Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.15


__ADS_3

Selepas dari penjelasan sang paman, Cakra bergegas menemui Emry dan yang lainnya di tempat mereka biasa bertemu. Ia lalu menceritakan apa yang terjadi, meminta kepada Emry untuk segera mencari tahu mengenai apa yang menjadi penyebab terjadinya kejadian tersebut.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" Eliot menanyakan hal tersebut.


"Paman Matteo sedang mengoperasinya, cairan di kepalanya harus segera di keluarkan." Jelas Cakra dengan raut wajah yang benar-benar panik dan juga dingin.


Dengan menggunakan berbagai koneksi yang mereka miliki, dan tentunya seseorang yang sudah menjadi harapan mereka selama ini. Dia adalah Pedro, sahabat yang menjalani dua dunia bisnis. Di ibaratkan sebagai warna hitam untuk bisnis dunia bawah yang ia jalani, semuanya itu tertutup oleh status dirinya yang menjadi seorang CEO dari perusahaan yang cukup besar selain dari ke tiga temannya yang lain.


Dalam waktu dari dua jam, mereka mendapatkan fakta mengenai kejadian yang menimpa Ayara. Sisi lain dari seorang Cakra kini kembali, maka dari itu tidak ada yang akan bisa menghalanginya. Walaupun itu adalah sahabatnya sendiri, bahkan orang terdekatnya pun sama saja.


Dengan mengendarai sendiri mobilnya, Cakra kini menuju rumah yang dimana ia pernah menghantarkan Ayara pulang. Setibanya diaana, dengan cepat ia berjalan memasuki pekarangan rumah tersebut, tangannya begitu kasar menekan tombol bell yang ada.


"Sebentar." Ada suara dari dalam rumah tersebut.


Saat pintu terbuka, terlihat wanita paruh baya yang berpenampilan seperti orang biasa. Bik Leha, ia segera membukakan pintu ketika terdengar suara bell.


"Dengan siapa ya, ada keperluan apa?" Tanya Leha dengan menatap Cakra.


"Dimana wanita si**an itu?! Katakan!" Ucap Cakra dengan meninggikan nada suaranya.


Mendadak menjadi ketakutan akan sikap Cakra saat itu, membuat Leha seperti terkena sembaran petir di siang hari. Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu, Cakra berjalan dengan mudah memasuki rumah tersebut dan mencari keberadaan targetnya.


Tak lama kemudian, kehadiran dari para sahabatnya Cakra disana untuk memastikan semuanya.


"Ada apa sih ribut-ribut, tidak sopan sekali." Terdengar suara wanita dari arah anak tangga, Rosa segera mencari sumber kegaduhan tersebut.


"Iya ma, berisik sekali. Bik Leha! Ada apa?!" Elina mengikuti Rosa untuk turun.

__ADS_1


Awalnya mereka tidak menyadari dengan kehadiran dari para pria disana, ketika kaki mereka berada pada pertengahan anak tangga. Terlihat dengan begitu jelas, wajah-wajah tampan dari beberapa pria yang berada disana. Hal itu membuat Rosa dan Elina salah tingkah, lalu terjadilah drama diantara ibu dan anak itu.


Dor!


"Arkh!" Kedua wanita itu berteriak dan juga Leha mengikutinya.


Suara ledakan dari senjata yang kini berada di tangan Pedro, membuat wanita disana menjadi kaget. Pedro bukanlah orang yang menyukai drama dari orang-orang seperti Rosa dan juga Elina, untuk hal itu. Ia sengaja melepaskan tembakan ke arah atas, agar kedua wanita itu sadar diri.


"Tuan, jangan sembarang menembak!" Ketus Rosa.


"Kalian semuanya siapa? Ada keperluan apa masuk ke dalam rumah orang tanpa permisi, kalian mau mencuri ya!" Elina mulai menunjukkan pembelaan diri, agar terlihat elegan dihadapan para pria tampan disana.


Semua pria itu menahan diri untuk tidak langsung mengeksekusi kedua wanita dihadapannya, namun bukan Cakra jika tidak langsung tersukut emosinya.


