
Mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup melesat, Pedro menuju salah satu tempat yang biasa digunakan oleh hampir seluruh pimpinan dari klan dunia bawah berkumpul. Tempat tersebut adalah sebuah casino terbesar dan juga menjadi pusat pendapatan yang cukup besar.
"Dimana curut? Katakan!" Suara Pedro begitu tinggi, saat ia memasuki casino tersebut.
Dimana ia tahu, jika saat itu orang yang ia cari sedang berada disana. Mereka melakukan transaksi dalam bisnis gelapnya pada ruangan khusus yanh disediakan, saat akan menerobos masuk. Pedro mendapatkan pencegahan dari orang-orang yang ia duga sebagai anggota dari pimpinan orang tersebut, ia pun dengan cukup berani datang sendiri pada saat itu.
"Maafkan kami tuan, didalam sedang berlangsung transaksi." Ujar dari salah satu orang yang menghalau laju Pedro.
"Buka atau kalian akan berurusan denganku?!" Kalimat yang terdengar tegas dan menakutkan.
Orang-orang tersebut menjadi sedikit ragu, karena mereka tahu siapa yang sedang dihadapannya saat ini. Seseorang yang begitu disegani dan bahkan ditakuti oleh para pemimpin klan dunia bawah, akan tetapi mereka tidak bisa melanggar peraturan dari klan yang sudah menjadi darah daging pada tubuhnya.
"Ma maafkan kami tuan, kami hanya melaksanakan pekerjaan."
Bugh!!
Dalam keadaan amarah yang begitu besar, Pedro tidak dapat menahan dirinya untuk tidak melepaskan kekuatan yang ia miliki. Dalam sekejap, orang-orang yang berjumlahkan lima orang itu berjatuhan. Saat nafasnya masih tidak stabil, Pedro membuka pintu ruangan tersebut.
Brakh!!
Terlihat didalam sana, pemandangan yang sangat tidak baik untuk dilihat. Terdapat beberapa wanita dengan berpenampilan yang menyakitkan mata, bahkan dengan tidak tahu malunya. Ada dari beberapa mereka tersebut sedang menggunakan jasa wanita itu, sungguh pemandangan yang menjijikkan untuk Pedro.
Walaupun ia bergelut dalam dunia bawah, tapi hal itu tidak pernah bersentuhan dan mencari masalah dengan wanita. Hanya pada Ayara, seorang Pedro bisa berubah.
"Kau!" Sorot mata Pedro mendapatkan orang yang ia cari.
__ADS_1
Orang tersebut menghentikan aktivitasnya bersama seorang wanita dan dengan sikap tengilnya menghampiri Pedro, sedangkan Pedro. Ia tidak ingin bertindak berlebihan, akan lebih baik jika ia mencari tahu terlebih dahulu siapa orang yang sedang ia tuju.
"Halo tuan Pedro yang terhormat, ada apa? Tidak biasanya kau menghajar orang-orang ku dan datang sendirian seperti ini. Hahaha." Yoshi, dia adalah orang yang Pedro cari.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu." Suara itu sangat tegas.
Raut muka Yoshi sedikit tegang, tidak biasanya rekan kerjanya itu bersikap seperti itu. Mengarahkan Pedro untuk ikut bersamanya, mereka duduk bersama pada sebuah ruangan pribadi milik Yoshi. Namun Pedro menolak hal tersebut, ia tidak ingin terjebak oleh orang yang pernah mencari masalah padanya.
"Aku tidak main-main dengan kali ini, katakan jika bukan kau yang melakukan kekacauan di perusahaan Cakra dan yang lainnya." Ucapan Pedro sangat tajam kepada lawan bicaranya, ia tahu perjalanan kotor orang dihadapannya kali ini jika sudah bertindak.
"Aku? Hei... Kau menuduhku membuat kekacauan? Ayolah, bukan tipikalku untuk melakukannya. Jika kau mempunyai buktinya, aku akan dengan sangat senang hati menyerahkan diri." Sanggah Yoshi dengan wajah yang begitu menyakinkan.
Untuk sejenak, Pedro tidak ingin bertindak ceroboh dalam mengambil keputusan dan tindakan. Mengamati adanya perubahan yang cukup mencurigakan dari sikap Yoshi, dan itu menambah keyakinan dirinya jika orang tersebut patut untuk dicurigai.
