Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.33


__ADS_3

"Sial! Kemana pria itu, kenapa main tinggal saja." Keluh Cakra yang baru menyadari jika keberadaan Emry sudah tiada di negara tersebut.


Sibuk menemani Eliza yang baru saja ia temui, seperti sedang kilas balik dengan hubungan mereka yang terdahulu. Sehingga membuat Cakra melupakan orang-orang yang berada disisinya, bahkan dengan mudahnya ia melepas pertemuan dengan salah satu pihak investor terbesar untuk perusahan. Walaupun tanpa ia ketahui, Emry dan Damendra sudah mengatasi hal tersebut.


"Sayang, kamu sudah siap?" Eliza yang baru saja masuk ke dalam apartemen milik Cakra.


"Hem, kamu masih seperti yang dulu." Mendengar suara itu, Cakra langsung mengalihkan pandangannya pada Eliza yang menurutnya sangat cantik seperti dahulu.


"Terima kasih sayang, nanti setelah dari berbelanja. Kita kemana lagi? Kalau tidak, gimana kalau kita jalan-jalan ke kota seberang. Disana suasananya begitu nyaman dan tenang, cocok untuk kita berlibur." Rencana panjang yang Eliza tuturkan, seakan-akan dirinya kini sudah kembali menjadi wanita spesial untuk Cakra.


"Selalu untukmu, baby." Cakra berkata manis bagai gula.


Senyuman seringai terlihat diwajah Eliza, namun tidak disadari oleh Cakra. Mereka pun bergegas membereskan semuanya dan melanjutkan perjalanan dari rencana yang Eliza susun.


Setibanya mereka di salah satu pusat perbelanjaan terbaik di negara tersebut, bahkan hampir setiap toko yang menjual barang-barang tertentu mereka masuki dan membeli produknya. Benar-benar Cakra sudah dibutakan oleh cinta, yang dimana cinta itu tulus atau tidaknya.


Ketika Eliza sedang berbelanja yang lainnya, Cakra berusaha menghubungi Emry berulang kali. Bahkan ke enam sahabatnya yang lain pun ia hubungi, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang merespon.


"Kemana mereka semua?! Dan Emry seakan menghilang di telan bumi, arkh." Cakra merasa prustasi akan keadaannya.


Untuk kesekian kalinya Cakra menghubungi mereka semuanya, sampai pada akhirnya ia menyerah. Eliza menghampirinya dan meminta padanya untuk membayar apa yang sudah ia beli. Setelah puas berbelanja, mereka berhenti pada salah satu restoran yang cukup mewah. Berbagai makanan bintang lima tersedia disana, bagi Cakra itu semuanya tidak menjadi masalah.


"Apa semuanya sudah siap, sayang? Pasti liburan kita nanti akan terasa sangat menyenangkan disana, ah aku sudah menantikannya." Eliza begitu antusias akan perjalanan yang telah mereka rencanakan.


"Kamu atur saja semuanya, dan ini. Gunakan untuk semua keperluanmu." Cakra menyerahkan sebuah card berwarna gold kepada Eliza.


Sejenak kedua mata Eliza menatap card tersebut, dimana ia sangat berharap jika Cakra memberinya kartu hitam yang tak terhingga batasnya. Ada sedikit kekecewaan yang Eliza rasakan, namun dengan secepat ia menerima card tersebut.


...Yah, lumayan lah daripada tidak sama sekali. Toh kalau kurang, aku bisa minta lagi. Hahaha....


"Terima kasih sayang, kami selaku memperhatikanku. Sungguh beruntungnya wanita yang bisa menjadi pendampingmu ini, hanya kebodohan saja sudah menghampiri diriku." Menggunakan wajah sedihnya, Eliza menunduk seakan-akan begitu menyesali atas apa yang telah terjadi.


"Sudah baby, tidak usah dipikirkan lagi. Dan harus kamu ingat, jika aku masih begitu mencintaimu." Cakra menggenggam tangan Eliza, memberikan keyakinan terhadap apa yang ia katakan.

__ADS_1


Mereka berdua semakin larut dalam nuansa romantis yang sempat tertunda dalam beberapa tahun, bersiap untuk melaksanakan liburan yang di inginkan oleh Eliza. Namun ketika Cakra hendak masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka, ponsel miliknya bergetar.


