
"Anda mau bawa saya kemana? Berhenti tuan!" Ayara berteriak dari dalam mobil yang dikemudikan oleh Cakra dalam keadaan yang sangat cepat.
Tanpa menghiraukan apa yang dikatakan oleh Ayara, Cakra terus memacu kecepatan mobilnya. Dengan tatapan tajam, Cakra mencengkram kuat setir mobilnya.
"Tuan hentikan!" Ayara terus berteriak.
Cakra tidak menghiruakan apa yang dilakukan oleh Ayara, dirinya kini begitu tersulut akan rasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Hentikan! Atau aku akan loncat!" Ancam Ayara yang sudah kehabisan akal.
Hal tersebut tidak mengubah apa yang terjadi, Cakra tersenyum sinis mendengar apa yang akan dilakukan oleh wanita disampingnya ini.
" Silahkan saja, apa kau bisa membukanya." Karena Cakra tahu, jika mobilnya berbeda dari mobil biasanya.
Tangan Ayara mencari tempat untuk membuka pintu mobil tersebut, namun ia tidak menemukannya. Ia terus berusaha mencari dan mencarinya, namun sepertinya usaha itu gagal. Kini tanggisan itu pecah, Ayara hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sedangkan Cakra, ia hanya bisa tersenyum penuh kemenangan. Disaat melihat tanggisan itu begitu menyakitkan dirinya, menghela nafas beratnya dan menepikan laju kendaraannya.
"Jangan menanggis, aku tidak akan berbuat macam-macam." Usaha membuat Ayara agar berhenti menangis.
Tapi tidak bagi Ayara, dirinya seperti sedang dipermainkan oleh pria yang selalu membuatnya tersudutkan. Ia menyadari jika dirinya harus segera keluar dan menjauh dari pria itu.
"Tolong, buka pintunya." Suara berat Ayara terdengar sangat pilu.
Suara itu membuat Cakra kaget dan ia langsung menatap Ayara yang masih tertunduk menutup wajah, segera ia membuka safety beltnya. Keluar dari mobil dan berputar membuka pintu mobil dimana Ayara berada.
"Kamu tidak apa-apa? Hei, jangan menanggis." Cakra sedikit berlutut disisi Ayara, terlihat jelas diwajahhya jika ia begitu khawatir.
__ADS_1
"Aku ingin pulang, tolong anda menyingkirlah." Pinta Ayara dengan menghapus jejak air mata diwajahnya.
"Bisakah kamu itu mendengarkan aku sekali ini saja, hah! Harus seperti apa lagi aku harus membuktikannya padamu, Ayara?!" Mengusap wajahnya dengan kasar, Cakra membuang pandangannya agar tidak terlihat begitu emosi.
"Tidak ada yang harus dibuktikan, tuan. Semuanya sudah jelas, Permisi." Ayara sedikit mendorong tubuh Cakra agar ia bisa beranjak dari sana.
Bukan Cakra jika harus diam, tangan kokoh itu menahan lengan Ayara dengan sangat kuat. Tanpa ia sadari, jika dirinya telah memeluk Ayara. Mendapatkan perlakuan seperti itu, membuat Ayara kaget dan meresponnya dengan memberontak.
Menggunakan seluruh tenaga yang ia punya, Ayara terus berusaha agar bisa terlepas dari Cakra. Namun seketika kekuatannya itu menghilang, saat mendengar suara yang tidak biasa dari Cakra.
"Harus seperti apa lagi aku menjelaskan padamu, Ayara. Aku menyukaimu, aku mencintaimu. " Suara bergetar berasalah dari Cakra yang menaruh kepalanya pada pundak Ayara.
Perkataan itu sudah tidak asing lagi untuk Ayara dengar, akan tetapi hatinya terbiasa dengan hal tersebut. Dan untuk hasilnya, Ayara masih tetap dalam pendiriannya.
"Ayara, kau mendengarkanku tidak hah!" Cakra menarik dirinya dan menatap Ayara.
