
"Aku tidak mengerti, apa yang kakak maksud?" Ayara semakin diliputi rasa penasaran yang begitu besar.
Liam perlahan menceritakan bagaimana keadaan Cakra, hingga mereka membuat keputusan untuk membawa Ayara menjauh dari kehidupannya. Itu semuanya bertujuan untuk membuat Cakra menyadari akan sikapnya yang terlalu memaksakan keadaan, tidak ada yang tahu alasan yang tepat sehingga Cakra berani menerima kembali wanita dari masa lalunya.
.
.
.
.
Ketika mereka telah sampai, dengan cepat Damendra bersama Yuri melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion. Ruangan pertama yang mereka tuju adalah kamar Cakra, dimana mereka harus memastikan keadaan dari putranya. Walaupun sang putra sudah membuat sesuatu hal yang cukup menguras emosi, namun Cakra tetaplah putranya.
"Tuan, nyonya besar." Jhony menyambut mereka berdua di depan kamar Cakra.
"Bagaimana?" Damendra memastikan keadaan yang ada
__ADS_1
"Ada tuan Matteo di dalam, tuan. Dia yang akan menjelaskan semuanya pada anda." Jhony mempersilahkan keduanya untuk segera masuk ke dalam kamar putranya.
Saat pintu kamar terbuka, mereka melihat Cakra terbaring lemah di atas tempat tidur dengan Matteo disisinya. Betapa hancurnya hati seorang ibu, saat melihat putranya kembali menghadapi masa sulit yang dulu pernah dialaminya.
Dengan perlahan Yuri menghampiri dimana Cakra berada, Matteo memberikan ruang untuk kakak perempuannya itu berada disisi sang putranya. Dalam tatapannya yang begitu dalam, Yuri meraih tangan Cakra lalu menggenggamnya.
"Kenapa kamu terlalu pintar untuk kembali menerima dia nak, kenapa Cakra?" Yuri menaruh mukanya di atas genggaman tangan keduanya.
"Mommy memang kecewa padamu, tapi tidak begini jadinya. Cukup yang duku saja kamu terluka, sudah cukup nak." Air mata itu tak tertahankan sehingga membasahi kedua telapak tangan mereka.
"Jangan menanggis, aku tidak suka melihatmu seperti ini. Kuatkan dirimu." Damendra tersenyum dengan halaman nafas beratnya.
Kini Matteo mendekat, ia menjelaskan semuanya yang ia dapatkan setelah memeriksa kondisi keponakannya itu. Bahkan Kali ini, gejala yang Cakra perlihatkan cukup mengkhawatirkan. Jika tidak tepat penanganannya, maka nyawa akan menjadi taruhannya.
"Lalu kita harus bagaimana? Tidak bisakah kita menggunakan pengobatan seperti dulu?" Ucap Yuri yang begitu khawatir pada sang putranya.
"Tidak kak, pengobatan seperti itu tidak bisa kita gunakan saat ini. Karena situasi dan keadaannya berbeda, Cakra tidak bisa mengontrol emosinya. Sikapnya yang bisa berubah kapan saja, bahkan tanpa kita sadari." Matteo harus berjuang keras untuk kali ini.
__ADS_1
"Jelaskan, aku tidak mengerti." Yuri menimpa ucapan Matteo kepadanya.
Menarik nafasnya perlahan, Matteo kemudian menjelaskan mengenai apa yang ia katakan sebelumnya. Sehingga Yuri mengerti, lalu ia kaget dan seketika tubuhnya luruh jatuh namun ditahan oleh Damendra.
Dalam keterkejutannya sehingga hampir tidak sadarkan diri, Yuri menatap suaminya dengan tatapan sendu. Berharap apa yang ia dengar adalah sesuatu yang tidak benar.
"Mom!"
Terdengar suara lirih yang memanggil dengan tubuh yang tidak berdaya, Cakra tersadar dari lelapnya.
"Iya nak, ini mommy. Apa ada yang kamu butuhkan?" Yuri segera merespon apa dilakukan oleh Cakra.
"Tidak mom, mmm ada Eliza? Kenapa aku tidak melihatnya mom."
Deg!
Deg!
__ADS_1