Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.41


__ADS_3

...'Tuan muda kambuh, kami menuju mansion.'...


Pesan singkat itu sampai pada yang dituju, dimana saat itu semuanya sedang berkumpul bersama. Ketika ponsel milik Damendra bergetar, disaat itu pula ia segera melihat dan membaca pesan tersebut. Sempat terdiam dalam beberapa saat, lalu ia mempersiapkan semuanya untuk kembali.


"Sayang, kita harus pulang." Damendra terlihat begitu dingin tanpa penjelasan.


"Ada apa dad? Kita masih mau disini, mommy masih kangen sama Ayara." Jawab Yuri yang tersenyum.


"Ada sesuatu yang mendesak, lain kali kita akan lebih lama berada disini." Tutur Damendra yang sudah begitu gelisah.


Ayara dapat menangkap pergerakan dari sikap yang ditunjukkan oleh daddy nya, dimana perasaannya seperti tidak baik-baik saja saat itu.


"Mom, benar kata daddy. Masih ada waktu di lain hari untuk kita bersama lagi, mommy juga butuh istirahat." Ayara mencoba memberikan pengertian kepada Yuri, walaupun ia masih gelisah akan ekpresi yang ditunjukkan oleh Damendra.


"Tapi mommy masih kangen sama kamu, sayang. Lagian daddy ini kenapa tiba-tiba mau pulang, padahal sudah janji akan lama disini." Gerutu Yuri yang masih kesal akan sikap Damendra padanya.


"Mom, daddy pasti punya alasan yang tepat untuk itu. Kan masih bisa video call, mommy ikut daddy ya. Tu, daddy sudah menunggu." Raut wajah Damendra semakin dingin, itu lah yang Ayara dapatkan.


Mau tidak mau, pada akhirnya Yuri harus mengikuti apa yang suaminya katakan. Sempat ia merasa kesal dengan sikapnya itu, setelah mendapatkan nasihat dari Ayara. Ia perlahan luluh, dan menurutinya.

__ADS_1


Begitu pula dengan ke empat pria lainnya, mereka juga ikut berpamitan pada Ayara. Hal itu membuat Ayara semakin bertanya-tanya akan apa yang terjadi, ingin rasanya ia bertanya akan apa yang sedang terjadi.


"Daddy, kenapa sih buru-buru pulang. Kita disini belum lama, dasar menyebalkan." Gerutu Yuri pada Damendra saat akan menuju mobil.


"Cakra kambuh, kita harus segera pulang." Jawaban tegas Damendra membuat Yuri terdiam, tentunya ia sangat kaget.


"Cakra! kenapa tidak bilang dari tadi, kalau tahu begini. Sudah dari tadi mommy akan pulang. Di dimana?"


Mereka tidak menyadari akan seseorang yang masih berada diantara mereka, hal itu sangat disesali oleh ke empat pria yang sedang terpaku dengan apa yang mereka saksikan.


"Huh! Apa yang akan terjadi setelah ini." Eliot berdengus melepas rasa geramnya.


"Mampus kita semuanya." Dzacky menepuk keningnya akan kecerobohan yang sudah terjadi.


"Ada apa dengan Cakra, mom?" Suara Ayara membuyarkan semuanya.


Degh!


Suara itu menjadikan Damendra dan juga Yuri mendadak tegang, dan itu menjadikan situasi disana benar-benar seperti horor. Ayara semakin mendekati Yuri dengan penuh tanda tanya, kini ia berhadapan langsung dengan keduanya.

__ADS_1


"Bawa aku bersama kalian." Tiba-tiba saja Ayara menegaskan ucapannya dan itu membuat semuanya menjadi kaget, terutama Damendra.


"Nak, mommy bisa menjelaskannya."


"Bawa aku bersama kalian, kalian sebenarnya menutupi hal apa dariku? Jawaba mom, dad. Aku butuh penjelasan dari kalian, kenapa kalian diam." Ayara semakin menegaskan perkataannya, dengan menatapi satu persatu dari semuanya yang berada disana.


Semuanya nampak begitu kompak dalam diamnya, seketika itu juga tanggisan Ayara pecah. Namun ia tidak mengeluarkan apapun dari mulutnya, hanya air mata yang mewakili semua perasaannya kala itu.


Menyadari akan sesuatu yang tidak beres, Liam keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri Ayara serta yang lainnya. Setelah mengetahui apa yanh terjadi, Liam menarik Ayara untuk berada disampingnya.


"Ayara akan bersamaku, paman dan bibi lebih baik secepatnya tiba disana." Liam menundukkan kepalanya agar Damendra menyetujuinya.


Kepalan tangan pada pria baru baya itu menguat, serta Yuri yang sudah menahan tanggisannya agar tidak pecah. Akhirnya Damendra berjalan menghampiri Ayara yang kini berada di belakang tubuh Liam, ia sudah menyadari jika semuanya ini akan terjadi jauh sebelum mereka mengasingkan Ayara.


"Maafkan Daddy, ikutlah bersama Liam. Semuanya akan terjawabkan disana." Damendra meraih Ayara dan mengusap kepalanya dengan perlahan.


Lalu mereka meninggalkan semuanya memasuki capung raksasa yang sudah siap mengudara, tidak ingin menunda keberangkatan mereka. Liam menarik Ayara untuk masuk ke dalam mobilnya, mereka pun berangkat dengan beriringan satu sama lainnya.


Selama dalam perjalanan, Ayara hanya terdiam. Banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam kepalanya saat itu, ingin marah namun ia tidak mempunyai hal apapun disana. Hanya saja, Liam bukankah seseorang yang membiarkan semuanya menjadi semakin terpuruk.

__ADS_1


"Cakra membutuhkanmu, apa kamu siap akan semuanya?"


Liam mulai menceritakan apa yang terjadi pada Cakra, tidak ada yang terlewatkan sekecil apapun dari Ayara.


__ADS_2