Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Telinga yang Panas atau Hati?


__ADS_3

Keadaan di ruangan luas itu sangatlah ramai, para tamu yang memakai pakaian formal sedang berbincang-bincang dengan satu sama lainnya.


Alisha yang memaksakan diri untuk datang bersama Elvano menjadi pusat perhatian semua orang. Karena penampilan Alisha yang sangat cantik, dengan riasan wajah yang natural tapi malah semakin memperlihatkan kecantikan gadis 18 tahun itu.


“Tuan Goerge! apa ini istrimu? wanita yang menikah dengan mu beberapa hari lalu?” tanya seorang klien.


“Benar, dia wanita yang sama,” jawab Elvano dengan jelas.


Alisha yang melingkarkan tangannya di lengan Elvano hanya bisa tersenyum dengan ramah tapi itu malah membuat Elvano mendengus kesal.


“Kami tinggal dulu ya.” Elvano menyingkir dari kedua pria yang terus saja menatap Alisha dengan kagum itu dan tentunya membuat Elvano kesal.


“Al, jangan tersenyum pada pria lain. Aku tidak suka!”


Alisha menoleh, mengernyitkan keningnya. Apa Elvano tengah cemburu? lalu apa dia harus memasang wajah datar? tapi Alisha hanya bisa mengangguk karena sesungguhnya dia sedang menahan nyeri di bagian bawahnya, diantara pangkal pahanya.


“Kamu duduk disini dulu ya, aku ambilkan minum untukmu,” Elvano meraih pundak Alisha dan menyuruhnya untuk duduk di sebuah kursi yang sudah disediakan oleh panitia acara.


Sepeninggalannya Elvano, seorang pria menghampiri Alisha yang wajahnya tidak asing bagi gadis itu. Ya dia adalah Bima, Bima tersenyum dan mengangguk kecil pada Alisha yang membalas senyuman Bima.


Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Bima duduk begitu saja di kursi samping Alisha dan menawarkan minuman yang ada di tangannya, tapi Alisha tidak sama sekali berniat untuk langsung menerimanya.


“Apa kau takut? tenang aku Bima temannya Elvano.”


“Bukan begitu Tuan, tapi Elvano sedang mengambilkan minum untukku.”


Bima menganggukan kepalanya dan matanya seperti sedang mencari seseorang yaitu Elvano yang tidak ia lihat keberadaannya.


“Aku boleh bertanya?”


Bima memulai obrolan.


“Bertanya tentang apa ya, Tuan?”


“Apa kau benar berasal dari Desa bumi bakti?”


Alisha terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya setelah beberapa detik diam.

__ADS_1


“Dan bagaimana caranya kau berada di kota ini?”


Alisha menoleh dan kembali menundukkan kepalanya, mengingat di mana kejadian dia mengetahui, bahwa dia bukanlah anak kandung dari kedua orang yang selama ini tinggal bersamanya, sangatlah menyesakkan dadanya.


Bima yang merasa pertanyaannya membuat Alisha tersinggung langsung meminta maaf.


“Maaf Alisha, aku hanya ingin tahu saja.”


“Iya Tuan, tidak apa.”


Ekhemm!


Suara deheman terdengar dari arah samping kiri Alisha, yang membuat Alisha juga Bima menoleh dengan bersamaan pada suara itu berasal. Alisha tersenyum pada orang itu yang tak lain adalah Elvano yang tangannya memegang dua gelas jus untuknya dan untuk dia sendiri.


“Dimana Erik!”


Tanya Elvano pada Bima dan tangannya memberikan jus pada Alisha.


“Entahlah tadi dia datang bersamaku, tapi sepertinya dia sedang berbincang dengan pengusaha batubara itu.”


“Lalu kau sedang apa?”


“Kalau begitu pergilah! cari Erik dan beritahu dia kalau aku mencarinya!”


Bima mengangguk dan bangkit dari duduknya. “Aku tinggal ya.”


Alisha Mengangguk, entahlah ada apa dengan Bima. Tanpa rasa sungkan, dia malah berpamitan pada istri sahabatnya dengan sangat ramah dan lembut.


“Dia pria yang duduk dengan kalian di malam itu kan?” tanya Alisha dan di angguki Elvano.


“Kita pulang sekarang, aku tidak enak badan.”


Alisha tercengang, baru saja datang sudah akan pulang. Yang dia sendiri memaksa Alisha sebelumnya untuk ikut datang padanya dan sampai menyewakan sebuah perias artis untuk membuat Alisha cantik.


“Pulang? bukankah ini pertemuan penting kalian?”


“Iya, tapi biarkan saja. Ayo.”

__ADS_1


Elvano meraih tangan Alisha dan menggenggamnya dengan erat seolah-olah ingin memberi tahukan pada semua orang kalau gadis cantik ini adalah istrinya.


Elvano memilih untuk mengendarai mobilnya sendiri, ketimbang harus menyewa seorang sopir di negeri Maroko itu, karena dia hanya ingin bersama dengan Alisha tidak ingin ada orang lain di antara mereka berdua walaupun hanya seorang sopir sekalipun.


Mengendarai mobil dengan sangat hati-hati yang pada sejak tadi hanya diam begitu juga dengan Alisha.


Alasannya untuk pergi dari pertemuan penting itu yang mengajak Alisha untuk pulang, itu semua hanya bullshit karena nyatanya mood Elvano yang tiba-tiba memburuk dan Bima lah biang keroknya, bagi Elvano.


di persimpangan jalan yang seharusnya mengambil jalur sebelah kiri tapi dia malah mengambil jalur sebelah kanan yang akan menuju ke sebuah tempat yang beberapa menit kemudian telah sampai di bibir pantai dengan deburan ombak yang membuat hati siapapun tenang.


Agadir, Kota pesisir di Maroko dengan pantai bulan sabit yang luas.


“Hubby?”


Suara manis Alisha selalu terdengar menggelitik telinga.


“Hmmm?”


“Bukankah tadi kamu mengatakan akan kembali ke hotel karena sakit kepala, tapi kenapa malah datang ke sini?”


“Entahlah, aku sangat ingin melihat pantai. Ayo keluar.”


Alisha menganggukan kepalanya dan keluar dari mobil begitu juga dengan Elvano.


Tapi saat Elvano keluar dan berjalan ke pinggir pantai seorang gadis berlari ke arahnya dan langsung memeluk juga mencium Elvano tepat di depan hidung dan mata Alisha.


“George Mi manchi !”


(“George aku merindukanmu!”)


Suara manja Gadis itu terdengar sangat mendayu-dayu di telinga Alisha yang merasakan panas. Meski Alisa tidak mengerti bahasa yang digunakan gadis itu tapi hatinya tidak bisa berbohong dia merasa sedih melihat Elvano yang dicium oleh wanita lain tepat di depan matanya.


“Dove sei stato. Ti sto cercando, George !”


(“Kemana saja kamu, aku mencarimu, George !”)


Ucapnya lagi dengan manja yang masih memerlukan sama dengan begitu mesra.

__ADS_1


“By?”


__ADS_2