Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)

Wanita Milik Tuan Mafia (Cinta Alisha)
Hapus Jejaknya


__ADS_3

Elvano meraih knop pintu dan membukanya dengan perlahan, melihat setiap sudut ruangan yang ternyata Alisha tidak ada di sana.


"Kemana dia?" gumam Elvano yang duduk di sofa ruang santai.


Membuka sepatu dan melonggarkan dasinya, ia membanting tubuhnya di sandaran sofa. Ucapan Erik benar-benar terus menghantuinya.


"Keluarga Houten? apa ini alasan dia terus mendekati Alisha?" gumam Elvano dengan kepala yang mengadah ke atas.


"Apa sebelumnya dia sudah mengetahui semuanya?" lanjutnya yang masih bermonolog sendiri.


"Ck, sial! apa aku harus memanggilnya kakak ipar?"


Elvano mengusap wajahnya dengan kasar, ia merasa risau memikirkan keluarga Alisha yang baru ia ketahui.


Dan pada saat ia membuka matanya, ada seorang wanita yang berdiri di depannya yang tentu membuat dia terjingkat kaget.


"Astaga! Al, kau mengejutkanku!"


"Mandilah dulu," ucap Alisha tanpa menggubris ucapan Elvano sebelumnya.


Dengan ekspresi yang datar, Alisha berniat berbalik dan akan pergi dari sana. Namun dia kalah cepat dari tangan Elvano yang sudah menarik lengannya sehingga membuat Alisha terjatuh di pangkuan Elvano.


"Kau masih marah, hmm?"


"Tidak!" Alisha mencoba melepaskan diri dari cekalan tangan Elvano yang bahkan tidak sama sekali erat.


"Benarkah? tapi kenapa kamu menekuk wajah mu begitu?"


"Aku hanya lelah," elaknya.


"Lelah? mau aku pijat? plus-plus," bisik Elvano langsung ketelinga Alisha yang membuat gadis 18 tahun itu bergidik geli dibuatnya.


"By… geli!"


"Geli? benarkah, kalau begitu, begini saja."

__ADS_1


Elvano memutar tubuh Alisha dengan cara mengangkatnya dari tangannya yang menyelip di dua bawah lengannya, dan hangat satu kali gerakan Alisha sudah berubah posisi menjadi menghadapnya.


"Dia teman kencan ku dulu. Kami tidak memiliki hubungan khusus ataupun seperti sepasang kekasih, dia datang karena aku panggil dan dia pergi setelah aku perintahkan yang sebelumnya sudah ku berikan apa yang dia mau," beber Elvano mengatakan semuanya tentang Clarissa tanpa di tanya, Clarissa wanita yang tadi mereka jumpai di pantai.


"Tapi tadi dia menciummu… ." Alisha memainkan jari telunjuknya di dada bidang Elvano dengan bibirnya yang di manyunkan.


Elvano menangkap jari telunjuknya, dan mengecupnya dengan bibirnya yang tebal, "Kalau begitu hapus."


"Hah?" alis Alisha terangkat sebelah.


Elvano mengangguk, dan menyentuh bibirnya sendiri dengan menggunakan jari telunjuk Alisha.


"Hapus jejaknya, dengan bibir mu," ucapnya kemudian.


"Bolehkah?"


"Tentu!"


Alisha perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Elvano, dengan ragu ia mengecup bibir Elvano dengan mata yang terpejam. Hanya mengecup tidak lebih, karena setelah itu ia akan melepaskan bibirnya dan menjauh.


Tapi lagi-lagi ia kalah cepat karena Elvano sudah menahan tengkuk lehernya dan memperdalam pagutannya sampai keduanya saling bertukar saliva.


"Eennghh…!" Alisha mengerang, merasakan sensasi permainan tangan Elvano pada buah kembarnya secara bergantian.


Entah kenapa dia pun merasa candu dengan permainan sensasional Elvano kepadanya, semua yang dilakukan Elvano pada tubuhnya membuat dia semakin terus ingin merasakannya. Setiap waktu.


Yang bahkan saat ini tangannya juga sudah berada di belakang kepala Elvano dan menjambak pelan rambut Elvano agar memperdalam lagi pagutannya.


Tidak puas tangannya hanya bermain di luar baju Alisha, Elvano justru menurunkan lengan baju Alisha sehingga membuat pundak sampai lengan terpampang jelas, juga dengan brra yang berwarna merah terang yang kontras dengan kulitnya yang bersih.


Memillin, menarik, meremmas. Semua gerakan Elvano lakukan pada buah melon mungil Alisha. Bibirnya ia turunkan ke leher dan telinga Alisha, menyapu pada daun telinga Alisha dan bahkan menggigitnya kecil sehingga membuat Alisha men-desah tidak karuan.


"By…"


"Hmmm?"

__ADS_1


Elvano menyahut dengan mulut yang penuh dengan buah ceri yang menempel indah di buah dada Alisha.


"Gigit…"


Elvano menahan senyumnya matanya melirik ke atas, tepatnya ke wajah Alisha yang kini sedang menikmati permainan lid-dahnya dan bahkan matanya terpejam dengan erat.


Elvano menuruti kemauan Alisha, mengigit pelan buah ceri merah mudanya yang menghasilkan suara yang tertahan dari Alisha.


'Hmmmppp!'


Alisha menggelinjang keenakan, kepalanya mendongak keatas, dengan menggigit bibirnya sendiri. Elvano yang melihat itu langsung mengambil tindakan, melahap lagi bibir Alisha agar tidak terluka karena giginya sendiri.


"Jangan seperti itu, bagaimana jika bibir mu terluka!" ucap Elvano setelah mengambil jeda sebentar.


"Lain kali kamu bisa menghibur pundakku, atau tarik rambutku, hmm?" Alisha mengangguk dengan pipi yang memerah.


"Kalau begitu, kita mandi oke?"


"Kita?"


"Ya kita, kita berdua akan mandi bersama!"


"By!!"


Alisha berteriak karena kaget, ya karena saat ini tubuhnya sudah melayang karena Elvano membopongnya menuju kamar mereka.


*


Di tempat lain, tepatnya di negara lain.


Seorang ibu yang rambutnya sudah sebagian memutih namun masih terlihat cantik dan modis sedang menyibukkan dirinya dengan sebuah sulaman tangan yang sudah tertanam dengan indah disana.


Purnama. Ya sulaman itu menulis dengan indah dengan nama Purnama.


Lusi Houten, wanita paru baya yang memiliki banyak anak perusahaan, hasil dari sebuah warisan mendiang suaminya.

__ADS_1


Memiliki dua anak, anak pertamanya seorang laki-laki yang selalu menjadi kebanggaannya. Walaupun memang ia tahu kalau kehidupan anak lelakinya itu terkesan sangat bebas namun anaknya adalah pria yang bertanggung jawab.


Dan anak perempuannya, ia bahkan tidak tahu anaknya berada dimana, karena sejak 18 tahun lalu, ia telah kehilangan anak perempuannya disaat ia sedang menghadiri sebuah acara penyuluhan di desa bumi bakti. Yang sampai saat ini pun ia tidak tahu anaknya masih hidup atau sudah tiada.


__ADS_2