
Seperti hari-hari biasanya, saat berada di tokonya. Ayara akan sibuk pada tugasnya, merangkai bucket bunga maupun berbagai pajangan yang lainnya. Ditemani oleh bik Leha dan juga terkadang ada beberapa tamu tetapnya, yang tak lain adalah ke empat pria aneh menurut Ayara.
Hari ini, Ayara sudah terlalu lelah. Bahkan dirinya belum sama sekali sarapan apapun, sudah sering bik Leha mengingatkannya. Dengan berdalih jika dirinya belum lapar dan sedang fokus untuk menyelesaikan pesanan yang ada. Karena sejak dirinya bertemu dan mendapatkan notifikasi pada hari itu, tidak ingin selalu teringat hal tersebut. Makanya Ayara lebih menyibukkan dirinya dengan fokus pada usahanya, menurut pemikirannya dengan mengalihkan semua fokusnya dapat melupakan kejadian itu.
"Huh, akhirnya selesai." Ayara menghapus penuh pada keningnya.
Setelah menyelesaikan pesanan yang ada, Ayara duduk sejenak untuk menghilangkan rasa lelah yang ia rasakan. Tak berapa lama kemudian, semua pesanan itu di ambil oleh pemiliknya dan juga ada beberapa yang harus dikirimkan melalui kurir.
Brugh!
Tiba-tiba saja tubuh Ayara oleng, ia menabrak meja yang ada dihadapannya.
"Non Aya." Panik Leha yang langsung menghampirinya.
"Non Aya kenapa? Ya ampun non, badannya panas sekali." Leha membantu Ayara duduk dan memberikannya segelas air.
Dengan tangan yang bergetar, Ayara meminum air tersebut dan memberikannya kembali gelas tersebut kepada bik Leha. Menundukkan kepalanya dengan beralaskan lenagnnya, ayara memejamkan kedua matanya.
"Kakak ipar, kami datang." Suara yang benar-benar tidak ingin Ayara dengar saat ini.
Kehadiran Dzacky dan juga Pedro kala itu, membuat bik Leha segera memberitahukan keadaan Ayara kepada keduanya. Saat kedua pria itu diberitahukan mengenai keadaan Ayara, mereka langsung menghampirinya.
"Hei, kakak ipar. Kamu tidak apa-apakan? Sebaiknya kita ke rumah sakit saja." Perhatian Dzacky yang terlihat sangat panik, dan Pedro hanya berdiri disampingnya dengan wajah tegang.
"Aku tidak apa-apa, hanya butuh istirahat sebentar saja." Jawab Ayara yang masih menundukkan wajah dan kepalanya.
"Tidak apa-apa gimana, badan kakak ipar panas sekali. Kata bik Leha juga belum makan apapun, dasar keras kepala. Sepertinya kakak ipar sudah tertular penyakit keras kepala itu dari dia." Ketus Dzacky yang mendapatkan penolakan dari Ayara.
"Diamlah Dzac, suaramu semakin membuat kepalaku berdenyut." Sanggah Ayara atas ucapan Dzacky padanya.
__ADS_1
"Lalu kami harus apa, hanya diam saja seperti ini? Sampai melihatmu pingsan dan tidak tidak bangun lagi, hah!" Kali ini, Pedro mengambil perannya.
Mendengar ucapan tersebut, membuat Ayara menggerakkan kepalanya dan menatap kedua pria disana. Kedua matanya menyipit, tangannya mengepal dengan begitu kuat. Ingin rasanya Ayara menarik mulut kedua pria itu, Lagi-lagi ia harus mengurungkan niatnya itu.
"Terserah kalian saja, tapi tolong. Jangan ganggu aku, aku butuh istirahat saat ini. Apa kalian tidak ada pekerjaan yang lain?" Seorang pemimpin perusahaan selalu berada di luar dengan alasan yang tidak jelas.
"Kita yang punya kak, santai saja." Ucapan Dzacky mendapatkan persetujuan dari Pedro, karena mereka mempunyai alasan yang sama-sama tidak jelas.
Kepala Ayara semakin berdenyut mendengar alasan mereka berdua, sangat tidak masuk akal.
"Kenapa hari ini, aku begitu apes?! Oh Tuhan, bisakah kedua pria ini diberikan pekerjaan yang sangat berat. Agar toko ini tidak sesak akan keberadaannya."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut yang sempat membuat Dzacky dan Pedro menjadi terdiam, jika ditelusuri lebih dalam. Kalimat tersebut berisikan sindiran untuk mereka.