Mommy calling...


Segera saja Cakra menerima panggilan tersebut, dimana ia tidak akan pernah bisa untuk menolak apapun yang dilakukan wanita itu kepadanya. Karena Yuri merupakan wanita yang sangat berarti dalam kehidupannya.


"Ya mom, ada apa?"


"Pulang!!! Sekarang juga pulang !!!"


Tut tut tut...


Entah harus apa yang Cakra lakukan, karena ia sudah berjanji kepada Eliza untuk berlibur. Apalagi mereka sudah akan berangkat menuju tempat tersebut, secara tiba-tiba mommy meminta diri untuk pulang saat itu juga.


"Sayang, ayo masuk. Keburu malam nanti."


Cakra nampak tertunduk dengan masih menggenggam ponselnya, berada dalam keadaan yang cukup genting. Dimana ia harus memilih diantara kedua pilihan yang ada, dan itu sama-sama terasa begitu sulit.


...'Pulang atau kau bukan anak mommy dan daddy lagi, akan mommy buat kamu menyesal.'...


Hembusan nafas panjang dan berat itu keluar dari mulut Cakra, sudah jelas apa yang harus ia pilih.


"Baby, maafkan aku. Sepertinya kita tidak bisa berlibur sekarang, tidak apa-apakan?" Cakra menatap Eliza yang sudah menatapanya tajam.


"Apa?! Kamu bercanda kan? Ini semuanya sudah siap, masa harus dibatalkan!" Dengan begitu kaget dan juga marah, Ekiza tidak terima akan apa yang sudah Cakra lakukan.


"Tapi baby, aku harus pulang sekarang. Pekerjaan disana membutuhkan aku." Cakra mencari alasan untuk kepulangannya.


"Tidak mau, sudah siap semuanya dan mendadak jadi batal. Jika kamu tidak mau pulang, pulang saja sana. Biar aku sendirian yang berlibur, dasar pria pembohong." Ketus Eliza yang menutup pintu mobil dengam begitu kuat.


Brakh!


Mobil tersebut melaju begitu saja, meninggalkan Cakra yang masih berdiri terdiam disana.

__ADS_1


"Pembohong, pembohong." Kata itu secara berulang ia sebutkan, seperti sebuah kata yang begitu mendalam bagi dirinya.


Untuk sejenak ia termenung memikirkan kata tersebut, hatinya terasa begitu tersentil setelah mendengarnya.


"Ayara!"


Teringat akan sebuah nama seseorang, membuat Cakra menjadi semakin kalut dan merasa bersalah. Ia bergegas membereskan semuanya dan langsung kembali ke negara, meninggalkan Eliza yang secara terus menerus selalu menjadi bayangan dalam hidupnya.


.


.


.


.


Mendapati suasana baru yang ia terima, membuat Ayara lebih banyak termenung. Memandangi sebuah hamparan luas padang rumput yang begitu menenangkan, melepas semua beban pikiran yang berada di dalam kepala untuk sejenak.


"Ayo pulang, langit sudah semakin gelap." Suara Pedro membuat Ayara tersadar jika ia sudah terlalu lama berada disana.


"Ah iya, maafkan aku." Ayara mengikuti langkah kaki Pedro dari arah belakang.


Semenjak rencana dari tetua mereka, Damendra. Kini Ayara berada disebut kota kecil yang begitu jauh dari keramaian, hal tersebut sudah menjadi bagian dari rencana yang ada. Walaupun sejauh apa jaraknya, tidak membuat ke enam pria itu bosan.


Menggunakan akses yang Pedro miliki, semua informasi mengenai Ayara telah tertutup. Jika ada yang mencarinya, maka Pedro dan anggotanya akan bergerak untuk menjadi dinding penutupnya.


"Kak, kalian sudha mau pulang?" Tanya Ayara kepada Pedro saat mereka sudah sampai di tempat Ayara tinggal.


"Sepertinya iya, kenapa?" Pedro menaikan salah satu alis matanya.


"Tidak ada, aku hanya sedikit merasa bosan. Apa boleh aku mencari teman disini?"


Semuanya bergantian menatap Ayara, memang benar jika disana hanya ada Ayara dan dua asisten rumah tangga. Mereka nampak mempertimbangkan permintaan sederhana itu.

__ADS_1


__ADS_2