Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC. 52


__ADS_3

"Maaf, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk ini." Wanita tersebut menarik tangannya yang menggenggam berkas dan berbalik ingin menjauh.


Sementara, Ayara masih terdiam dibalik tubuh Pedro. Melihat hal tersebut, Ayara langsung menahan langkah wanita tersebut. Cukup kaget ketika Ayara seketika menghalangi lajunya, wanita itu dengan cepat menghapus jejak air mata diwajahnya.


"Tunggu kak, tidak baik pergi dalam keadaan seperti ini. Mari, kita duduk dulu." Ayara menyambut tangan wanita tersebut dan tersenyum.


Dengan keberanian yang Ayara lakukan, membuat Pedro kaget dan merasa sedikit geram. Ia tidak suka jika Ayara mendekati wanita tersebut, namun semuanya sudah terlambat. Karena Ayara sudah duduk bersamanya dan mereka terlihat seperti sudah saling mengenal saja, hal tersebut membuat Pedro harus membuang nafas beratnya.


Dari tempatnya, wanita yang Ayara ajak untuk duduk bersama. Dia adalah wanita dari masa lalu Pedro, jalinan pertemanan yang berlanjut menjadi semakin dekat. Akan tetapi semuanya serba begitu saja, saat Pedro menyatakan perasaannya dan mendapatkan penolakan karena dirinya seseorang dari kalangan atas dan juga berkecimpung dalam dunia hitam.


Rasa sakit yang Pedro rasakan, membuat ia memilih menjauh dan melupakan wanita tersebut. Menyibukkan diri dengan bekerja dan bisnisnya, membuat ia sedikit melupakannya, namun takdir membawa mereka bertemu kembali.


"Perkenalkan, Ayara. Kakak?" Ayar membuka percakapannya.


"Aina Mardiyah, panggil Aina saja." Jawaban yang begitu halus terdengar.


"Maaf sebelumnya kak, jika tidak berkenan juga tidak apa-apa. Ada persoalan apa kakak dengan kak Pedro? Mungkin aku bisa membantu." Ayara ingin mengetahui maksud dari pertemuannya ini.


"Tidak ada apa-apa, maaf jika sudah membuat kalian repot."


Nampak sekali ada guratan keraguan untuk berbicara dari raut wajah Aina, hal itu dapat Ayara simpulkan setelah mereka berdua saling bertatap muka. Walaupun Aina lebih banyak menundukkan kepalanya, dengan perlahan Ayara menggenggam tangan wanita itu dengan penuh kelembutan.


"Katakan saja kak, kita adalah saudara. Walaupun bukan dari darah yang sama, anggap saja aku sebagai adikmu. Seperti kak Pedro menganggapku." Ayara memberikan pengertian pada Aina jika ia dan Pedro tidak ada hubungan serius selain sebagai kakak dan adik.

__ADS_1


Tidak ada jawaban yang Aina berikan, ia masih tetap tertunduk dengan menggenggam berkas yang dibawanya pada salah satu tangannya yang lain. Sedikit egois, Ayara mengambil alih berkas tersebut dari tangan Aina. Berkas tersebut sempat tertahan, karena Aina tidak ingin melanjutkan tujuannya dari bertemu dengan Pedro saat itu. Namun bukan Ayara jika tidak bisa mengalihkan perhatian.


Setelah berkas tersebut berada ditangan Ayara, ia segera membuka dan membaca berkas tersebut. Cukup lama ia terfokuskan untuk memahami berkas itu, lalu ia melirik Pedro yang masih terdiam berdiri kaku didekatnya.


"Kak Pedro, sini." Ayara menepuk tempat duduk pada sisi sampingnya yang kosong, menyuruh Pedro untuk duduk.


Penolakan adalah jawabannya, melalui berbagai jurus yang ada. Pada akhirnya membuat Pedro luluh, mereka kini duduk bertiga dan Ayara sebagai pembatas dari keduanya.


Menyodorkan berkas tersebut untuk Pedro dalami, butuh sedikit paksaan hingga pria itu menerimanya. Hanya sebentar raut wajah itu berubah menjadi tegang, namun segera berubah kembali menjadi datar dan dingin. Ia mengembalikan berkas tersebut kepada Ayara, berdiri dan menjauh dari kedua wanita itu.


