Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Menghukum Diri Sendiri


__ADS_3

Seharian penuh Alisha maupun Elvano saling mengurung diri. Alisa yang benar-benar merasa hancur karena mahkotanya direbut paksa oleh seorang pria yang bahkan dia belum tahu perasaannya terhadap dia. Dan Elvano merasa sangat bodoh! merasa sangat paling brengsek karena telah merusak kepercayaan dan merusak mahkota wanitanya sendiri dengan nafsu setan.


Elvano mengurung diri di sebuah ruangan yang sangat gelap, dan ada sebuah benda khusus yang dia ambil dari ruangan bawah tanah, benda itu seperti robot pencambuk. Dia berdiri diantara dua tiang dengan tangan yang diikat keatas, menahan rasa sakit karena sebuah cambukan dari robot tersebut, ya itulah yang dia mau, menghukum dirinya sendiri karena kesalahan yang menurutnya sangatlah fatal.


Cetasss Cetasss Cetasss


suara cambukan itu terdengar sampai keluar ruangan, Hito dan Erik dan saat ini mereka sedang berada di depan ruangan tersebut, terdiam dengan kepala yang tertunduk, membayangkan apa yang saat ini Elvano rasakan yaitu dicambuk dengan sangat keras oleh sebuah robot yang didesain khusus untuk menghukum seseorang.


Erik sangat merasa bersalah karena tidak berhasil mencegah Elvano untuk berbuat hal demikian, pada Alisha. Sehingga sahabatnya itu terpuruk karena rasa bersalah.


''Kau sudah bertemu dengan Alisha?'' tanya Erik pada Hito.


''Belum Tuan, karena dari kemarin Nona Alisa mengurung diri, dan tidak mau ada siapapun yang masuk ke kamarnya.''


Terdengar dari helaan nafas Erik yang panjang. Karena dia juga paham akan perasaan Alisha yang ternyata menjadi korban kesalahpahaman dan fitnah dari Deva, yang memang sengaja bicara seperti itu karena niat nya untuk menghancurkan Elvano.


Dia juga merasa iba pada gadis yang tidak berdosa itu, walaupun memang dia tidak menyukai Alisha, namun tetap saja Alisha memang tidak salah.


''Biar aku yang akan mencoba menemuinya,'' ucap Erik setelah terdiam sesaat. Hito mengangguk samar dan memberikan sebuah kunci pada Erik.


Erik melirik pintu yang tertutup itu, yang di mana masih terdengar suara cambukan yang menyayat telinga, kemudian dia pun berlalu pergi menuju kamar Alisha yang ada di lantai dua.


Dia tahu akan sulit untuk mengajak bicara Alisa karena mungkin saja gadis itu mengalami trauma yang berat karena Elvano, tapi dia juga tidak ingin berdiam diri, menyaksikan sahabat dan gadis itu saling menghancurkan dirinya.


Perlahan Erik mengetuk pintu Alisha tapi tidak ada suara yang menyahut dari dalam. ''Alisha! ini aku Erik. Aku ingin bicara padamu, aku masuk ya!''


Erik bicara dengan sedikit berteriak, karena dia tahu kamar Alisha, tidak mudah menembus suara.

__ADS_1


Erik pun membuka knop pintu setelah memutar kunci yang diberikan oleh Hito padanya. Erik tidak langsung masuk ke dalam, dia sedikit melongok, dan keadaan kamar itu memang sangat gelap dan bahkan hanya sinar matahari yang menembus tirailah sebagai cahaya.


Matanya melihat seseorang yang duduk di tepi ranjang membelakanginya, tanpa melakukan apapun di sana. Perlahan Erik melangkah namun tidak mendekat, ia memilih menjaga jarak beberapa meter dari Alisha, karena berjaga-jaga takut gadis itu masih trauma dengan kehadiran seorang pria di dekatnya.


''Lis? aku tau kamu pasti kecewa dengan Elvano. Tapi percayalah, Elvano tidak bermaksud begitu.''


Erik melihat Alisha yang sedikit menggerakkan kepalanya dengan mata yang melirik ke samping.


''Dan ini juga kesalahanku, karena tidak berhasil menghentikan Elvano. Dia seperti itu karena sebuah alasan, yaitu Deva yang mengatakan kalau kalian sudah tidur bersama saat di pulau itu.''


