Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC. 49


__ADS_3

"Bibi, Elina! Kalian." Ayara benar-benar tidak menyangka dengan kedua orang itu.


"Akhirnya, kata bertemu lagi. Kamu harus menerima pembahasan dari kami, karena kamu. Hidup kami jadi berantakan." Bentak Elina kepada Ayara.


Rosa dengan seringainya memperlihatkan jika mereka sudah lama menantikan pertemuan ini, ia berniat untuk membalas semua yang telah Cakra dan beserta para sahabatnya lakukan pada mereka.


Merampas tas yang dibawa oleh Ayara, Rosa membongkar isi tas tersebut hingga jatuh berantakan. Ponsel beserta dompet milik Ayara diambil oleh Rosa, ia mengeluarkan semua isi dari dalam dompet tersebut.


"Bibi, apa jangan! Itu bukan milikku." Ayara berteriak melihat Rosa mengambil ponsel dan isi dompetnya.


"Ini tidak dapat membalas semua yang telah kami berikan padamu selama ini, jadi jangan pelit lah. Baru saja segini, kamu pintar juga ya memilih pria kaya raya itu." Rosa tertawa dan memasukkan semua yang ia ambil dari Ayara.


"Benar apa kata mama, kamu itu seharusnya membalas semua yang telah kami berikan selama ini. Jika tidak ada kami, kamu pasti sudah hidup menjadi gelandangan diluar sana." Elina mendekati Rosa yang sudah mengamankan semuanya.


"Ingat, jangan sampai ada yang tahu hal ini. Jika tidak, maka kamu akan melihat pamanmu hidup menderita. Paham!" Rosa mendorong Ayara lalu ia bersama putrinya itu pergi begitu saja meninggalkan Ayara sendiri disana.


Sepeninggalan Bibi dan saudaranya, Ayara hanya bisa meratapi nasibnya yang terus diperlakukan semena-mena oleh mereka. Walaupun sang paman tidak pernah menyiksanya, namun ia tidak pernah membela dirinya ketika ditindas. Seakan-akan mengizinkan istri dan anaknya memperlakukan keponakannya sendiri dengan tidak layak.


Meraih tas dan barang lainnya yang masih berserakan di lantai, air mata itu sudah tidak menetes lagi dari mata Ayara. Berjalan keluar dari tempat tersebut dan melewati kamar kecil yang sebelumnya ia tuju, ternyata diluarnya. Para pengawal yang ditugaskan telah menanti dirinya, mereka terlihat begitu panik.


"Maaf sudah membuat kalian panik, aku hanya sakit perut." Untuk menutupi kebohongannya, maka senyumanlah yang Ayara berikan.


Para pengawal tersebut percaya, namun yang terjadi selanjutnya adalah kedatangan Pedro disana. Ia langsung menghampiri Ayara yang baru saja hendak masuk ke dalam mobil, dan itu membuat sedikit kegaduhan.


"Kamu tidak apa-apakan? Apa yang terjadi?" Suara pedro benar-benar keras.


Mendapatkan kehadiran Pedro disana, membuat Ayara kaget. Ia hanya bisa menarik salah satu sudut bibirnya ke atas, lalu menarik tangan Pedro untuk masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Jawab dulu Ayara, jangan membuatku panik." Pedro masih terserang rasa panik, walaupun kenyataannya jika Ayara baik-baik saja.


Menggenggam tangan Pedro adalah salah satu cara bagi Ayara agar membuat amarah itu mereda, benar apa yang sudah Ayara duga. Pedro menyandarkan punggungnya pada sandaran dibelakangnya, ia pun membalas genggaman dari tangan yang cukup kecil itu.


"Aku hanya sakit perut dan ke kamar kecil kak, maafkan aku." Menundukkan kepala, Ayara merasa sangat bersalah dengan apa yang telah terjadi.


Terdengar satu tarikan nafas berat dari Pedro, itu semakin membuat Ayara menahan rasa ketakutannya. Ia tidak ingin jika Pedro mengetahui kedatangan bibi dan saudaranya, dimana mereka merampas apa yang ia miliki.


"Baiklah, kenapa ponselmu tidak aktif?" Kembali Pedro melontarkan pertanyaan.


"Orang lagi sakit perut, tiba-tiba ponselnya ada yang menelfon. Ya mau gimana lagi, kecemplung tuh ponsel. The end." Ayara memutar isi kepalanya, mencari alasan yang bisa diterima akal sehat orang lain.


"Ish, tidak perlu dijelaskan selengkap itu juga." Pedro melepaskan genggaman tangan tersebut, lalu melipat kedua tangannya.


