
Sementara itu, di luar ruangan masih banyak orang-orang yang menunggu. Begitu pula kehadiran Aina dan Andin disana, menjadi pertanyaan besar untuk semuanya.
"Nak, duduk disini saja." Yuri menegur Aina dan Andin yang masih berdiri.
Sebelum menjawab, Aina terlebih dahulu menatap wajah suaminya. Seperti hendak meminta izin untuk hal tersebut, nampak tangan Pedro mengusap puncak kepala Aina lalu menganggukan kepalanya.
Melihat perlakuan pria yang terkenal begitu kaku, dingin dan kejam itu begitu aneh. Membuat para sahabat mengerubunginya guna mendapatkan penjelasan atas rasa penasaran mereka, terutama Dzacky yang sangat begitu ingin tahu.
Tatapan tajam tertuju pada Pedro, ia memang mengambil keputusan yang begitu cepat tanpa memberitahukan hal tersebut kepada para sahabatnya.
"Aku sudah menikah, dia adalah istriku. Dan satunya lagi adalah adik dari istriku."
Ucapan tersebut benar-benar membuat semuanya kaget, dengan perlahan Pedro mulai menceritakan semuanya yang terjadi padanya sampai ia menikah. Bukannya marah, semua sahabatnya turut berbahagia.
"Wah, akhirnya manusia kaku berkurang satu." Dzacky dengan lantangnya mengucapkan kalimat tersebut.
__ADS_1
"Selamat nak, tante turut bahagia mendengarnya. Semoga saja kebahagian ini secepatnya menular kepada keluarga kami, doakan ya." Yuri memeluk Aina dengan penuh kehangatan.
"Terima kasih tante, kami selalu mendoakan yang terbaik untuk semuanya." Aina merasa begitu bahagia, karena dirinya disambut dan diterima dengan baik.
Kembali lagi dengan dua insan yang berada didalam ruangan, dimana Ayara tidak menyadari akan pergerakan jemari tangan yang saat itu berada disisi wajahnya. Ketika akan meletakkan tangan tersebut untuk kembali direbahkan ditempatnya, tiba-tiba saja sorot mata Ayara menangkap sesuatu.
" Tu tuan, tuan sudah sadar." Ucap Ayara dengan penekanan jika ia kaget dan bahagia.
Cakra membuka kedua matanya saat merasakan isakan dan suara parau dari pemiliknya, perlahan ia membalas sentuhan tangan yang sudah membuatnya tersadar.
Belum saja Ayara melangkahkan kakinya untuk menjauh, Cakra terlebih dulu menahannya. Ia menggelengkan kepalanya sebagai tanda menolak apa yang akan Ayara lakukan, dan itu berhasil membuat Ayara kembali pada posisi semula.
"Tapi tuan, anda perlu diperiksa terlebih dahulu oleh dokter." Dengan mata yang berkaca-kaca, Ayara memelas agar Cakra mengizinkannya.
"Jangan, aku masih mau bersama dengan orang yang memintaku untuk menikahinya." Jawab Cakra dengan senyuman manis untuk Ayara.
__ADS_1
"Hah.!" Kaget Ayara saat mendengar Cakra mengatakan hal itu, ia tidak menyangka jika ucapannya itu telah didengar oleh Cakra.
Ingin rasanya Ayara melarikan diri agar tidak terlihat jika dirinya begitu malu dan juga bingung, malu akan sikap bodohnya yang sudah dengan mudahnya mengatakan untuk meminta Cakra menikah dengannya. Lalu ia bingung, setelah Cakra sadar dan mengetahui apa perbuatannya dan meminta jawaban pada dirinya.
"Aku ingin menikahimu hari ini, tidak ada alasan apapun untuk menolaknya sayang. Karena kamu sendiri yang sudah mengatakannya, dan jawabanku adalah mau."
Perlahan Cakra berusaha untuk duduk, kekuatan darimana pun tidak ia ketahui. Karena saat itu ia benar-benar seperti mendapatkan kekuatan yang besar, mendapatkan dirinya seperti itu. Ayara pun menjadi panik, namun Cakra menyakinkan Ayara jika dirinya dalam keadaan baik-baik saja.
Semakin kaget Ayara dibuat oleh Cakra, pria itu kini seperti sedang tidak menderita penyakit apapun. Duduk dengan begitu sempurna dengan menggenggam tangan Ayara.
"Sekarang, kamu adalah milik aku seutuhnya. Jangan pernah bilang jika kita berbeda, mulai detik ini semuanya sama. Istriku tidak boleh mengatakan hal seperti itu lagi, oke."
"Calon istri bukan istri." Ayara spontan menegaskan.
"Tuh!" Cakra puas akan jawaban tersebut.
__ADS_1