Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.45


__ADS_3

Beberapa saat berlalu, Matteo masih melakukan tugasnya untuk melihat kondisi Cakra saat itu. Ia pun merasa seperti ada yang tidak baik, lalu dengan alat yang ia bawa. Serangkaian pemeriksaan ia lakukan, untuk hasilnya membuat kepalanya menggeleng.


"Ada apa?" Damendra memecah kesunyian.


"Aku tidak yakin kak, untuk baiknya. Kita bawa Cakra ke rumah sakit, disana banyak alat-alat yang membantu." Jelas Matteo sambil melepaskan stetoskop dari telinganya.


"Jangan, lebih baik Cakra dirawat di mansion saja. Bawa alat-alat yang kau sebutkan itu kesini, aku tidak ingin membuat peluang untuk mereka." Kalimat tegas dari seorang Damendra membuat semua orang yang berada disana kaget dengan keputusan tersebut.


"Sayang, apa maksudnya ini?" Yuri memang belum mengetahui apa yang dipikirkan oleh suaminya itu.


"Nanti akan aku ceritakan, kamu urus saja perlengkapan yang dibutuhkan oleh Cakra disini. Situasikan ruangan ini menjadi rumah sakit, Pedro. Kamu urus yang lainnya, jangan sampai semuanya kecolongan." Ujar Damendra yang nampak begitu serius mengatakan hal tersebut.


Tanpa menunggu lama, Matteo mengerjakan apa yang menjadi tugasnya. Ia mengerti akan maksud dari perkataan kakak iparnya itu, sedangkan Pedro pun sama. Namun kali ini ia sedikit ragu, karena keberadaan Ayara telah diketahui oleh orang yang menargetkan Cakra saat ini.


Sebelum pergi, Pedro menarik Ayara untuk mengajaknya berbicara berdua. Hal itu membuat para sahabatnya bertanya-tanya akan sikapnya, karena situasi saat ini benar-benar sudah membuatnya tidak tenang.


"Ada apa kak?" Ayara yang bingung untuk sikap Pedro kali ini.


"Hal penting untukmu dan kita semuanya, tapi ini lebih menitik beratkan padamu Ayara. Dan kalian, aku minta untuk fokus pada tujuan utama yang sebelumnya. Untuk Ayara, akan menjadi tanggung jawab ku." Tegas Pedro dengan menatap Ayara.


"Tunggu, sebenarnya ini ada masalah apa bang?" Dzacky yang memang belum mengetahui apapun mengenai masalah yang ada.


Lagi-lagi Pedro dihadapkan dengan orang yang begitu menjengkelkan, rasanya ia sangat begitu ingin mengutuk Dzacky menjadi orang yang jenius. Bila perlu tanpa menjelaskan apapun padanya, dia akan mengetahuinya.


Membuang rasa egonya, Pedro perlahan menjelaskan semuanya hingga tidak terlewatkan sedikitpun agar Dzacky mengerti. Lalu mereka membubarkan diri, tentunya Ayara akan kembali ke dalam ruangan dimana Cakra berada.


"Untuk sementara, lebih baik kamu berada disini. Jangan pergi tanpa sepengetahuan yang lainnya, kamu mengerti Ayara?"


"Iya kak, semoga semuanya ini bisa terlewati dengan baik." Seketika itu Pedro meraih Ayara, ia mengeratkan kedua tangannya karena melihat mata itu sudah mengembun.

__ADS_1


"Kakak tidak akan membiarkanmu terluka atau tersakiti sedikitpun, tolong jaga dirimu baik-baik. Kau adalah adikku, Ayara." Pedro melepaskan tangannya.


"Terima kasih kak." Menghapus aliran airmata diwajahnya, lalu Yaara tersenyum melepas Pedro pergi.


Saat ia kembali ke dalam ruangan tersebut, menatap pria yang kini terbaring lemah disana. Hatinya terasa sakit, apalagi ditambah pandangannya keadaan Yuri dan Damendra. Sangat terlihat jika mereka menahan semua rasa perih atas semua yang terjadi, bahkan Damendra sudah terlihat sangat tidak ceria.


"Mom, daddy. Lebih baik kalian istirahat saja, akan terasa segar jika sudah beristirahat." Senyum Ayara menghampiri Yuri.


"Nak, mommy memang lelah. Tapi..."


"Benar apa yang Ayara katakan, lebih baik kita beristirahat sejenak. Biarkan mereka mempersiapkan semuanya, dan kamu juga istirahat nak." Damendra meminta Ayara juga seperti mereka.


"Aku akan beristirahat disini dad, tidak apa-apakan?"


