
Untuk melepas kebosanan yang sedang dialami oleh istrinya, Cakra berencana mengajak Ayara untuk berlibur. Sejak ia menikah, bekum pernah sama sekali ia berlibur bersama sang istri, disaat waktunya sudah ada. Namun semuanya itu ditolak oleh Ayara, dengan alih jika lebih baik menikmati waktu bersama dengan para sahabatnya. Setelah cukup lama berdebat, kini mereka sedang berada disalah satu mall terbesar.
"Untuk ini, jangan menolak. Mas sungguh semakin merasa bersalah kalau kamu menolaknya. Sekalian berbelanja bulanan untuk kebutuhan mansion dan dapur, sayang." Rayu Cakra.
"Dasar pemaksa sekali kamu mas, oh iya. Aku boleh beli sesuatu tidak mas?" Ucap Ayara yang sangat semangat.
"Apa itu? Tentu boleh sayang, mau beli apa?" Genggaman tangan Cakra sangat erat, bahkan disaat mereka berjalan pun menjadi pusat perhatian sebagian orang.
"Rahasia, hehehe." Senyuman Ayara membuat Cakra semakin mencintai wanita sederhana itu.
Mereka pun berbelanja berbagai barang yang di inginkan, tak lupa untuk kebutuhan dapur yang cukup banyak. Mereka melibatkan beberapa orang yang bertugas mengawal mereka kemana pun bepergian untuk membawakan belanja tersebut, tiba-tiba saja Cakra berbelok ke arah stan makanan asinan buah.
"Mas." Tegur Ayara yang merasa aneh pada suaminya.
__ADS_1
"Terlihat sangat mengiurkan, kamu mau sayang?" Tawar Cakra kepada Ayara.
Melihat bungkusan yang berada ditangan suaminya itu cukup lumayan banyak, Ayara mengkerutkan keningnya. Lalu ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum, berlanjut pada stan makanan berikutnya dan berikutnya, berikutnya.
Saat tiba di mansion, makanan tersebut telah ditata oleh para pelayan. Terlihat memang sangat mengiurkan, namun membuat Ayara kenyang lebih awal.
"Mas yakin, mau habisin ini semuanya?"
"Kalau tidak habis, masih ada tempat yang mau menampungnya sayang. Para pengawal dan karyawan yang lainnya sudah siap untuk menghabiskannya, ayo sayang kita nikmati." Sungguh bersemangat sekali Cakra kala itu.
Jika melihat dari cara suaminya itu menikmati asinan tersebut, membuat Ayara sedikit merinding. Sangat aneh, karena Cakra tidak pernah menyukai makanan tersebut.
Hal tersebut berlangsung selama beberapa minggu dan bisa dibilang hampir dua bulan lamanya, begitu pula dengan sahabatnya yang lain. Mereka merasa ada yang aneh dengan hobi Cakra kali ini, hampir mirip dengan orang yang sedang mengidam. Namun terlalu berlebihan, untuk ukuran orang normal saja. Menikmati asinan satu bungkus itu sudah sangat cukup, tapi jika sudah menikmati makanan itu dalam jumlah lebih dari tiga bungkus dalam satu hari. Hanya dirinya sendiri yang bisa tahu rasanya, sungguh Cakra benar-benar aneh.
__ADS_1
"Sayang, Ayara! Mas bawa asinan dan rujak buah, ayo makan sama-sama." Teriak Cakra yang baru saja tiba dimansion.
Lagi-lagi, Ayara dibuat kaget. Cakra membeli makanan itu dalam jumlah yang banyak lagi, sepertinya ia harus menghentikan kebiasaan suaminya itu.
Ayara mengambil beberapa bungkusan makanan tersebut dan memasukkannya ke dalam plastik sebelumnya, menyisihkan satu bungkus saja diatas meja.
"Sayang! Itu mau dibawa kemana?" Cakra yang melotot saat Ayara membawa makanan tersebut ke dapur.
"Cukup mas, kamu itu sebenarnya ada apa sih?! Makanan ini tidak baik jika dikonsumsi secara berlebihan, orang mengidam saja hanya menyentuhnya sedikit." Jawaban Ayara yang sudah menahan amarahnya.
"Tapi sayang, mas baik-baik saja. Bawa sini, mas mau makan." Cakra menghampiri Ayara yang sudah melebarkan kedua matanya kepada Cakra.
"Stop! Jika mas masih keras kepala seperti ini, akan aku buang makanan ini semuanya!" Nada suara Ayara yang meninggi atas sikap keras kepala suaminya.
__ADS_1
"Tapi..." Cakra ingin membela diri.
Kalimat yang akan Cakra ucapkan terhenti, ketika ia melihat sang istri tidak main-main dengan ucapannya. Ayara sudah siap membuang makanan tersebut ke dalam tempat pembuangan.