Mendapati jawaban tersebut, kembali lagi emosi itu tersulut. Menghela nafas beratnya, kedua telapak tangan kekar itu mengepal dengan sangat kuat. Terlihat dari urat-urat pada tangan tersebut yang begitu jelas, Cakra berdiri dan membelakangi Ayara.
"Aaaarkh!" Teriakan Cakra yang begitu keras, melepas semua tekanan didalam dadanya.
Begitu pun pada Ayara, tubuhnya bergetar mendengar teriakan tersebut. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat itu, selain hanya diam. Tiba-tiba saja Cakra sudah menghempaskan pintu mobil disamping Ayara, lalu ia segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan yang sangat tidak terkendali.
Ingin rasanya Ayara berteriak dan memukul kepala pria pemaksa disampingnya dengan sangat keras, karena sikap pria itu sudah membuat dirinya ketakutan.
Sepanjang perjalanan, Ayara hanya terdiam. Begitu juga dengan Cakra, tidak ada percakapan apapun dari mereka berdua. Mobil tersebut melaju dengan cepat menuju rumah pamannya, entah darimana Cakra mengetahui alamatnya. Namun Ayara berpikir, untuk seorang seperti Cakra adalah hal yang sangat mudah.
"Terima kasih tuan." Ucap Ayara saat mobil tersebut telah berhenti didepan rumah sang paman, dan pintu disampingnya telah terbuka.
__ADS_1
Masih dalam diamnya, tidak ada respon apapun yang diberikan Cakra. Membuat Ayara harus berlapang dada dengan semuanya ini, ia turun dari mobil dan menutup pintunya kembali.
Mobil itu langsung berjalan menjauh, setelah Ayara turun dan pintu mobilnya tertutup. Air mata menetes dari kedua sudut mata Ayara, dimana ia menyadari jika hal tersebut memang harus terjadi. Ia cukup sadar diri untuk tidak terlibat dengan perasaan tersebut.
Semoga tuan bertemu dengan seseorang yang benar-benar tepat dan sepadan untuk menjadi orang tersebut.
Langkah kaki Ayara masuk ke dalam rumah, ia segera menuju dapur untuk mengambil air minum. Disaat gelas yang sudah terima penuh itu siapa untuk membasahi tenggorokannya, seketika tubuhnya terdorong kedepan.
Brukh!!
"Rupanya ni anak sudah mulai kelihatan aslinya ya, pintar juga kamu mencari mangsa." Perkatan ketus itu keluar dari mulut manis Elina, yang terlebih dulu mendorong Ayara.
Sementara itu, Ayara meringgis menahan rasa sakit pada tubuhnya. Tubuh mungil itu bangkit dan berlalu begitu saja dari hadapan sepupunya, jika harus mengikuti hatinya. Rasanya Ayara ingin sekali menendang Elina untuk membalas perlakuannya, namun itu tidka ia lakukan.
"Hei tungg! Dasar ja***ng tidak tahu diri kamu ya, malu-maluin sekali." Lagi-lagi Elina membuat Ayara kesal.
Mendengar suara keributan tersebut, membuat Rosa dan suaminya menghampiri. Dengan kesempatan itu, Elina langsung melempar gelas yang sebelumnya telah berisikan air milik Ayara.
Pyaar!!
Tubuh Ayara sontak saja kaget dan tertunduk, lemparan itu tepat mengenai kepala bagian samping. Tanpa rasa bersalah, Elina terus memaki-maki Ayara dengan berbagai tuduhan atas apa yang tidak ia ketahui kebenarannya.
"Aku malu sekali mempunyai sepupu seperti dirimu, Ayara." Ketus Elina.
"Kamu ya! Dasar anak tidak tahu diri, sudah bagus kami menampungmu disini. Tapi kamu membuat nama baik keluarga kami tercoreng, iya!" Rosa ikut menghakimi Ayara dengan memukulkan benda-benda yang berada didapur secara brutal.
"Ampun bi, itu tidak benar."
__ADS_1