Mengusap-usap puncak kepala Ayara dengan perlahan, Damendra memahami akan ucapan tersebut. Maka dari itu, mereka memberikan ruang untuk Ayara.


Perlengkapan medis dengan sangat cepat berdatangan, Matteo segera memfungsikan semuanya agar bisa memberikan penanganan pada Cakra.


Di tempat yang berbeda, Eliza sedang mengamati beberapa berkas yang ia dapatkan dari ruangan Cakra.


"Ini! Aku hanya mendapatkan ini diruangannya, coba kau teliti." Eliza melemparkan berkas yang ia dapatkan kepada seseorang yang ia ajak bertemu.


Orang tersebut adalah Yoshi Jazztin, seorang pimpinan dari klan dunia bawah yang menjadi tempat pelatihan Eliza selama ini. Bahkan karenanya juga, Eliza hingga saat ini masih berada dibawah kendali orang tersebut.


Pria itu dengan begitu teliti mengamati berkas-berkas yang didapatkan oleh Eliza, berulang kali ini mencoba memeriksa berkas tersebut. Lalu dengan sekuat tenaga ia merobek berkas yang berada ditangannya, hal tersebut membuat Eliza menjadi kaget.


"Hei! Kenapa kau merobeknya? Aku sudah bersusah payah mendapatkan itu semuanya. Kau malah merobeknya seperti ini." Bernada ketus dan emosi, Eliza benar-benar tidak menyangka jika Yoshi melakukannya.


Plak!

__ADS_1


Satu tamparan mendarat pada pipi Eliza, karena kuatnya tenaga yang digunakan. Membuat pipi tersebut menjadi merah kehitaman, yang dimana membuat pemiliknya menjadi limbung dan terhempaskan ke lantai.


"Beraninya kau berteriak dihadapanku! Bahkan nyawamu saat ini bisa aku lenyapkan dengan mudah, dasar wanita bo**h!" Yoshi meluapkan emosinya pada Eliza.


"Kau tahu, berkas ini tidak ada arti apa-apa. Percuma saja aku menyuruhmu, dasar tidak berguna." Lagi-lagi Yoshi meluapkan kekesalannya dengan menarik rambut panjang milik Eliza, sehingga wanita itu berteriak kesakitan.


"Lepaskan! Lepaskan Yoshi, ini menyakitkan." Teriakan itu begitu lantang dan memilukan.


"Akrh! Kau sudah membuatku marah, Eliza. Bahkan untuk mendapatkan berkas-berkas itu saja kau tidak becus, dasar wanita sialan!" Yoshi menghempaskan tangannya dan membuat Eliza meraung kesakitan.


Isakan tangis terdengar semakin keras, Eliza merasakan sakit yang sangat luar biasa pada bagian kepalanya. Seakan-akan rambut kepalanya itu akan terlepas dari dirinya, benar-benar sakit dan perih.


"Kalian! Bawa wanita ini menjauh, aku sudah muak dengan kebod**nnya." Yoshi menyuruh beberapa bawahannya untuk membawa Eliza pergi.


"Tunggu, Yoshi. Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini, aku sudah membantumu. Mana aku tahu jika berkas itu palsu. Berikan aku kesempatan lagi untuk mendapatkannya, Cakra sudah hancur. Yoshi tolong." Eliza terus memberontak saat dua orang bawahan Yoshi membawanya menjauh.


"Heh, kau kira aku bod**h sepertimu. Bawa dia!" Tolak Yoshi.


"Cakra lumpuh, di sudah tidak dapat berbuat apa-apa. Aku tidak membohongimu, kau bisa mendapatkan semuanya. Lepaskan aku." Teriak Eliza yang terus memberontak.


"Tunggu! Kau tadi bilang apa?" Yoshi menahan agar Eliza menjelaskan padanya.


"Lepaskan aku!" Pinta Eliza yang sudah tidak nyaman.


Memberikan kode menggunakan tangannya pada bawahannya untuk melepaskan Eliza, lalu wanita itu lalu mendekati Yoshi. Merapikan penampilannya yang sudah acak-acakan, lalu Eliza memberitahukan apa yang ia ketahui mengenai keadaan dari orang tersebut.


"Jangan khawatir, aku sudah memberikannya dalam dosis yang sangat besar. Kita tunggu saja, apakah dia bertahan atau lenyap tanpa perlawanan." Ucap Eliza yang begitu yakin akan apa yang sudah ia lakukan.


"Aku pegang ucapanmu, jika itu tidak terbukti. Maka nyawamu akan langsung aku lenyapkan, jangan pernah bermain-main denganku." Ancaman dari Yoshi benar-benar menakutkan.

__ADS_1


__ADS_2