Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.21


__ADS_3

Saat ini, Ayara dan bik Leha mendapatkan kontrakan yang cukup sederhana di salah satu tempat terkecil. Dengan menggunakan uang tabungannya dan juga pesangon yang diberikan oleh Liam sebelumnya, mereka pun perlahan-lahan membuka usaha kecil-kecilan untuk menyambung hidup.


Untuk kembali lagi ke rumah pamannya, itu rasanya sangat mustahil terjadi. Dari cerita yang bik Leha katakan, itu sudah cukup untuk menjadi pelajaran bagi Ayara.


Dengan pengalamannya bekerja di toko bunga nany, membuat Ayara memiliki ide untuk membuka toko rangkaian bunga maupun souvenir pada saat acara tertentu seperti wisuda ataupun hadiah spesial. Toko tersebut berada tidak jauh dari kontrakan mereka, sehingga mempermudahkan mereka.


"Bik, ini sudah bisa dibawa ke toko." Ayara memisahkan beberapa barang.


"Iya non, kemarin juga ada pesanan tambahan. Tapi di ambilnya nanti sore, apa non bisa?" Leha menunjukkan kertas pesanan.


Melihat catatan yang diberikan kepadanya, Ayara lalu mempertimbangkan beberapa sisi untuk menerima pesanan ataupun menolak pesanan tersebut.


"Sepertinya bisa bik, nanti Aya usaha selesainya tepat waktu. Bibi mau bareng atau nanti?"


"Bibik seperti biasanya non, sekalian untuk siapan makan siang nanti. Non bisa bacanya sendiri atau bibik temenin, nanti bibik balik lagi." Leha tidak tega melihat Ayara membawa barang-barang tersebut sendiri.


"Sepertinya, Aya bisa membawanya bik. Bibik selesaikan saja dulu pekerjaannya, nanti baru ke toko." Ayara tidak ingin melihat Leha terlalu capek dengan membantu dirinya.


Membawa beberapa barang pesanan yang ada, Ayara berjalan menuju toko kecilnya dengan semangat. Selama perjalanan, ia selalu tersenyum dan sedikit bersenandung (bernyanyi). Setibanya di sana, ia segera meletakkan barang bawaannya dan merapikan toko tersebut sebelum membukanya.


Saat toko itu sudah terbuka, tak lama kemudian datanglah orang yang sebelumnya telah memesan kepada Ayara. Mereka mengambil barang pesanannya dan melakukan pembayaran, Ayara sangat bersyukur dengan apa yang saat ini ia jalani.


"Permisi."

__ADS_1


"Iya, silahkan masuk." Ayara segera berdiri dari pekerjaannya merangkai pesanan yang akan di ambil.


Ketika keduanya bertatapan, alangkah kagetnya saat Ayara menyadari siapa orang tersebut. Ada perasaan khawatir dan juga kaget, namun ia berusaha untuk tetap tenang.


"Kamu?" Orang tersebut adalah Pedro, sahabat dari Cakra. Ia pun kaget saat mengetahui di toko itu ada Ayara.


"Kenapa tuan? Apa ada yang perlu saya bantu?" Ayara yang memang tidak mengetahui siapa Pedro, dan menganggap sebagai konsumen dari tokonya.


"Hem, ya. Aku lihat-lihat sebentar, tidak apa-apakan?"


"Iya tuan, tidak apa-apa. Silahkan." Ayara melanjutkan rangkaiannya selagi Pedro melihat beberapa contoh dari produk di toko tersebut.


Tanpa sepengetahuan Ayara, Pedro diam-diam mengambil beberapa gambar dirinya yang sedang merangkai menggunakan ponselnya. Gambar itu lalu ia kirim kan kepada sahabatnya yang sudah terlanjur membatu, biasanya Cakra akan selalu cepat merespon apapun. Apalagi mengenai wanitanya, tapi tidak untuk kali ini.


"Bisa aku meminta foto dirimu bersamaku?" Ujar Pedro yang mengambil kunci dari kekakuan sahabatnya.


"Mmm, kalau boleh tahu. Untuk apa ya tuan?"


"Hanya untuk menunjukkan kepada orang terdekatku, jika aku tidak salah dalam memilih tempat. Boleh?" Kembali Pedro menanyakan persetujuan dari Ayara.


Awalnya Ayara nampak ragu, namun ia tidak ingin berpikiran buruk kepada orang-orang. Lalu ia menganggukan kepalanya, mereka berdua berfoto bersama dengan menggunakan ponsel milik Pedro.


"Kabari saja jika semuanya sudah selesai, aku akan mengambilnya sendiri." Pedro segera berlalu dari toko Ayara.

__ADS_1


.


.


.


.


Semenjak Ayara meninggalkan rumah sang paman, begitu pula dengan keadaan perusahaan yang dimiliki oleh Barry pun mengalami kerugian dan hampir bisa dibilang bangkrut.


"Kenapa bisa begini pa? Kalau seperti ini terus, kita mau tinggal dimana." Jerit Rosa dengan apa yang mereka hadapi saat ini.


"Iya pa, Elina tidak mau hidup susah. Pokoknya papa harus cari cara agar hidup kita kembali seperti dulu. Kalau seperti ini terus, Elina tidak mau pa, Elina tidak mau!" Elina pun tidak kalah histeris dengan kehidupan mereka.


" Diam!!! Kalian bisa diam tidak, hah! Bukannya membantu mencari solusinya, tapi malah menambah pusing." Barry membentak istri dan anaknya.


"Lalu kita harus bagaimana? Mama tidak mau seperti ini pa." Tanggis histeris Rosa membuat Barry semakin pusing.


Semua kejadian tersebut, tidak terlepas dari perbuatan Cakra. Ia tidak terima akan perlakuan dari keluarga tersebut kepada Ayara, memperlakukan keponakan sendiri seperti seorang pelayan rumah. Tidak ada kebahagian yang mereka berikan, melainkan selalu penderitaan.


"Tidak ada cara lain, aku harus menemui keluarga Damendra dan meminta pertolongan pada mereka." Barry menemukan jalan keluar dari permasalahan yang sedang ia hadapi saat ini.


"Benar pa, itu benar sekali. Keluarga Damendra adalah orang terkaya di negara kita, pasti mereka mau membantu kita pa. Mama juga kenal dengan istrinya." Rosa seakan mendapatkan hembusan angin segar.

__ADS_1


Mereka segera menyusun cara agar mendapatkan bantuan aliran dana dari orang terkaya itu, mereka merasa yakin jika perusahaan yang mereka miliki akan terselamatkan.


__ADS_2