Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC. 56


__ADS_3

"Kenapa? Apa karena sekarang aku lumpuhnseperti ini, itu yang membuatmu ragu atau memang tidak ingin bersamaku? Hah, baiklah. Aku tidak akan menanyakan hal ini lagi." Cakra membuang tatapannya agar tidak fokus pada Ayara.


Ia menyadari jika akan terus mendapatkan penolakan dari wanita yang begitu ia cintai, entah alasan apa yang membuatnya enggan menjawab semuanya itu. Namun kini, Cakra ingin memperjuangkan wanita tersebut, sudah cukup ia menyia-nyiakannya selama ini.


Begitu pun bagi Ayara, ia sebenarnya juga mencintai Cakra. Akan tetapi, dalam pikirannya masih terbebani dan terbayang-bayang akan perbedaan yang ada diantara mereka begitu nyata. Cukup sulit untuk dirinya menerima semuanya ini, ditambah dengan kehadiran wanita yang begitu baik dan menganggap dirinya menjadi teman yang baik.


"Sudah selesai tuan, permisi." Ayara pamit untuk mempersiapkan keberangkatan mereka untuk kontrol ke rumah sakit.


Kepergian Ayara dari sisinya saat itu, menambah rasa frustasi bagi Cakra. Harus bagaimana lagi ia bersikap, agar Ayara bisa menerima dirinya.


"Sayang, Ayara." Yuri memanggil Ayara saat hendak ke dapur.


"Iya mom, ada apa?" Ayara segera menaruh nampan berisikan piring kotor dan menghampiri Yuri.


"Sini nak, bagaimana kemajuan yang Cakra tunjukkan? Mommy merasa sedih sampai saat ini masih begitu saja dianya."


Ada rasa bersalah yang teramat besar dalam hati Ayara, yang dimana ia harus menutupi semua kemajuan yang ditunjukkan oleh Cakra saat ini. Apalagi, ia saat ini dapat merasakan sesuatu pada kakinya.


"Mommy yang sabar ya, semua usaha kita pasti tidak akan sia-sia." Ayara berusaha menenangkan Yuri yang terlihat nampak begitu sedih.


"Benar nak, terima kasih sayang. Kamu sudah begitu sabarnya menghadapi putra mommy itu, kami pun seperti sudah pasrah akan sikap keras kepalanya." Yuri berharap jika Cakra dapat berubah dengan kehadiran Ayara dalam kehidupan mereka.

__ADS_1


"Doakan saja mom, karena doa seorang ibu itu tidak ada jaraknya dan dengan cepatnya didengarkan oleh Sang Pencipta. Mommy jangan putus asa ya."


"Entahlah nak, mommy dan daddy sudah benar-benar jenuh akan terus-terusan menghadapi sikap Cakra seperti ini."


Hanya senyuman yang bisa Ayara berikan, ia tidak dapat masuk terlalu jauh dengan perasaan dari keluarga ini. Disaat mereka sedang asik bercengkrama, tiba-tiba saja terdengar suara benda jatuh dari arah kamar atas yaitu kamar Cakra. Hal itu membuat keduanya kaget, dengan cepat mereka berdua menuju sumber suara.


"Cakra! Suara apa itu?" Panik Yuri saat tiba dikamar putranya.


Disana terlihat Cakra sedang mencoba berdiri dari kursi rodanya, karena kekuatan otot kakinya belum pulih. Itu membuat dirinya terhempas dan bertabrakan dengan sebuah pajangan kecil didekatnya, benda itu hancur menjadi kepingin.


"Aduh kamu ini, sabar sedikit kenapa sih. Tanaman dalam dirimu untuk segera sembuh, apa kamu tidak kasihan sama Ayara yang selalu membantu kamu." Celoteh Yuri yang bersama Ayara sedang membantu Cakra untuk kembali duduk di kursi rodanya.


"Jam berapa?" Pertanyaan singkat mengenai kepergian mereka ke rumah sakit.


"Mmm, satu jam lagi tuan." Jawab Ayara yang merasa aneh dengan sikap Cakra.


"Ish, mommy dicuekin. Ya sudah, Ayara bantu Cakra untuk bersiap. Mommy mau ke kamar dulu, kepala ini puding tiba-tiba." Hindar Yuri dari tatapan mata sang putra yang mengisyaratkan untuk meninggalkan mereka berdua.


"Mommy sakit? Biar Ayara bantu ke kamarnya ya." Ayara menjadi cemas saat Yuri mengatakan jika dirinya pusing.


...Dasar anak ini, berani-beraninya menatap mommy nya seperti itu. Tidak puas apa, tadi sudah berdua saat sarapan. Ish, menjengkelkan sekali kamu Cakra. Awas saja nanti, mommy akan buat perhitungan denganmu....

__ADS_1


"Tidak usah nak, mommy hanya kurang tidur saja. Nanti pulih kembali kok, kalian nanti hati-hati ya." Yuri mempercepat langkah kakinya untuk keluar dari kamar tersebut, sungguh kepalanya benar-benar menjadi pusing karena Cakra.


Sepeninggalan Yuri dari kamar tersebut, membuat Ayara tersadar jika pria yanh dihadapannya kali ini sedang kesal. Maka dari itu, ia pun harus membuat mood Cakra kembali baik. Jika tidak, maka jadwal kontrol hari ini akan beralih ke hari lain.


"Kenapa, pasti gara-gara masalah tadi?" Ayara menghela nafas beratnya saat kembali berhadapan dengan pria dingin ini.


Tidak ada jawaban sama sekali dari Cakra, ia seakan-akan menutup mulutnya rapat-rapat. Dengan itu, Ayara juga mengambil sikap untuk segera membawanya menuju lantai bawah. Agar memudahkan dirinya untuk tidak naik turun saat akan berangkat, namun baru saja beberapa langkah. Dirinya tertarik dan terjatuh di atas pangkuan kaki Cakra, pandangan keduanya bertemu.


Tanpa aba-aba, Cakra mencuri kesempatan untuk dapat mendaratkan bibirnya pada Ayara. Secepat kilat, dan itu berhasil membikin Ayara terdiam.


"Apa yang kalian lakukan?!!" Suara teriakan keras bergema dalam ruang kamar tersebut.


Dan itu membuat Ayara maupun Cakra kaget, Ayara pun segera beranjak dari pangkuam Cakra. Akan tetapi, hal tersebut mendapatkan pertahanan dari tangan Cakra.


"Kalian berdua! Minggir kamu!" Celine yang datang secara tiba-tiba, lalu ia menyingkirkan Ayara dari sisi Cakra dengan begitu kasar.


Brugh!


...Ayara!...


Ingin rasanya Cakra membuat pembalasan pada Celine, namun dirinya tidak ingin rahasia dari perubahan yang diketahui oleh orang lain. Sehingga dengan teganya ia harus membiarkan Ayara terhempas begitu saja di lantai, hal itu terjadi karena Celine merasa cemburu pada Ayara.

__ADS_1


__ADS_2