"Arkh! Tuan, lepaskan!" Baik Rosa maupun Elina berteriK, saat rambut indah mereka ditarik dengan paksa oleh Cakra.


"Diam! Ini tidak setimpal dengan apa yang sudah kalian lakukan, akan aku pastikan kalian berdua menerima balasannya!" Tangan kekar itu menghempaskan kedua wanita tersebut hingga tersungkur ke lantai.


Tidak ada satu pun dari para sahabatnya yang menghalangi sikap Cakra tersebut, mereka sangat mengetahui siapa Cakra. Dan baru kali ini, mereka menyaksikan jika sahabatnya itu begitu menyukai dan mencintai wanita dari yang sebelumnya.


Bahkan bik Leha tidak bisa berbuat apa-apa, ia masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Dimana, secara tiba-tiba mereka didatangi oleh beberapa pria yang bisa dikatakan berpenampilan cukup terpandang. Namun, suasana disana terasa begitu menegangkan.


"Kalian apa-apaan, datang-datang langsung saja menuduh kami." Rosa memang tidak tahu, apa maksud yang dikatakan oleh Cakra padanya.


"Diam! Atau akan ku robek mulutmu yang berbisa itu." Kali ini, Dzacky yang berteriak.


" Kenapa kami harus diam? Kalian itu siapa? Pergi dari sini, pergi!" Elina murka dengan apa yang dilakukan Dzacky pada dirinya.

__ADS_1


Seakan meluapkan rasa emosional yang ada, Dzacky mencengkram leher Elina begitu kuat. Hal itu membuatnya menjadi kesulitan untuk bernafas, melihat anaknya tersakiti. Rosa berusaha melepaskan apa cengkram tangan tersebut dari leher anaknya.


"Lepaskan, kau bisa membunuh anakku!" Rosa memukul Dzacky agar melepaskan tangannya.


Brugh!


Lemparan keras itu membuat Elina dan Rosa kembali tersungkur, dan kali ini Pedro pun beraksi.


Mengeluarkan sesuatu yang berkilauan dari balik saku jas yang ia kenakan, lalu menunjukkannya dihadapan kedua wanita tersebut.


"Kalian masih ingin bernafas? Jangan pernah menyentuh Ayara. Jika tidak, maka benda ini akan mengukir indah pada tubuh kalian berdua." Kalimat dengan penuh penekanan itu, membuat Rosa maupun Elina bergidik ngeri.


Apalagi dengan benda yang dimainkan oleh Pedro bukanlah benda asing, namun itu sangat tajam dan bisa menghilangkan nyawa siapapun.


"Ayara." Elina dan Rosa bergumam, ternyata mereka datang karena Ayara.


Mendengar nama tersebut, membuat bik Leha terperangah. Ia sangat senang mendengar nama nonanya disebut ada yang melindunginya, lalu ia memberanikan diri untuk mendekati mereka.


"Tu tuan, maaf. Non Aya, kalian mengatakan non Aya." Dengan ragu-ragu dan nampak sekali rasa ketakutan itu pada wajah wanita paruh baya tersebut.


"Iya benar, bik Leha?" Pedro mendekati.


"I ya iya tuan, saya bik Leha. Non Aya bagaimana tuan, apa yang terjadi pada non Aya?"


"Mulai sekarang, bereskan semua barang-barang milik Ayara dan bibik. Mulai saat ini, kalian tidak pantas untuk tinggal dirumah ini." Cakra memotong pembicaraan Pedro dan menegaskan.


"Tidak, Aya tidak boleh keluar dari rumah ini. Kalian tidak berhak untuk membawanya." Rosa bangkit dan tidak terima akan apa yang dilakukan para pria-pria tersebut.

__ADS_1


Sementara yang lainnya masih bersitegang dengan pemilik rumah, Emry mengarahkan bik Leha untuk segera bergegas membereskan barang-barang milik mereka dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam mobil.


"Aku tegaskan pada kalian, jangan pernah menyentuh dan berhubungan lagi dengan Ayara. Atau kalian akan menerima akibatnya." Cakra menegaskan kalimatnya dan meninggalkan rumah tersebut bersama para sahabatnya.


__ADS_2