Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.36


__ADS_3

"'Tuan! Tuan!" Panik Jhony melihat keadaan Cakra yang mengerang.


"Aku tidak apa-apa, lanjutkan saja." Jawaban lirih itu begitu menyakitkan.


"Tapi tuan..." Ucapan itu terhenti.


"Diamlah Jhon, turuti saja apa kataku." Bernada tinggi, membuat siapapun yang mendengarnya menjadi kaget.


Tidak ingin memperkeruh suasana saat itu, Jhony mengikuti apa yang di ucapkan oleh tuannya. Melajukan laju kendaraannya hingga sampai ke perusahaan, tampak sekali jika Cakra sedang menahan rasa sakit. Mempercepat langkahnya menuju ruangannya, setibanya disana ia langsung masuk ke dalam kamar pribadinya.


Menghilangnya Cakra dari hadapannya, membuat Jhony pergi mencari keberadaan Emry. Namun orang tersebut tidak dapat ia temui, lalu ia menghubunginya melalui ponsel pintarnya.


"Kamu dimana?" Tanya Jhony dengan bernada panik.


"Aku baru saja menemui klien, ada apa?" Emry yang baru selesai menghantarkan kliennya dan memisahkan diri.


"Tuan merasa sakit di bagian kepalanya, aku menawarkan untuk membawanya ke rumah sakit. Tapi dia menolaknya." Jelas Jhony dengan terbata-bata.


Dalam keheningan, Emry seakan merasakan ada sesuatu yang menghantam kepalanya dengan sangat kuat. Bahkan ia nyaris tak bernafas saat mendengar hal tersebut, teringat akan kejadian beberapa tahun sebelumnya.


"Jangan biarkan dia sendirian, kamu masuk ke dalam ruangannya. Pastikan keadaannya tidak apa-apa, jika nampak keanehan. Cepatnya kamu kabari aku, aku akan menelfon paman Matteo." Bergegas Emry mengambil langkah untuk segera kembali ke perusahaan.


"Baiklah."


Jhony pun dengan begitu cepat berlari menuju ruangan Cakra, sedangkan Emry. Ia kini dalam perjalanan yang dimana laju kendaraan yang ia gunakan melaju begitu cepat, apa yang ia rasakan begitu tidak enak.


Saat tiba di ruangan milik Cakra, Jhony segera masuk. Di lihatnya di ruangan tersebut tidak ada sosok yang ia cari, langkahnya beralih menuju ruangan pribadi. Pintunya terkunci dari dalam, hal tersebut membuat Jhony segera memastikan keadaan dari tuannya.


Tok tok tok.


" Tuan, apa anda di dalam?"

__ADS_1


Tok tok tok.


"Tuan!"


Mengulangi hingga beberapa kali, namun tetap saja tidak ada balasan dari dalam ruangan tersebut. Kembali ia menghubungi Emry dan memberitahukan mengenai apa yang ia dapatkan.


"Dobrak saja pintunya, sekarang!" Teriak Emry yang seperti sedang begitu panik.


Tanpa menunggu lama, Jhony melaksakan apa yang diperintahkan oleh Emry padanya. Dengan menggunakan bahunya, ia mendobrak pintu tersebut. Berulang kali ia coba, tidak berhasil juga. Karena pintu tersebut dipesan khusus dan menggunakan bahan yang terbaik.


"Aduh! Patah juga ni bahu kalau dipaksakan." Mengusap-usap bahunya yang sudah terasa begitu sakit, Jhony mencari cara lain untuk membuka pintu tersebut.


Beberapa saat ia berpikir mencari cara, untuk mendapatkan kunci duplicatnya ruangan tersebut adalah hal yang tidak mungkin. Karena kuncinya hanya ada satu, menggunakan sidik jari dari pemiliknya.


Kembali lagi ia mencoba untuk mengetuk pintu tersebut, tapi masih tetap juga gagal karena tidak ada jawaban dari dalam kamar itu.


Brakh!


"Bagaimana?!" Emry hadir dengan ekpresi wajah yang begitu panik.


"Kenapa tidak kau dobrak saja pintunya!" Lagi-lagi Emry diserang panik.


"G**la! Kamu saja yang mendobrak, lah pintunya saja begitu." Tunjuk Jhony memperlihatkan pintu ruangan tersebut.


