
Brugh!
Tubuh Celine terhempaskan dengan sangat kuat ke lantai, ia meringis kesakitan atas hempasan tersebut.
"Ini peringatanku pertama dan terakhir, jangan salahkan akan terjadi sesuatu padamu jika berani menyentuh adikku, Ayara!" Tegas Pedro lalu melangkah pergi dari mansion.
Untuk Emry dan Cakra, mereka hanya menjadi penonton yang sangat setia dalam menyaksikan kejadian tersebut. Tidak ada pembelaan apapun dari mereka berdua terhadap Celine, karena keduanya juga merasa muak akan sikap wanita itu.
"Aduh, ini sakit sekali." Celine mengeluh dan berdiri.
Kenapa tidak mampus saja sekalian wanita ini, sangat meresahkan sekali.
(Emry berdengus kesal kepada Celine yang terlalu egois.)
"Cakra, kenapa kamu tidak membelaku sih? Aku ini temanmu dari sejak kecil, lihat ni. Siku tangan dan lutut kakiku memar, sakit sekali." Menunjukkan ada beberapa luka pada tubuhnya, Celine berharap mendapatkan pembelaan.
Tidak ada yang satu pun pembelaan yang diberikan Cakra, karena dirinya juga sudah muak akan sikap Celine. Berteman sejak kecil, buka, bukan berarti harus membatasi semua aktivitas yang dilakukan oleh Cakra. Seakan-akan, Celine menganggap jika Cakra itu adalah miliknya dan menilai juga pria itu menyukai dirinya.
__ADS_1
Melihat sikap Celine saat itu, benar-benar membuat Emry ingin tertawa dan melemparnya ke luar angkasa.
"Mari tuan, kita harus ke ruang kerja. Ada beberapa pembahasan mengenai perusahaan." Emry mendorong kursi roda milik Cakra untuk keluar dari kamarnya.
"Tunggu, aku ikut kalian saja." Celine menahan Emry dan Cakra.
"Untuk apa?" Ketus Emry.
"Memangnya kenapa? Selama ini juga seperti itu, kamu ini aneh sekali." Dengan tangan yang bersedekap, Celine memanyunkan bibirnya.
Tidak sadar diri ini anak, awas saja nanti.
Mereka melanjutkan langkahnya dan tidak menghiraukan lagi apa yang Celine ucapkan, mengekor seperti anak kecil pada orangtuanya.
Brakh!
Klek!
__ADS_1
Saat sudah masuk ke dalam ruang kerjanya, Emry dengan cepat mengunci pintu tersebut agar wanita yang menjengkelkan itu tidak dapat masuk.
"Hei! Emry, buka pintunya!". Teriak Celine yang mendapati pintu tersebut telah tertutup.
Ia terus mengetuk pintunya dengan berharap dapat segera terbuka, dalam beberapa waktu tidak ada perubahan apapun disana. Ia sangat kesal akan hal tersebut, tidak hanya mengetuk pintu dan mengeluarkan teriakan-teriakan yang dapat merusak telinga.
"Otakmu selalu cepat tanggap, akhirnya bisa bebas dari wanita itu." Cakra akhirnya bebas untuk mengeluarkan suaranya, para sahabatnya kini mengetahui keadaan dirinya.
"Makanya, jangan diam saja jika dia berulah. Dia tidak akan pernah berubah, oh iya. Aku ada info mengenai masalah yang ada." Emry mengambil alih ponselnya dan mengirimkan sesuatu pada ponsel milik Cakra.
Informasi yang Emry dapatkan adalah sebuah rekaman seseorang, mereka melakukan pembahasan mengenai data penting dari perusahan milik Cakra.
"Pedro juga masih menyelidiki satu orang, ya semoga saja tidak meleset tebakanku kalau dia adalah dalangnya." Jelas Emry kepada Cakra yang masih menyimak bukti yang diberikan kepadanya.
Yang diketahui oleh Cakra saat ini adalah penurunan nilai saham, para investor mau menarik saham mereka dan juga beberapa kendala yang lainnya. Sangat tidak terduga bisa seperti itu, sebentar saja ia meninggalkan perusahaan yang berakibat seperti ini. Bahkan untuk menarik nafas saja, sudah membuat kesulitan untuk dirinya.
Semakin lama, Cakra mulai memahami dari permainan yang terjadi di perusahaannya. Sedikit sudut bibirnya tertarik ke atas, menandakan jika dirinya mulai tenang.
__ADS_1
"Kenapa tertawa?" Heran Emry yang mendapati Cakra seperti itu.
"Kau akan tahu jawabannya." Seringai Cakra terlihat, lalu ia menghubungi Pedro.