Dan mereka berdua pun tidak ingin membalas ucapan dari Ayara, karena mereka tahu jika Ayara sedang lelah menghadapi sikap mereka yang benar-benar menjengkelkan. Setelah sekian lama terdiam, mereka pun menjadi curiga akan pergerakan dari tubuh Ayara.
Tetap tidak ada respon, Dzac dan Pedro langsung menghampiri Ayara dan menarik tubuhnya. Terlihat wajah itu sudah begitu pucat, suhu tubuhnya pun sangat panas. Pedro memindahkan tubuh Ayara pada tempat yang lebih baik, bik Leha langsung mengambil baskom kecil berisikan air hangat dan sebuah handuk kecil untuk Ayara dan langsung mengompresnya.
"Aku tidak apa-apa." Ucap Ayara dengan lirih.
"Tidak apa-apa apanya?! Wajahmu saja sudah hampir sama warnanya dengan tepung." Sanggah Pedro dengan apa yang Ayara katakan.
Terjadi perdebatan diantara mereka mengenai keadaan Ayara, namun Ayara hanya memejamkan kedua matanya agar bisa terhindar dari perdebatan tersebut.
Brakh!
Tap tap tap!
Suara langkah kaki dan pintu yang terbuka secara paksa, cukup membuat mereka semua kaget. Apalagi saat melihat siapa yang berjalan masuk menghampiri mereka, dia adalah Cakra.
__ADS_1
"Sudah mulai keras kepala juga rupanya." Ujar Cakra dihadapan Ayara.
Perlahan kedua mata itu terbuka, suara yang sangat ia kenal kini terdengar dari jarak dekat. Kedua tatapan mata mereka saling bertemu, tubuh Ayara pun kini berada dalam rangkulan tangan kekar Cakra.
"Aku tidak apa-apa, biarkan aku istirahat sejenak." Tolak Ayara yang tahu tujuan dari Cakra merangkul dirinya.
Tak ada jawaban apapun yang Cakra berikan, ia Tatap membawa tubuh Ayara bersama dirinya keluar dari toko. Baik Pedro maupun Dzacky, mereka berdua tidak bereaksi apa-apa ketika Cakra membawa Ayara.
Dengan sangat perlahan, Cakra meletakkan Ayara untuk berada pada tempat yang nyaman di kursi bagian belakang kemudi. Emry yang belum bergerak, membiarkan keduanya untuk beberapa saat.
"Lepas tuan, aku baik-baik saja. Tolong biarkan aku turun." Ayara memberontak saat Cakra tidak melepaskan tangannya.
"Aku tidak perlu menjawabnya, nyonya Cakra Damendra. Pesan dari itu sudah cukup jelas." Suara tegas itu terdengar.
"Aku hanya perlu istirahat, pesan itu bukan ditujukan padaku. Permisi tuan, biarkan aku turun." Lagi-lagi Ayara tertahan.
Genggaman tangan Cakra mengendur, hal itu membuat Ayara merasa lega. Bergerak perlahan, Ayara mengambil langkah untuk turun dari mobil. Secara tiba-tiba saja, tubuhnya terhuyung mundur.
"Sudah aku katakan, aku tidak akan melepaskanmu lagi. Sudah cukup semuanya ini membuatku tersiksa, Ayara. Aku mohon, jangan pergi lagi." Cakra mengakui mengenai perasaan yang ia rasakan.
Mendengar pengakuan dari Cakra, membuat Ayara tidak dapat membendung lagi air matanya. Dengan keadaan tubuh yang lemah, ia harus merasakan hal dimana hati dan perasaannya dipermainkan kembali.
"Aku mau turun, minggir!" Menguatkan suaranya, Ayara ingin berlalu dari hadapan Cakra.
"Tidak! Sudah cukup Ayara, sudah cukup kita berdua keras kepala mempertahankan ego masing-masing. Itu membuat kita terluka, bukan menyelesaikan masalah. Aku mencintaimu, aku mencintaimu Ayara." Cakra menarik Ayara ke dalam pelukannya.
Tanggisan itu semakin pecah, Ayara tidak sanggup untuk menahannya. Ia akui untuk perasaannya pada Cakra, yang selama ini ia tutupi.
"Dasar pria pembohong."
__ADS_1