih.


''Tapi setelah aku tahu mereka bukan orang tuaku, aku mulai mengerti kenapa mereka bersikap seperti itu. Dan aku sangat membenci orang yang suka sekali melakukan kekerasan. Cukup aku saja yang menjadi korbannya, jangan sampai terjadi pada orang lain.''


Elvano sedikit tersentak, mendengar ucapan Alisha membuat nyalinya sedikit terganggu. Membenci orang yang suka melakukan kekerasan? Elvano merasa tertampar dengan penuturan Alisha.


''Kau membencinya?''


''Iya, aku sangat membencinya. Aku mengutuk mereka yang berbuat demikian. Karena menurut ku dia tidak seharusnya melakukan itu pada manusia bahkan pada hewan pun tidak boleh, kan?''


Elvano hanya mengangguk dengan keringat yang mulai bermunculan. Bagaimana jika Alisha tahu dialah orang yang seharusnya ia benci karena Elvano sudah sering menyiksa orang lain tanpa ada kata ampun.


''Dingin?'' Elvano tersentak dan sadar dari lamunannya.


Alisha tengah mengoleskan salep ke pipi dan rahangnya juga sudut bibirnya, tanpa ia sadari bibirnya tersenyum ketika melihat wajah Alisha begitu dekatnya.


''Kau tersenyum, Tuan?''


Elvano seketika mengembalikan raut wajahnya seperti semula. Setelan Pabrik!


''Kamu terlihat tampan jika tersenyum seperti tadi.''


Wajah Elvano sudah memerah mendengar ucapan Alisha yang mengandung pujian atau hanya kiasan. Tapi ekspresi Alisha saat mengatakan itu benar-benar datar tanpa melirik sedikitpun pada netra Elvano.


''Sudah!'' seru Alisha dan memundurkan posisinya, karena telah selesai mengobati luka memar Elvano.

__ADS_1


__ADS_2