"Huh, sikapnya sangat parah daripada tuan Cakra." Keluh Ayara yang melihat sikap Pedro.


Aina menarik nafas panjangnya dan melepaskannya dengan sangat berat, air mata kembali lolos dari kedua matanya. Memalingkan wajah agar tidak terlihat begitu lemah, Aina menguatkan diri di atas segalanya.


"Kak."


Ayara berjongkok dihadapan Aina yang semakin tertunduk, tangannya ikut bergetar. Ayara mengambil ponsel dari tangannya, membaca pesan singkat yang baru saja diterima.


"Kak, ayo." Ayara menarik tangan Aina dan mengajaknya menuju mobil milik Pedro.


"Ayara, ada apa?" Panik Pedro yang mendapati Ayara berlari menghampiri mobilnya.


"Kak, kita kerumah sakit sekarang. Cepat!" Nada ucapan yang cukup tinggi, membuat Pedro kaget.

__ADS_1


"Ayara, biar aku saja. Kalian lanjutkan saja kegiatan yang ada, terima kasih." Aina yang menyadari jika Ayara ingin membantunya.


"Tidak, kak Pedro ayo!"


Karena mendapatkan sikap Ayara yang cukup panik, Pedro pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Kepanikan menyerang Aina saat itu, namun ia terlihat tetap tenang dengan lantunan dzikir yang ia lafazkan. Gerakan bibirnya memberitahukan semuanya, walau air mata yang lolos itu menandakan jika dirinya tidak baik-baik saja. Kedua telapak tangannya saling bertautan, seperti sedang mencoba menenangkan diri.


Tiba ditujuan, Aina segera keluar begitu saja dari mobil tersebut. Langkahnya begitu cepat menuju suatu ruangan, langkahnya melambat saat akan memasuki ruangan yang mereka tuju. Banyak terdapat perawat dan salah satu dokter yang masih melakukan penanganan terhadap pasiennya, seorang gadis belia menggunakan hijab yang sama dengan Aina segera memeluknya.


Tanggisan pun pecah dari gadis tersebut yang sudah berada dalam pelukan Aina, Ayara dan Pedro yang mengikuti dari arah belakang ikut kaget. Dokter tersebut berjalan mendekati Aina dan gadis tersebut, mengucapkan beberapa kata yang berakhir dengan teriakan histeris dari gadis tersebut.


Tatapan penuh pertanyaan terlihat dari wajah Pedro kala itu, ia memberanikan diri menanyakan penyebab yang paling membuat mereka berakhir dirumah sakit pada Ayara.


"Ayara!" Sapaan tegas dari Pedro.


"Kita terlambat kak, ibunya kak Aina telah tiada." Jawab Ayara yang mengetahui jawaban dari kepanikan Aina untuk bertemu dengan Pedro dan juga isi pesan singkat yang sempat ia baca dari ponsel Aina sebelumnya.


Wajah Pedro seketika menjadi dingin dan memperlihatkan kemarahan yang tertahankan, dimana Ayara menceritakan isi pesan tersebut pada Pedro. Keduanya memberanikan diri untuk masuk dan mendekati Aina, terlihat jika wanita dalam balutan hijab besar itu begitu tenang. Menguatkan gadis yang sedang menanggis dalam pelukannya, yang tak lain adalah sang adik.


Para perawat dan dokter memberikan ruang untuk keluarga pasien meluapkan perasaannya, mereka kini berhadapan dengan tubuh yang sudah tertutupi selembar kain putih pada seluruh tubuhnya.


"Kak, ibu. Ibu kak, ibu pergi." Tanggisan pilu memenuhi ruangan tersebut.


"Ssth, jangan menanggis seperti ini. Lihat, ibu sudah tidak tidak sakit lagi. Semuanya ini sudah menjadi takdirNYA untuk ibu dan kita semua, ikhlaskan ibu ya." Aina mengusap bahu sang adik untuk saling menguatkan satu sama lain.

__ADS_1


"Jika kita punya uang, ibu pasti bisa sembuh. Kenapa semuanya ini tidak adil kak, ibu bangun. Jangan pergi, ibu." Tanggisan itu membuat Ayara dan Pedro terdiam.


__ADS_2