Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.43


__ADS_3

"Kamu fokus untuk kesembuhan dirimu dulu nak." Yuri merasa tidak tega jika harus melihat Cakra dalam keadaan seperti itu.


"Aku tidak apa-apa mom, aku ingin menemui Eliza. Dia pasti sudah menungguku." Cakra memaksakan dirinya untuk berdiri dari tempat tidurnya.


"Berhenti, Cakra!" Yuri berteriak saat Cakra memaksakan dirinya.


Sempat berhenti karena teriakan sang mommy, namun Cakra tetaplah melakukan keinginannya tanpa menghiraukan perasaan kedua orang tuanya. Yang ia ingin saat itu, hanya bertemu dan bersama dengan wanita yang sangat ia cintai. Dengan tubuh yang masih begitu lemah, ia tidak memperdulikannya.


Bahkan infus yang masih tertancap pada punggung tangannya ia lepas begitu saja, ia mencari ponsel miliknya dan menghubungi Eliza. Anehnya, saat itu nomor tersebut tidak dapat ia hubungi. Berulang kali Cakra mencobanya, tapi tetap saja tidak dapat terhubung. Perubahan emosi itu sangat tidak mendukung, dan itu membuat semuanya menjadi panik.


Dengan cepat, Matteo berlari ke sisi Cakra. Dalam sekejap perubahan tersebut membuat kembalinya penyakit tersebut, Damendra menggeser istrinya agar tidak terkena hantaman pukulan dari tindakan putranya, ia dan Matteo mengamankan Cakra dari berbagai hal yang tidak di inginkan.


"Cakra, sadarlah!" Matteo terus mengajak Cakra untuk berkomunikasi agar saraf otaknya terhubung dengan getaran suara dari sekitarnya.


"Tidak! Tidak!" Teriakan itu begitu keras, lalu dengan kuatnya ia menyakiti dirinya sendiri.


Kala itu, Matteo meminta Damendra untuk menahan Cakra agar ia bisa mengambil obat yang akan digunakannya. Dalam sekejap, obat tersebut sudah masuk ke dalam tubuh Cakra. Dalam proses reaksi obat tersebut, Cakra masih dalam keadaan sadar.


"Eliza, Eliza. Dad, aku mohon pertemukan aku dengannya. Aku mencintainya, Eliza!" Teriakan-teriakan terus terdengar begitu lirih, bahkan Yuri suda tidak dapat menahan rasa kesedihannya.


Dari balik dinding yang ada, dimana Ayara dan yang lainnya sudah tiba. Namun mereka menahan diri saat melihat Ayara berhenti di ambang pintu kamar yang terbuka, dirinya terpaku saat mendengar semua perkataan dari arah dalam kamar tersebut.


Rasa perih yang begitu sangat terasa didalam dada Ayara, saat mendengar pria yang mulai ia cintai itu dalam keadaan titik terendahnya. Akan tetapi, ada hal yang menambah rasa perih itu semakin menyakitkan adalah kalimat yang mengatakan jika pria itu masih begitu mencintai wanita dari masa lalunya.

__ADS_1


Air mata mulai berjatuhan dari kedua sudut mata yang indah itu, Menepuk-nepuk dadanya yang terasa begitu sesak untuk bernafas. Menguatkan hati dan diri agar bisa keluar dari rasa sakit yang ia alami, Ayara berusaha untuk tegar menghadapinya.


"Berubah pikiran?" Liam menyadarkan Ayara dari semuanya.


"Tidak kak, aku akan mencobanya." Mencoba tersenyum dari rasa perih yang kini ia rasakan.


Menghela nafas sebagai permulaannya, Dzacky ingin menghalangi niat Ayara tersebut. Namun dengan cepat, Pedro dan Eliot mencegahnya. Mereka memberikan ruang agar Ayara bisa masuk ke dalam, lalu mereka menyusul dari arah belakang.


Hampir sama dengan Yuri, Ayara turut merasakannya ketika melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana keadaan pria yang ia cintai kala itu. Kakinya semakin berat untuk melangkah, dimana Cakra dalam keadaan tidak berdaya yang terus menerus menyakiti dirinya sendiri, berteriak menyebut nama wanita yang pada akhirnya Ayara tahu jika itu adalah wanita yang begitu Cakra cintai.


"Ayara!" Yuri menyadari kehadiran dirinya disana.