Menepuk keningnya sendiri, Emry menghela nafasnya dengan cepat dan berulang kali. Lalu ia mengambil ponsel miliknya, setelah beberapa saat lalu ia menekan tombol-tombol yang menempel pada tuas disana.


Klik!!


"Ya Tuhan, kenapa tidak dari tadi pe'a'! Eeee, aku tendang juga kamu Emry!" Jhony menyerigai dan ia merasa sangay geram kepada Emry.


"Sorry bro, kelupaan." Jawaban itu meluncur begitu saja dari mulut Emry yang terlihat seperti tidak bersalah kepada Jhony.

__ADS_1


Pintu terbuka, bertepatan dengan kedatangan Matteo disana. Ketika pintu tersebut terbuka dengan begitu lebar, terlihat Cakra sedang bersandar dengan kedua mata tertutup. Wajahnya begitu pucat dan berkeringat dingin, gerakan dadanya begitu cepat. Hal itu menandakan jika pria itu sedang dalam keadaan yang tidak baik, bahkan sesekali ia menghentak kepalanya pada dinding tempat ia bersandar.


"Hei, bangun!" Matteo yang menarik tubuh Cakra dan menahan kepalanya menggunakan bantal yang ada.


"Cakra! Hei, buka matamu." Ucap Emry yang menyadari hal tersebut.


Matteo mengambil beberapa alat dan obat-obatan untuk ia berikan pada keponakannya itu, untuk beberapa saat obat tersebut belum bereaksi. Hingga sekian menit berlalu, membuat mereka bernafas lega.


"Pa paman." Perlahan Cakra mengucapkan beberapa kata.


"Ya, paman disini. Tenanglah, rileks saja." Matteo masih memberikan beberapa obat melalui suntikan pada tubuh Cakra.


Ketika keadaannya menampakkan kemajuan, mereka memindahkan Cakra untuk berbaring di tempat tidur. Masih dalam keadaan yang begitu lemah, ia mencoba berbicara.


"Jangan beritahukan hal ini pada mommy dan daddy, paman." Pinta Cakra dengan suara yang begitu pelan.


Matteo menatap Cakra lalu berpindah pada Emry, dimana tatapan itu seakan menanyakan apa yang terjadi. Gejala dan juga hal yang serupa juga pernah terjadi pada Cakra, dan saat ini apa penyebabnya.


Terlebih dahulu Jhony menggerakkan bahunya sebagai jawaban jika dirinya tidak mengetahui apa-apa mengenai kejadian tersebut. Dan dimana kemudian, Emry duduk disisi kaki Cakra. Dengan tubuh sedikit menunduk dan kedua siku tangannya menjadi tumpuan, Emry mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jangan salahkan aku untuk memberitahu hal ini, alasan yang serupa seperti beberapa tahun silam paman. Entah apa yang ada di dalam kepala keponakan paman ini." Emry mendeplak kaki Cakra dengan sangat keras, sebagai bentuk kekesalannya.


Tatapn tajam tertuju pada Cakra dari Matteo kala itu, lalu ia menyentil kening Cakra hingga meninggalkan bekas kemerahan disana.


"Sepertinya harus paman cuci otakmu itu menggunakan sabun pencucian piring, terlalu berlemak dan licin sekali noda yang ada di dirimu itu. Biar semua noda itu hilang masuk comberan, dasar manusia batu sekali kamu ini."


Mengungkapkan kemarahannya pada Cakra, dimana Matteo lah yang menjadi saksi sebagai dokter yang menanggani masalah pada diri Cakra kala itu.


"Kau meremehkan kekuatan daddy mu, Cakra. Tanpa kalian menceritakan masalah ini padanya, ia akan tahu dengam sendirinya." Matteo mencoba menasihati kepeonakannya itu dengan lembut.


"Ta pi paman." Cakra seakan merasa percaya jika kedua orang tuannya tidak akan tahu mengenai masalah tersebut.

__ADS_1


"Jangan pernah kamu melupakannya Cakra. Cukup satu kali hidupmu hancur, jangan pernah membiarkan alasan yang sama untuk merusaknya kembali."


"Aku mencintainya, aku mencintainya. " Pengulangan kalimat yang sama, membuat yang lainnya menahan rasa geram terlampau besar.


__ADS_2