"Baiklah, untuk kali ini. Aku akan mempercayaimu, tapi tidak berikutnya. Kau tahu konsekuensi jika berhadapan denganku!" Cukup menjelaskan jika Pedro memberikan ancaman kepad Yoshi.
Dari kejauhan, ia masih mendengar suara Yoshi yang memanggil dirinya dan seolah-olah sedang mengejeknya. Pedro menggelengkan kepalanya agar kalimat-kalimat yang membuatnya murka dapat memuai bersama angin, bergegas ia kembali menuju markas miliknya.
Setibanya ia di markas, para sahabatnya telah berkumpul. Entah itu mau membahas strategi atau hanya sekadar berkunjung saja, Pedro memilih untuk beristirahat di dalam ruang pribadinya. Saat matanya akan terpejam, ponsel dalam satunya bergetar.
...'Apa kabarmu? Apakah aku bisa meminta pertolongan untuk kali ini, sungguh berat untukku memintanya padamu. Namun, hanya ini satu-satunya harapanku.'...
Sebuah pesan singkat untuk dirinya, tanpa menunggu lama. Ia segera membalasnya dan menghubungi Ayara, ketika balasan itu ia dapatkan. Segera ia beranjak menuju tempat yang telah disepakati, dan tak lupa ia menjemput Ayara terlebih dahulu.
Selama perjalan beramal Ayara menuju tempat tersebut, Pedro hanya diam. Ia hanya fokus mengemudikan laju kendaraannya, begitu pula pada Ayara. Ia hanya menyimpan setiap pertanyaan yang akan ia tunjukkan pada pria itu.
__ADS_1
Sebuah taman disudut perkotaan yang cukup kecil, mereka kini berhenti disana.
"Kak, kenapa tidak turun?" Ayara semakin bingung harus berbuat apa, karena Pedro hanya diam.
Memilih ikut diam, Ayara melihat jika wajah Pedro berubah menjadi begitu dingin. Dengan itu membuat pikiran Ayara sudah kemana-mana, karena Pedro yang sangat aneh.
Ditaman tersebut tidak banyak pengunjungnya, namun Ayara tertuju pada seorang wanita dengan balutan hijabnya yang cukup menarik perhatiannya.
Kembali ponsel Pedro bergetar, pesan itu ia baca namun masih dalam keheningan. Ayara mengambil ponsel tersebut ketika Pedro menyerahkan padanya, kening Ayara nampak berkerut. Ia memalingkan pandangannya pada wanita yang dari awal ia kagumi.
"Jika kakak ragu, aku bisa menemuinya." Ayara tidak ingin membaut wanita itu kecewa dan menunggu lama.
"Huh! Temani aku." Pedro segera keluar dari mobil lalu di ikuti oleh Ayara dari arah belakang.
Melihat sikap Pedro kala itu, membuat Ayara berpikiran jika wanita tersebut mempunyai hubungan khusus dengan Pedro. Karena dari sikap yang Pedro tunjukkan mengarahkan seperti itu.
Dari kejauhan, wanita itu sudah melihat kehadiran keduanya. Ia mengambil jarak agar tidak terlalu berdekatan, lalu Pedro langsung menghujaminya dengan perkataan yang cukup ketus.
"Apa yang kamu ingin katakan, aku tidak punya waktu banyak." Pedro yang melihat ke arah lainnya.
"Maafkan aku jika sudah merepotkan, hhmm. Bolekah aku meminta pertolonganmu? Aku membutuhkan uang dalam jumlah yang sangat besar, tapi aku kesulitan untuk mendapatkannya. Ini, aku menjaminkan sertifikat rumah milik kami." Wanita tersebut memperlihatkan berkas yang ia bawa.
"Heh, lagi lagi karena uang kau mencariku, bukankah pria itu mempunyai segalanya. Kenapa harus aku yang kau temui." Perkataan ketus itu membuat Ayara dan wanita tersebut kaget.
"Jangan berlindung menggunakan pakaianmu, aku tidak akan tertipu untuk kedua kalinya." Kepalan tangan Pedro menandakan ia sedang menahan amarah.
__ADS_1
Wanita tersebut tidak membela dirinya, sampai akhirnya ia meneteskan air mata. Membuang rasa malunya untuk meminta pertolongan pada orang yang dahulunya sangat berarti dalam kehidupannya, hanya saja karena kesalahpahaman membuat keduanya menjadi seperti musuh.