''Awal aku pun sama, terkejut mendengarnya tapi berbeda dengan Elvano yang langsung naik pitam saat mendengar omong kosong dari Deva. Karena Elvano dan aku sangat berbeda, aku yang menganggap kamu benalu. Dan Elvano menganggap kamu adalah miliknya, yang tentu saja dia pasti akan marah saat mendengar, ternyata miliknya sudah berhubungan dengan pria lain.''


''Tapi kenapa dia langsung percaya, dan enggak tanya aku kebenarannya.'' suara Alisha terdengar sangat dingin.


''iya itu seperti yang aku katakan tadi, karena dia merasa marah dan kau pasti mengerti jika seseorang itu sedang marah tidak ada yang bisa menahan ataupun memberikan pengertian. Semua akan di anggap berdusta kalau tidak ia ketahui sendiri kenyataannya.''


''Aku tidak membenarkan perbuatan Elvano, tapi dengan begitu dia bisa ambil sebuah pelajaran dari perbuatannya, kalau harus berpikir pakai hati tidak dengan emosi.''


''Cobalah bicara pada Elvano, karena saat ini dia sedang menghukum dirinya sendiri.''


''Aku tidak mau peduli lagi.''


''Apa kau yakin? Kalau kau benar yakin maka bersiaplah, kau akan menjadi janda sebelum adanya pernikahan.''


Erik melangkah pergi namun belum sampai ke pintu Alisha kembali bertanya.


''Apa maksud Anda?''

__ADS_1


''lihatlah sendiri, elvano sedang menghukum kesalahannya sendiri di kamar 304. Dengan sebuah robot yang didesain khusus untuk mencambuk para penghianat, dan bahkan kalau misal cambukan itu terlalu lama dan keras tidak menutup kemungkinan, Elvano akan tiada secara perlahan.''


Alisha tidak menjawab lagi dan Erik pun keluar dari kamar itu dengan wajah murung, karena tidak berhasil membujuk Alisha.


Air mata Alisha menetes dengan sendirinya, mendengar ucapan Erik yang mengatakan kalau elvano saat ini sedang mencambuki dirinya sendiri. Hatinya pun merasa sakit, tapi dia harus apa! Bahkan dia belum siap untuk bertemu dengan Elvano karena kejadian malam itu.


Alisa turun dari ranjang dan berjalan ke arah jendela lalu membukanya, samar-samar telinganya mendengar suara yang membuatnya bergidik ngeri.Ya suara itu adalah suara cambukan. Yang dia tahu betul suara cambukan itu seperti apa, karena dulu dia kerap di cambuk oleh sabuk ayahnya karena telat menyuguhkan segelas kopi di pagi hari.


''Apa itu Tuan Vano?''


Alisa menutup kembali jendelanya dan duduk di ranjangnya lagi. Dia tidak ingin mendengar apapun dulu yang bersangkutan pada Elvano karena mentalnya belum sepenuhnya pulih. Tapi kenapa perasaannya tidak enak, bahkan mendengar suara cambukan yang menyayat telinga itu, sampai menusuk ke relung hatinya.


Kiran pun memutuskan untuk keluar kamar dan menuju ruangan yang Erik sebutkan tadi. Dia melihat di sana sudah ada beberapa penjaga, ada juga Erik dan Hito di sana yang sedang berdiri di depan pintu. Dia juga melihat Erik yang berusaha memanggil-manggil nama Elvano dengan raut wajah yang panik.


''Tuan Erik?''


Kiran memanggil dengan wajah dan suara yang datar, Erik menoleh dan langsung menghampiri Alisha.


''Akhirnya kau berubah pikiran, dengarlah suara itu bukankah sangat menyakitkan. Aku mohon dengan sangat padamu, hentikan dia!''


Alisha melirik ke beberapa pria di depannya dan Erik langsung memahami apa maksud dari lirikan itu.


''Kalian! menyingkir lah dan lanjutkan pekerjaan masing-masing, jika aku membutuhkan kalian, aku aku akan memanggil kalian!''


Semua pun tertunduk hormat dan membubarkan diri.


''Alisha, aku tahu kau gadis yang baik, jadi kumohon hentikan dia. Aku akan menunggu di luar.''

__ADS_1


__ADS_2