Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.39


__ADS_3

"Kakak ipar tidak boleh terlalu sering bertemu pria itu, itu sama saja melanggar ucapan yang diberikan bang Pedro." Dzacky mengambil sebuah apel lalu mengigitnya dihadapan Ayara.


Tatapan tajam itu mengenai Ayara dari para pria yang ada disana, memang benar jika semenjak kehadiran Leo disana. Mereka sering bertemu dan mengobrol bersama, bahkan terkadang hanya karena sesuatu hal yang sepele membuat mereka bertemu dalam waktu yang sangat lama.


"Tidak usah terlalu direspon jika dia datang lagi, tidak enak jika ada orang lain yang melihatnya." Liam berkomentar karena memang ternyata tidak baik untuk Ayara.


"Tuh kan, bang Liam juga sudah membuka suara. Jarang banget tu orang berkomentar." Dzacky benar-benar tidak menyukai pria yang mendekati Ayara, apapun itu alasannya.


Bagi Ayara, semua ucapan yang diutarakan padanya memang benar adanya dan ia tidak bisa untuk mencegah mereka semuanya untuk tidak menasihati dirinya. Karena itulah bentuk perhatian dari mereka semuanya padanya.


Pedro dengan sikap dinginnya menghampiri Ayara berada, ia tidak ingin mengeluarkan suara untuk memberikan pengertian pada wanita itu. Ia mengusapkan tangannya pada kepala Ayara dan sedikit mengacak-acak rambutnya. Setelahnya ia berlari menjauh untuk menenangkan isi kepalanya yang sudah hampir meledak, bagaimana tidak meledak. Jika persoalan Cakra harus ia redam atas permintaan tetua mereka, Damendra.


Dan satu lagi hal yang paling ia sesalkan, karena ia harus menjaga perasaan dan juga fisik dari Ayara dari berbagai hal. Entah mengapa ia begitu menjadi menyayangi wanita itu, bukan karena ia menyukainya sebagai wanita pujaan hati namun rasa sayang itu sebagai seorang kakak yang terlalu besar.


Untuk Eliot, dia hanya mengikuti apa yang sedang terjadi. Dirinya hanya akan bertindak jika situasi memang membutuhkannya, namun tidak untuk memaksakan diri.


"Non Ayara, ada tuan dan nyonya besar datang." Fia segera memberitahukan mereka semuanya mengenai kedatangan tersebut.

__ADS_1


"Iya Fi, terima kasih ya." Ujar Ayara yang langsung berjalan untuk menyambut kedatangan keduanya.


Dari kejauhan terlihat mobil memasuki halaman rumah, lalu berhenti tepat didepan mereka. Yuri terlebih dahulu keluar dari mobil dan menghampiri Ayara, memeluknya melepas kangen. Disusul Damendra dan ternyata ada bik Leha disana, Ayara begitu senang sekali melihat orang yang sedari kecil bersama.


Selesai dengan saling melepas kangen, mereka masuk ke dalam dan menikmati waktu bersama.


.


.


.


.


"Bagaimana, apa kau sudah mendapatkannya?" Suara seorang pria yang sedang berbicara bersama Eliza melalui ponsel.


"Bisakah kau bersabar sedikit, bukan semudah membalikkan telapak tangan untuk membuatnya menyerahkan tanda tangannya itu." Eliza berdengus kesal akan tekanan yang pria itu berikan secara terus-terusan.

__ADS_1


Pembicaraan pun terhenti begitu saja, tanpa ada penjelasan apapun lagi. Sebenarnya Eliza sudah begitu muak dengan pria tersebut, akan tetapi ia tidak bisa terbebas lepas darinya. Karena pria itu sudah menyelamatkan dari dunia kejam, yang hampir saja membuat nyawanya melayang dengan sia-sia dan juga hina.


"Jika bukan kau yang menyelamatkan nyawaku, aku tidak sudi seperti ini." Gumam Eliza dengan rasa kesal yang begitu besar.


Puas dengan liburan yang ia rencanakan, walaupun tanpa kehadiran Cakra disana. Paling tidak ia bisa menikmati semuanya, kemewahan yang ia idam-idamkan selama ini.


Dan hari ini, ia bersiap akan kembali ke negara sang kekasih. Tentunya menggunakan fasilitas pribadi Cakra, hingga dimana ia tiba dan disambut oleh pria yang mencintai dirinya.


"Sayang! Kangen." Suara manja itu bergema.


"Iya baby, aku juga kangen. Sangat kangen, bagaimana liburannya?" Sambil berjalan memasuki mobil, Cakra menanyakan mengenai liburan yang Eliza jalani.


"Tidak enak, kamu sih. Lain kali, aku tidak mau seperti ini." Memasang wajah yang cemberut, sehingga membuat Cakra menjadi gemas.


Tangan kekar itu menarik ujung hidung Eliza, tidak terlalu kuat. Hanya menandakan jika dirinya sangat gemas dengan Eliza, mereka pun menuju sebuah apartemen mewah yang sudah dipersiapkan Cakra sebelumnya. Karena, jika ia membawa Eliza di mansion utama ataupun mansion miliknya. Itu sama saja menabuh genderang pertikaian dengan semua orang, terutama Yuri snag mommy.


Setibanya disana, Eliza berdecak kagum akan kemewahan dari tempat tersebut. Bahkan dengan begitu mudahnya, Cakra menjadikan Eliza sebagai nama pemilik dari apartemen tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih sayang." Begitu senangnya Eliza akan hal tersebut, maka satu persatu pula rencana akan terlaksana.


Perlahan dengan menggunakan siasat yang sudah terencana, Eliza sangay yakin jika kali ini ia akan berhasil. Memanfaatkan rasa cinta dari pria yang dahulu ya pernah ia cintai, seiring perjalanan waktu. Rasa itu berubah menjadi g**la akan silaunya harta dunia.


__ADS_2