
Atas kesepakatan yang sudah mereka lakukan, membuat Eliza dapat bernafas lega. Karena ia berhasil lolos dari hukuman yang Yoshi berikan padanya, namun ia juga merasa menang akan apa yang sudah ia berikan pada Cakra.
"Lihat saja nanti, walaupun aku tidak mendapatkan dirinya ataupun hartanya. Paling tidak, pria itu akan menjadi pesakitan bahkan bersiap untuk melepas kehidupannya." Eliza tertawa seakan-akan usahanya itu telah berhasil sepenuhnya.
Kembali dengan keadaan di mansion utama milik Damendra, kini kamar Cakra sudah seperti ruangan rumah sakit yang terdapat banyak peralatan medis untuk menunjang kesehatan dari pasiennya.
"Paman, apakah dia masih bisa mendengar perkataan kita?" Tanya Ayara yang selalu berada disisi Cakra.
"Hem, dia masih bisa mendengar kita semuanya. Apa kamu tidak lelah menemani anak batu ini? Jangan sampai kamu ikut ikutan sakit Ayara. Jika tidak, anak batu ini dan Pedro akan menghabisi paman." Matteo menghempaskan tubuhnya untuk bersandar di sofa yang ada disana.
"Paman berlebihan, kak Pedro tidak akan menghabisi Paman. Ya, paling tidak hanya menguliti sebagian saja. Tapi, tidak tahu dengan pria batu yang Paman maksud." Ayara melirik ke arah Cakra, dimana kedua matanya terbuka saat mendengar pembicaraan keduanya.
"Biarkan saja anak batu ini, ini akibatnya terlalu keras kepala dan tidak mau mendengar nasihat orang tua. Oh iya, kamu mau paman jodohkan dengan seseorang tidak? Dia tidak kalah tampan dan juga berjaya didunia bisnis. Hidupmu akan terjamin bersamanya, mau?" Matteo semakin bersemangat untuk membuat Cakra terhibur dengan celotehan recehnya.
Hal itu membuat Ayara menahan tawanya yang sudah siap pecah, namun ia masih berusaha agar tidak melukai perasaan dari orang yang ada disisinya.
__ADS_1
"Kalau aku, mau saja paman. Hitung-hitung menambah persaudaraan dan teman, tidak ada salahnya juga kan." Ujar Ayara yang juga bersemangat.
Tiba-tiba saja, kedua mata itu terbuka serta menatap Ayara dengan tatapan yang begitu tajam. Seakan-akan ia mengerti dan tidak menyukai pembicaraan diantara Ayara dan juga Matteo, dengan melihat hal tersebut. Membuat Matteo berdengus dan menepuk punggung tangan yang tertancam jarum infus itu, untung saja tidak berteriak.
"Makanya, punya berlian itu dijaga. Bukan malah menghamburkan berlian demi batu kali yang tajam." Matteo berlalu dari keduanya dan keluar dari sana.
Sempat Ayara menggelengkan kepalanya atas sikap yang ditunjukkan oleh seorang Matteo kepada keponakannya, ungkapan rasa sayang dengan cara tersendiri. Ayara mengusap perlahan punggung tangan tersebut, memastikan jika tidak membuat jarum infus itu terlepas ataupun mengeluarkan darah.
"Paman Matteo hanya bercanda, jangan diambil hatinya."
Semenjak Cakra terbaring seperti saat ini, Ayara selalu berada disisinya untuk menemani serta membantu proses kesembuhan pria itu. Tubuh pria yang sebelumnya begitu terlihat kuat, kekar dan bersemangat. Kini, dia hanya bisa terbaring lemah dengan keadaan tubuh yang kaku. Hanya kedua bola matanya yang berfungsi, hal tersebut diakibatkan oleh rasa trauma berat dan juga adanya zat racun mengalir dalam aliran darah.
Atas ucapan tersebut, membuat Cakra benar-benar tertampar. Membenarkan apa yang telah diucapkan oleh pamannya Matteo sebelumnya mengenai Ayara, kini ia hanya bisa menatap wajah wanita tersebut. Menyesali semua yang sudah terjadi, namun ia bertekad untuk tidak akan terjerumus kesekian kalinya pada wanita yang salah.
Secara perlahan, Ayara membersihkan bagian tubuh Cakra yang dapat ia jangkau. Karena bagian sensitif lainnya, ia serahkan pada perawat yang memang benar-benar ditugaskan akan hal itu. Tak lupa ia memberikan berbagai titik pijatan pada tangan dan kaki, agar dapat menciptakan respon saraf geraknya.
__ADS_1
Melalui matanya, Cakra dapat melihat dan merasakan bagaimana ketulusan hati Ayara merawatnya. Dikala ia sedang dalam keadaan seperti saat ini, bahkan tidak sedikitpun ia merasa lelah dan mengeluh. Sudah hampir satu bukan lamanya ia dirawat oleh Ayara, tidak pernah ia mendengar wanita yang ia cintai ini menyerah untuk dirinya.
Ketika waktunya makan telah tiba, dengan begitu sabarnya Ayara menyuapinya hingga makanan itu habis. Memang membutuhkan waktu yang cukup lama dari orang biasa, karena pergerakan sensor motorik pada wajah Cakra belum berfungsi dengan baik. Dibantu dengan tangan untuk makanan itu tertekan dengan sempurna, makanan dalam bentuk cair namun mengeyangkan.
"Tuan, ayo kita berjemur. Akan kurang baik jika terus-terusan berada di dalam kamar, mau ya."
Tanpa menjawabnya pun, Ayara akan tetap membawa Cakra untuk menikmati sinar matahari di pagi hari menggunakan kursi roda. Dibantu oleh para sahabatnya yang lainnya, mereka silih berganti mengunjungi sebagai bentuk suport agar Cakra segera pulih.
Tidak hanya berjemur saja, Ayara terus memberikan pijatan-pijatan kecil pada bagian kaki, tangan dan punggung. Untuk keberhasilannya, Ayara sepenuhnya menyerahkan pada Tuhan.
"Wah, hari ini kamu terlihat sangat lelah kakak ipar. Sini, biar aku gantikan." Dzacky yang hadir bersama dengan Liam, segera menghampiri keberadaan mereka berdua.
"Benar Ayara, wajahmu terlihat begitu pucat. Biar aku dan Dzacky yang mengantikan, kamu lebih baik beristirahat saja dulu." Liam mengambil alih memijat kaki Cakra.
"Terima kasih kak, tapi aku tidak apa-apa." Jawab Ayara yang merasa tidak enak telah membuat orang lain khawatir.
__ADS_1
"Hem." Liam terlebih dahulu menyodorkan secangkir minuman hangat pada Ayara.
Memang dari awal Ayara membersihkan dirinya, Cakra melihat wajah wanita itu sangat pucat. Namun hal itu tidak cepat ia sadari, mungkin akibat terlalu lelah dalam merawat dirinya. Seandainya tangan dan kakinya bisa digerakkan, maka ia akan menolak Ayara mengurusinya agar bisa beristirahat.