Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.61


__ADS_3

"Selamat ya kak, semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warrohmah." Ucap Ayara kepada kedua orang dihadapannya.


"Aamiin, terima kasih Ayara. Kamu juga ya, jangan terlalu lama mengambil keputusan." Aina memeluk Ayara dan membisikan di telinganya.


"Aamiin, doakan saja kak."


Begitu bahagianya Ayara bisa menyaksikan momen yang begitu sakral dari orang yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri, melangsungkan pernikahan yang cukup sederhana.


"Hei, kalian melupakanku. " Pedro menghampiri keduanya yang sedang asik mengobrol.


"Tuh kak, pawangmu sudah datang. Saatnya aku harus pamit undur diri, soalnya nanti kena semprot pakai omelan panjang. Hehehe." Ayara yang mendapati Pedro menghampiri mereka.


Namun sebelum Ayara sempurna melarikan diri, telinganya sudah berada dalam tarikan tangan kekar itu. Yang dimana membuat dirinya meringgis, serasa ia masih seperti anak kecil yang sedang mendapatkan hukuman.


"Kak, malu. Lepasin." Ayara meringis menahan tangan Pedro di telinganya.

__ADS_1


"Mau kemana? Kabur?" Melihat Aina yang tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, membuat Pedro melepaskan tangannya dari telinga Ayara.


"Tidak kak, hanya mau pulang saja. Hahaha, maaf." Ayara semakin manja akan kebersamaannya.


"Kak Ayara itu bukan kau pulang atau kabur kak, katanya mau memberikan waktu untuk kalian berdua bersama. Iya kan kak?" Andin menghampiri Ayara dan turut bekerjasama untuk mengoda pasangan suami istri itu.


Atas ucapan tersebut, akhirnya membuat merah wajah Aina yang lalu menunduk. Sedangkan Pedro, ia terdiam dan tidak tahu harus berkata apa. Karena kedua adiknya itu begitu bahagianya menggoda mereka, menghentikan godaan dari keduanya. Aina menghampiri dengan membawa ponsel milik Pedro, lalu mengerjakannya kepada pemiliknya.


"Mas, ada telfon." Aina dengan lembut berbicara kepada Pedro.


Saat kedua mata itu menangkap dan mengetahui siapa yang menghubunginya, dengan cepat Pedro menerimanya dan sedikit menjauh dari ketiga wanita tersebut. Dari sorot wajah itu menyatakan jika terjadi sesuatu yang cukup serius, karena Pedro seketika memperlihatkan sikap dinginnya.


Tak lama kemudian pembicaraan tersebut telah selesai, untuk sejenak melepas ketegangan yang ada. Pedro menghela nafasnya dengan cukup berat, kembali menghampiri mereka.


"'Kita semuanya bersiap, terutama kamu Ayara."

__ADS_1


Seketika raut wajah Ayara begitu kaget, seakan ia menangkap situasi yang ada. Lalu Pedro memejamkan kedua matanya dan sedikit menganggukkan kepala kepada Ayara, ada keraguan yang melekat pada hati Ayara.


"Sayang, tolong kamu siapkan semuanya ya. Kita akan kembali ke kota, ada sesuatu yang mendesak. Huh, bantu Ayara ya." Pedro menarik Aina untuk dekat padanya, keduanya bergeser sedikit menjauh dari Ayara.


Penjelasan demi penjelasan Sudan Pedro katakan pada Aina, agar ia tidak kaget dengan apa yang akan terjadi nantinya disana. Memberikan pengertian agar sang istri bisa membantu Ayara dalam menghadapi situasi nantinya.


"Aku mengira, jika perjalanan hidupku sudah begitu sulit mas. Tapi ternyata, hah. Semoga Ayara bisa melewatinya dengan baik, lebih baik kita segera berangkat saja mas. Kita tidak tahu akan apa yang terjadi disana nantinya, ayo." Aina mengerti akan penjelasan dari suaminya, walaupun hari tersebut merupakan hari bahagianya mereka.


Tapi itu tidak membuat mereka berkecil hati, karena ada sesuatu yang lebih penting dari hal tersebut. Mereka pun telah siap dan bergegas menuju kota, dan rumah sakit adalah tujuan utamanya.


Selama dalam perjalanan, tatapan mata Ayara nampak begitu kosong. Tidak ada diantara mereka yang membuka suara, karena mengetahui situasi yang sedang Ayara hadapi. Kini mereka telah tiba di tempat tujuan, Aina menguatkan Ayara untuk apa yang akan ia lihat.


"Kenapa kita disini kak?" Akhirnya pertanyaan itu terdengar.


"Ada seseorang yang sudah sangat menunggumu, dia sekarang sedang membutuhkan dirimu. Ayara, kamu adalah obat untuknya bangkit dari kondisinya saat ini." Aina menggenggam tangan Ayara yang sudah terasa dingin.

__ADS_1


Lalu pandangan itu beralih pada Pedro, dengan embun yang sudah membasahi kedua matanya. Ayara meminta penjelasan dari tatapannya itu.


__ADS_2