Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.31


__ADS_3

"Diam kau bre***ek! Jangan coba-coba untuk memperlihatkan lagi wajahmu dihadapanku!" Teriak Cakra dengan berang kepada seorang wanita yang berada dihadapannya.


Begitu geramnya sampai ia harus memukul sebuah meja yang tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan yang ada, meja itu retak dan hampir terbelah menjadi dua. Rasa sesak yang ia rasakan begitu sakit, luka yang sudah tertutup dan sembuh. Kini harus terbuka kembali dengan kondisi yang sangat parah.


Pertemuan yang tidak sengaja terjadi, membuat mereka kembali bertemu. Usaha yang dilakukan Cakra pun sangat keras agar tidak bertemu apalagi bertatapan dengan wanita tersebut, namun apa mau dikata jika masih ada ruang kecil di dalam hati Cakra menyimpan rasa.


Perjalan bisnisnya ke negara Kanada, membawa luka tersebut kembali. Emry dan Jhony yang ikut serta dalam perjalanan bisnis tersebut, harus bersiaga menjaga Cakra.


"Tunggu Cakra, maafkan aku. Maafkan aku, itu semuanya bukan karena kemauanku. Aku terpaksa melakukannya, aku takut membuatmu terluka jika tahu penyebabnya." Dengan bercerai air mata, wanita tersebut mencoba memberikan alasan.


"Diam! Pergilah dari sini, aku benar-benar muak denganmu." Cakra Menepuk-nepuk dadanya yang terasa begitu sesak.


Baik Jhony dan Emry intinya memisahkan mereka berdua, namun disana bukankah daerah kekuasaan mereka. Karena wanita itu datang bersama beberapa orang yang cukup menyeramkan, seperti orang penting yang dijaga oleh bodyguard.


"Tapi aku masih mencintaimu, Cakra. Aku berjuang keras untuk ini semuanya, sampai akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Kenapa kau sangat berubah padaku! Aku begitu mencintaimu dan merelakan semuanya." Bentak wanita tersebut dengan terus mendekati Cakra.


Lalu wanita itu meraih pundak Cakra dan bermaksud untuk memeluknya, namun sayangnya. Cakra terlebih dahulu membalikkan tubuhnya dan menatapnya dengan sangat tajam, kedua matanya sudah memerah menahan semua kemarahannya selama ini.


"Jangan pernah menyentuhku! Pergi, pergi dari hadapanku!!" Kemarahan Cakra akhirnya terlepas.


Tangan wanita itu seakan tidak mau terlepas dari bahu Cakra, entah apa yanh ada di dalam pikiran Cakra saat itu. Ia sudah begitu kalut dan kemudian dengan satu kali hentakkan, tubuh wanita tersebut terhempas begitu kuat ke lantai.

__ADS_1


"Arkh!" Teriakan yang cukup keras.


Menahan semua amarahnya selama ini, membuat Cakra menjadi seperti orang lain. Mendengar dan melihat wanita itu terhempas dan tidak bergerak, kedua mata Cakra menatapnya dengan penuh ketakutan serta khawatir.


"Liza!" Dengan tubuh sedikit terhuyung, Cakra mendekati wanita tersebut.


Beberapa orang berbaju hitam itu hampir saja mengamankan Cakra, karena dirinya sudah melakukan kekerasan pada wanita itu. Akan tetapi, hal itu mereka urungkan. Cukup aneh, seharusnya mereka bekerja dengan baik.


Dan Emry, ia ingin memukul kepala Cakra dengan keras. Karena sahabatnya itu, seolah-olah tidak bisa belajar dari pengalamannya terdahulu. Melihat Emry yang emosi, Jhony tidak dapat berbuat apa-apa.


"Liza, liza bangun. Liza!" Cakra meraih tubuh wanita tersebut dan meletakkan kepalanya pada lengannya.


Kedua mata wanita itu tertutup, berulang kali Cakra memanggil namanya dan menepuk-nepuk pipinya agar membuka mata. Hingga beberapa saat kemudian, kedua mata tertutup itu mulai terbuka.


"Cakra, maafkan aku." Lirih Eliza seolah-olah seperti menahan rasa sakit.


