
Setelah mendapatkan berita tersebut, ke empat pria tersebut mempercepat laju kendaraannya menuju mansion utama keluarga Damendra.
Mereka langsung menuju kamar Cakra, dimana disana sudah ada Yuri dan juga Damendra. Sedangkan Matteo dan Emry, mereka berdua sedang mempersiapkan ruangan tersebut seperti dahulu lagi. Tanpa benda apapun, sehingga memperkecil kemungkinan untuk kejadian yang tidak terduga.
Benar saja dengan perkiraan tersebut, baru saja mereka menginjakkan kakinya mereka dikamar itu. Cakra meluapkan segala emosinya, dimana sebelumnya tempat tersebut sudah dipersiapkan jika kemungkinan seperti ini akan terjadi.
"Dimana Eliza? Dimana dia?" Tiba-tiba saja Cakra terbangun dan mencari orang yang ia sebutkan.
"Tenang nak, kami harus sehat terlebih dahulu." Yuri berada disisi Cakra dan berusaha untuk menenangkannya.
"Tidak mom, aku takut jika dia akan pergi lagi seperti dulu. Dimana ponselku?" Mata Cakra seperti sedang mencari keberadaan dari benda pipih itu.
Diberitahukan keadaan Cakra kala itu, Matteo segera kembali ke ruangam tersebut. Mengetahui apa yang dipinta oleh keponakannya itu, ia menganggukan kepalanya. Disaat benda itu sudah berada ditangan sang pemilik, dengan cepat ia menghubungi orang yang dicarinya.
Beberapa kali ia coba, tidak ada respon dari orang yang ia hubungi. Dan terakhir ketika ia menghubungi, barulah mendapatkan respon.
"Halo baby, kamu dimana?" Dengan wajah sedikit panik, Cakra memastikan keberadaan dari wanita yang katanya sangat dicintainya.
Mereka berdua saling berbicara dengan sangat serius, bahkan orang lain yang berada disana seperti dianggap sebagai angin saja oleh Cakra. Matteo mengisyaratkan untuk yang lainnya agar keluar dari kamar itu, membiarkan Cakra melepaskan semua apa yang menganjal pada dirinya.
"Paman, kenapa kita semuanya harus keluar seperti ini? Apa itu tidak akan membuat Cakra didalam bertindak yang aneh-aneh." Tanya Eliot yang meragukan kondisi Cakra, ketika dibiarkan sendirian.
"Untuk saat ini, kondisi emosinya bisa naik turun. Yang kita khawatirkan itu adalah, disaat dia tidak bisa mengendalikan rasa kekhawatirannya secara berlebihan. Lagian juga, kenapa wanita itu bisa kembali ke dalam hidup anak batu ini. Ah, membuatku harus pusing seperti ini lagi." Keluh Matteo dengan situasi yang ada.
Plak!!
"Aduh, kenapa memukulku." Matteo berteriak saat Yuri mendeplak kepalanya.
"Jangan pernah menyebut anak batu untuk anakku ya, itu sama saja kau sudah mengatai kakakmu ini sebagai batu juga. Dasar kau ya, kurang ajar sekali." Ketus Yuri yang meluapkan kekesalannya pada sang adik.
__ADS_1
"Iya iya, maafkan aku. Kakak ipar, bagaimana tindakanmu?" Matteo beralih pada Damendra yang sedari tadi masih diam saja.
Dalam diamnya, tanpa mereka ketahui jika dirinya sudah mulai mengambil langkah terlebih dahulu. Untuk saat ini, ia menggunakan kekuatan dari Pedro yang mempunyai akses tertentu. Tidak ingin terlalu menonjol jika ia sudah mengantisipasi kejadian tersebut, karena akan berisiko sangat besar untuk kedepannya.
"Lakukan saja seperti biasanya, untuk selebihnya akan aku atasi. Terutama untuk wanita itu, biarkan saja perlahan-lahan Cakra mengetahui sisi lain darinya." Damendra memisahkan diri dari semuanya.
Semua orang mengetahui jika seorang Damendra sudah bergerak, maka tidak akan ada yang namanya gagal. Terkecuali jika hal itu sudah berhubungan dengan keluarga serta orang-orang yang ia sayangi, bahkan nyawanya ia relakan untuk keselamatan mereka.
.
.
.
.