Sedikit berlarian, Yuri menghampiri Ayara dan langsung memeluknya dengan air mata yang sudah tidak terbendung. Keduanya pun saling menguatkan dengan keadaannyang ada, kemudian Yuri memberikan ruang untuk Ayara melihat Cakra dari jarak yang begitu dekat.


Menyadari akan kehadiran Ayara, Damendara memalingkan wajahnya dan menghapus air mata yang menetes dari kedua matanya. Dalam diam, dirinya begitu terluka dengan terulang kembali akan peristiwa seperti ini.


Kala itu, keadaan Cakra sedikit tenang. Matteo menepuk punggung tangan Damendra agar ia kuat, lalu Damendra beranjak dari posisinya. Berhadapan dengan Ayara, mendaratkan telapak tangannya di kepala Ayara dan mengusapnya perlahan.


"Jangan terluka, daddy akan memarahimu jika itu terjadi." Tatapan rasa sayang itu tidak dapat diragukan.


Senyuman dan anggukan kepala dari Ayara, menandakan jika ia mengerti akan apa yang menjadi kekhawatiran dari seorang Damendra. Perlahan Ayara mendekati sosok pria yang masih merintih dalam ketidaksadaran akan apa yang sedang ia alami, Matteo menyakinkan Ayara dengan menganggukan kepalanya dan meminta Ayara mengantikan dirinya.


Dalam keraguan, namun hal itu Ayara lakukan. Perlahan ia menyentuh tangan kekar yang terkepal begitu kuat, walaupun dirinya tidak kuasa menahan air mata yang terus ingin mengalir.

__ADS_1


"Jangan menyakiti diri sendiri seperti ini, masih banyak yang mencintaimu dengan ketulusan hati. Lupakan hal-hal yang membuatmu sakit, karena kamu berhak untuk bahagia."


Mendengar ucapan dan suara itu, membuat Cakra perlahan mengalihkan pandangannya pada sumbernya. Kedua mata mereka kini saling bertemu satu sama lain, bertatapan seakan sedang mengingat sesuatu yang pernah terjadi diantara mereka berdua.


"Aya Ayara." Suara lirih itu menandakan jika ia masih mengingat seseorang yang kini ada dihadapannya.


"Hhmmm, iya. Ini aku, Ayara."


Tubuh lemah itu bergerak spontan memeluk wanita itu, ada isakan tanggis disana. Seakan sedang meluapkan perasaan yang terlalu lama terpendam dalam kerinduan, hal tersebut membuat semuanya yang berasa disana melihat momen itu.


Namun, untuk beberapa waktu berikutnya. Pelukan tersebut berubah menjadi sesuatu hal yang menyakitkan, kedua tangan kekar itu mencengkram kuat kedua pundak Ayara. Tubuh Ayara terhempaskan pada dinding dibelakang tubuhnya, kedua sorot mata Cakra terlihat memerah.


"Kenapa kamu menghilang begitu saja, hah! Apa selama ini, aku begitu buruk dimatamu?! Apa belum cukup dengan semuanya yang aku lakukan untukmu, hah! Jawab!! Argh!!"


Perubahan emosi kembali terjadi, obat yang telah diberikan tidak mampu menahan gejolak perubahan itu. Semuanya dalam kewaspadaan terhadap Ayara, bagaimana pun juga saat itu Cakra dalam keadaan tidak stabil. Mereka khawatir akan Ayara, dalam posisi yang terpojokkan.


Akan tetapi, dalam keadaan yang seperti itu. Ayara memberikan tanda jika dirinya baik-baik saja, mereka tidak perlu khawatir akan dirinya. Namun bagaimana pun juga, mereka bersiap menjaga Ayara dari segala kemungkinan yang akan terjadi.


Setelah menghempaskan tubuh Ayara, Cakra mengerang dan kembali menyakiti dirinya. Menarik rambut kepalanya dengan sekuat tenaganya, memukul kepalanya dan bentuk kekerasan lainnya yang membuatnya kini terluka.


"Kumohon, jangan seperti ini. Maafkan aku." Ayara menahan Cakra dari aksinya yang menyakiti dirinya sendiri.


"Apa pedulimu! Pergilah dengan seperti yang kamu mau, aku pria g*la yang memaksakan semuanya yang aku inginkan pada wanita yang aku cintai. Ya, aku memang g**la! Pergi, pergilah!" Teriak Cakra dengan memukulkan kepalan tangannya pada dinding disampingnnya.

__ADS_1


__ADS_2