"Liza, kamu tidak apa-apakan? Kita kerumah sakit sekarang." Terlihat jelas jika Cakra saat itu begitu khawatirnya.


"Aku tidak apa-apa." Eliza langsung memeluk tubuh Cakra dan itu pun tidak mendapatkan penolakan.


Dalam hal tersebut, membuat Eliza tersenyum penuh kemenangan. Ia tahu jika Cakra masih sangat mencintainya, dan itu ia jadikan sebagai salah satu kekuatan untuk kembali memasuki kehidupan Cakra.

__ADS_1


Keduanya lalu duduk bersama, melupakan kejadian yang cukup menegangkan sebelumnya. Dalam keadaan tersebut, Emry memilih pergi dari sana dan di ikuti oleh Jhony. Betapa marahnya Emry saat itu, namun ia tidak ingin membuat keributan ditempat tersebut yang merupakan negara orang.


"Sial! Kenapa wanita itu ada disini, dasar ular!" Gerutu Emry yang sedang meluapkan rasa emosi dari dalam dirinya.


Jhony tidak bisa membantu apa-apa, ia hanya diam dan mengikuti langkah kemana Emry pergi. Karena dirinya tidak terlalu mengetahui mengenai permasalahan yang ada, ia hanya bekerja sesuai tugasnya. Apalagi dengan usia yang masih cukup muda, dimana Jhony mengantikan ayahnya yang sudah berumur untuk bekerja di keluarga Damendra. Dan ia mendapat pekerjaan sebagai supir pribadi Cakra, karena jika terus melibatkan Emry. Maka akan banyak pekerjaan yang terbengkalai.


Tak lama kemudian, ponsel milik Emry bergetar. Disaat dirinya melihat layar ponsel miliknya, raut wajah Emry langsung berubah menjadi tegang.


"Apalagi ini, oh no!" Emry langsung menjambak rambutnya yang sudah terlihat berantakan.


Sebuah nama yang sangat ia takutkan, dia adalah Damendra. Situasi kini semakin membuat Emry tidak bisa bernafas, jika orang tua itu sudah menghubunginya. Sudah pasti dapat disimpulkan, bahwa peristiwa saat ini sudah diketahui oleh Damendra. Memiliki seseorang yang begitu luar biasa dalam pekerjaannya, membuat Damendra akan selalu selangkah lebih dulu dari orang lain.


"Ya paman." Mau tidak mau, Emry harus menerima panggilan telfon tersebut, menyisakan rasa kekesalan yang luar biasa tertahankan.


"Tinggalkan saja anak itu, kau tidak perlu menemaninya lagi. Pulanglah ke negara kita, akan kita lihat seberapa jauh wanita itu bertindak. Ajak Jhony sekalian, tidak perlu diketahui oleh anak batu bo**h itu. Ah satu lagi, akan aku kirimkan pesanan untuk kau dan Jhony bawa pulang. Karena istri dan calon menantuku disini sangat berarti dibandingkan dia." Pembicaraan terhentikan.


Benar-benar menakutkan jika harus berbicara serta berhadapan dengan seorang Damendra, bahkan buku kuduk Emry sudah menegang.


Ting!


Deretan kalimat melalui aplikasi pesan begitu panjang, bahkan Emry sempat tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia pun menunjukkan pesan tersebut kepada Jhony, respon yang serupa juga diberikan Jhony ketika membacanya.

__ADS_1


"Sulthan mau dilawan, ya lewat bos." Ujar Jhony dengan kepasrahan.


Meninggalkan tempat tersebut tanpa memperdulikam Cakra disana, mereka berdua segera melaksanakan titah dari tuan besar Damendra. Karena semuanya berpengaruh untuk kehidupan mereka ke depannya, jika tidak. Tamatlah riwayat pekerjaan dan hidup mereka di tangan Damendra, sebelum bernafas lega. Mereka harus menyelesaikan pesanan tersebut, dan langsung kembali ke negaranya. Saat semuanya telah selesai, pesawat pribadi milik Damendra telah menunggu mereka untuk mengudara.


__ADS_2