"Non Ayara, kami berdua izin mau berbelanja ke pusat kota. Karena kebutuhan kita sudah hampir habis." Fia menghampiri Ayara yang sedang berada di taman belakang rumah, dimana disana terdapat beberapa pohon buah-buahan yang sedang lebatnya dan siap panen.
"Kalian kesananya naik apa? Aku boleh ikut?" Ayara merasa bosan berada disana tanpa melakukan aktivitas apapun.
Damendra dan Yuri melarang keras untuk Ayara beraktivitas yang berlebihan, bahkan pernah Ayara membantu Fia dan Atun untuk membersihkan halaman rumah. Damendra langsung datang kesana dengan wajah masam serta dingin, namun ketika bertemu dengan Ayara malah ia menjadi luluh. Walaupun hal itu terjadi, ia tetap menegaskan pada Ayara mengenai larangan yang ia berikan.
"Non, coba ditanyakan dahulu pada tuan besar. Takutnya nanti seperti dulu, non." Fia mengingatkan Ayara.
Pipi Ayara mengembangkan lalu bibirnya terbuka sedikit untuk membuang udara dari mulutnya, ia pun menghubungi Damendra untuk meminta izin. Walaupun terkesan segan, namun ia sudah merasa bosan. Menghubungi berulang-ulang tanpa respon, Ayara beralih menghubungi Yuri.
"Mom, boleh ya." Sedikit bernada merayu dan manja, untuk mendapatkan izin.
"Baiklah, tapi ketika sudah selesai segera pulang. Para pria itu sedang rapat besar bersama, jadinya tidak bisa menemanimu kali ini. Tetap hati-hati ya nak." Terkesan melarang namun tidak bisa menolak.
__ADS_1
Yuri turut merasakan apa yang kini Ayara alami, bagaimana tidak bosan berada ditempat yang cukup terpencil. Jauh dari keramaian dan tanpa melakukan hal apapun, siapa pun akan merasa bosan.
"Terima kasih mom." Ayara pun bergegas bersama keduanya menuju pusat kota.
Menggunakan kendaraan mobil yang telah disediakan disana bersama dengan supirnya, mereka pun menuju tempat yang akan dikunjungi. Sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar untuk ukuran kota tersebut, mereka berbelanja semua kebutuhan yang akan dipergunakan disana. Tak terasa setelah tiga jam lamanya berbelanja, hingga memutuskan berisitirahat untuk mengisi tenaga yang telah terkuras habis dengan memesan makanan disebuah restoran cepat saji.
Tak lupa mereka mengajak sang supir untuk mengisi tenaga bersama, ternyata disana sedang ada kunjungan dari pemilik bangunan besar tersebut. Dengan pengawalan yang cukup banyak, menjadi pusat perhatian semua orang.
"Ada apa tu, kok rame banget?" Atun melihat kerumunan disana.
"Palingan kunjungan dari yang punya gedung, mereka selalu rutin berkunjung untuk memeriksa dan menarik para pengunjung disini. Tapi, wajahnya tak kalah tampan dari tuan-tuan six kita." Supir mereka bernama Wawan menjelaskan pada mereka.
Seketika mereka bertiga membuka mulut membentuk huruf O, lalu kembali melanjutkan aktivitas makannya. Mereka tidak ingin terlalu memikirkan hal tersebut, setelah selesai mengisi tenaga. Semuanya bermaksud kembali menuju mobil mereka, namun disaat akan mencapai kendaraannya.
"Ayara!" Suara keras terdengar memanggil.
Sontak saja itu membuat Ayara dan yang lainnya mencari pemilik suara, saat mereka mendapati orang tersebut. Dengan santainya orang itu menambahkan tangannya dan berlarian kecil untuk menghampiri mereka.
"Leo! Kamu ada disini juga." Ayara yang kaget mendapati keberadaan itu.
"Iya, sedang ada kunjungan sedikit. Kamu sendiri?"
"Berbelanja keperluan untuk dirumah..."
Belum selesai berbicara, Atun sudah tidak sabar untuk menyelamatkan pembicaraan dari mereka berdua.
"Jadi, tuan adalah pemilik gedung ini?!" Atun melebarkan kedua bola matanya, seakan ia merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Leo sedikit tertawa mendengar ucapan dari Atun lalu menganggukan kepalanya, sebenarnya ia tidak ingin terlalu dikenal oleh orang-orang disana. Namun kunjungannya selalu menjadi pusat perhatian banyak orang, mau tidak mau membuat dirinya dikenal oleh orang banyak.
__ADS_1