Dengan sikap Pedro yang seperti itu, membuat Ayara menahan tawanya. Ia tidak habis pikir, dengan wajah sedingin itu. Pria disampingnya ini bisa juga membuat ekpresi merasa jijik akan sesuatu, tapi sikapnya itu terlalu kaku bagi Ayara.


Setibanya di mansion, Ayara segera menuju kamar Cakra dan Pedro memilih untuk kembali pada pekerjaannya. Disana ada Yuri yang sedang memberikan suapan demi suapan pada putranya itu, namun dari penampilannya saat itu. Sepertinya Yuri sedang menahan emosinya, terlihat dari kedua tangannya yang masih mengaduk-aduk makanan tersebut.


"Mom." Sapa Ayara.


"Ayara! Kamu akhirnya pulang nak, huh. Mommy sudah hampir putus asa ini." Meletakkan mangkuk berisikan asupan makanan untuk Cakra dengan sedikit keras di atas nakas.


"Maafkan Ayara mom, pasti kelamaan ya."


"'Sstthh, mommy malah senang kamu mau menikmati dunia luar sayang. Hanya saja, ni anak tidak mau makan. Sudah satu jam lebih mommy membujuknya, benar-benar menguji kesabaran sekali Cakra ini." Celoteh Yuri yang menatam tajam pada putranya itu.


Tatapan Ayara beralih pada Cakra yang saat itu memang sedang membuang pandangannya, lalu Ayara menyakinkan pada Yuri untuk mempercayai dirinya. Tanpa berkata-kata lagi, yuri melepaskan satu tepukan pada kaki sang anak.

__ADS_1


"Dasar kamu, ya sudah. Mommy mau menyiapkan makan untuk kita semuanya, jika dia tidak mau makan. Kamu langsung temui mommy ya nak." Sebelum benar-benar keluar dari sana, Yuri menyempatkan memberikan tatapan tajam pada Cakra.


Ayara menggeleng-gelengkan kepalanya atas sikap Yuri dan Cakra kala itu, mengambil alih mangkuk bubur yang sebelumnya dipegang oleh Yuri.


"Kenapa tidak mau makan, katanya mau cepat sembuh. Maaf ya, aku perginya terlalu lama. Aku janji tidak akan pergi lama lagi, kamu sekarang makan ya. Lihatlah, buburnya sudah menanggis." Ayara memperlihatkan mangkuk bubur yang sudah berair.


Ia pun berdiri, seketika saja tangan Cakra menggenggam tangan mungil itu. Hal itu membuat Ayara kaget dan tersenyum, benar-benar mengejutkan.


"Tuan, anda bisa menggerakkannya?!" Ucap Ayara yang masih tidak percaya akan apa ia lihat.


"Aku menepati janjiku padamu."


Kedua bola mata Ayara melebar dengan selebar lebarnya, hampir saja mangkuk ditangannya terlepas atas kekagetannya itu. Meletakkannya dengan cepat di atas nakas, Ayara meraih tangan yang telah menahannya. Bahkan air matanya sudah mengalir tidak terbendung, merasakan kebahagiaan yang luar biasa akan apa yang ia lihat.


"Benarkah ini." Masih dalam kekagetannya, Ayara memastikan hal itu.


"Hanya kamu yang baru mengetahuinya, aku harap ini menjadi rahasianya kita berdua untuk sementara waktu. Mau kan?"


Bukan Cakra tidak kau berbagi kebahagiaan itu, namun ia sangat waspada dengan orang-orang disekitarnya. Ingin menebus kesalahannya selama ini, semuanya itu terjadi atas kebodahan dirinya yang kembali jatuh pada lubang yang sama. Bahkan Kali ini, nyawanya juga nyaris hilang. Kalau tidak ada wanita yang kita sedang menggenggam tangannya, ia tidak akan memiliki semangat untuk hidup lagi.


"Maafkan aku, tapi kakinya masih belum merasakan apa-apa." Cakra mengatakan hal tersebut, karena ia takut jika Ayara kecewa pada dirinya.


"Ini saja sudah membuatku bahagia, kita proses lagi dengan perlahan. Tuan pasti akan segera bisa kembali normal seperti biasanya, semangat ya." Ayara dengan mata yang berkaca-kaca untuk merasakan kebahagiaan.


Bermaksud ingin memeluk Ayara, yang dimana hal tersebut disadari oleh orangnya. Ayara pun sedikit menjauhkan dirinya, dan itu membuat Cakra menjadi berdengus kesal.


"Dasar batu omes." Lalu keduanya tertawa bersama.

__ADS_1


Setelaj mengetahui hal tersebut, Ayara meminta pada pelayanan yang ada untuk membawakan kembali satu mangkuk bubur untuk Cakra. Dengan penuh perhatiannya, Cakra menerima suapan demi suapan dari tangan Ayara, hingga isi dari mangkuk tersebut habis.


__ADS_2