Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.12


__ADS_3

"Ampun bi, itu tidak benar." Ayara meringgis dan membela diri.


"Aku lihat sendiri tadi, dia turun dari mobil mewah. Pasti itu laki-laki yang ia jadikan pohon uang, tentunya dengan menjadi ja***ng." Tuduh Elina yang terus membuat Ayara semakin terpojokkan.


Keributan yang terjadi, membuat bik Leha bergegas menuju sumbernya. Betapa kagetnya ia melihat Ayara meringkuk di lantai, dengan keadaan dapur yang begitu berantakan. Ia langsung memeluk tubuh Ayara yang bergetar, betapa hancurnya ia melihat hal tersebut.


"Non Aya, non tidak apa-apakan? Ayo, biar bibik obatin lukanya." Benar apa yang dikatakan Leha, ia melihat beberapa luka pada tubuh Ayara.


"Jangan coba-coba untuk membawanya, anak ini harus dihukum." Rosa kembali menarik Ayara dari Leha, tanpa ampun ia mendorongnya hingga kepalanya membentur pinggiran pembatas dinding.


"Non Aya!" Teriak Leha histeris.


"Mama! Kamu sudah keterlaluan!" Barry tersentak ketika hal itu terjadi.


"Apaan si pa, kamu mau membalas anak ini? Dia sudah membuat nama keluarga kita jelek." Bela Rosa.


"Benar pa, bila perlu usir saja dia dari sini." Elina pun ikut menimpali.


"Diam! Kalian semuanya diam, masuk sana!" Bentak Barry pada istri dan anaknya itu.


"Papa." Elina dan Rosa tidak menyukai pembelaan yang dilakukan oleh Barry.


"Apa? Masuk ke kamar kalian, cepat!! Masuk!!" Kedua ibu dan anak itu segera berlari menjauh, karena bentakan yang Barry lakukan.


Leha dengan perlahan membawa tubuh Ayara ke dalam pelukannya, air matanya jatuh tak tertahankan menyaksikan semua kekejaman yang diterima oleh Ayara.


"Aya, kamu tidak apa-apa nak?" Nada bicara Barry begitu khawatir.


Ayara hanya bisa dengan perlahan memutar tubuhnya, agar bisa bertatapan dengan sang paman. Namun rasa sakit pada tubuhnya sungguh begitu terasa, dengan bantuan Leha yang menopang dirinya dari belakang.

__ADS_1


"Aya tidak apa-apa, paman."


"Tu tuan, tolong. Tolong bawa Non Aya kerumah sakit tuan, tolong tuan." Dengan terbata-bata, Leha meminta bantuan pada Barry.


"Ti tidak, tidak apa-apa bik. Aya tidak apa-apa, paman tidak usah khawatir ya. Aya benar-benar tidak apa-apa." Dalam menahan rasa sakitnya, Ayara berusaha terlihat kuat agar tidak membuat orang lain merasa khawatir dan kasihan padanya.


Denyutan pada kepala dan tubuhnya seakan tidak bisa tertahankan, sebesar mungkin ia menahan semuanya. Leha terus memohon kepada Barry untuk membawa Ayara kerumah sakit, namun berkali-kali juga hal tersebut ditolak oleh Ayara.


"Baiklah, bik. Tolong bawa Aya ke kamar, beritahu saya jika ada apa-apa." Mendapatkan anggukan dari Ayara dan Leha, Barry beranjak meninggalkan keduanya.


Dengan perlahan, Leha memapah Ayara untuk ke kamarnya. Selama ini, Ayara selalu menempati kamar yang hampir sama dengan milik Leha, hanya saja kamar tersebut terpisah. Tidak seperti yang ditempati oleh Elina, namun hal tersebut tidak pernah membuat Ayara mengeluh dan protes.


Setibanya dikamar, Leha membantu Ayara membersihkan dan mengobati luka pada tubuh Ayara. Luka-luka pada tubuh dan kepala Ayara, hanya tampak pada bagian luarnya. Dan itu, dengan perlahan dan telaten Leha mengobatinya.


"Bik, terima kasih. Bibik istirahat saja, Aya tidak apa-apa kok." Pinta Ayara karena Leha terlihat begitu lelah.


"Iya bik, emm. Bibik ada obat sakit kepala? Sepertinya kepala Aya sedikit pusing." Sesungguhnya, Ayara sudah tidak bisa menahan rasa sakit pada kepalanya.


"Ada non, apa kita ke dokter saja. Kita masih ada pegangan uang yang non titipan waktu itu, ayo non." Leha begitu khawatirnya melihat keadaan Ayara saat itu.


"Bik, Aya tidak apa-apa kok. Bibik jangan khawatir ya, ini hanya sebentar kok. Aya janji, akan bilang sama bibik kalau merasa tidak baikkan." Senyuman Ayara menandakan untuk Leha tidak khawatir.


Dengan tatapan sendu, Leha melihat wanita yang dari kecil ia rawat. Didewasakan oleh keadaan yang ada, sungguh hatinya terasa sakit. Dimana seharusnya Ayara mendapatkan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya, bukan siksaan seperti ini.


Setelah minum obat yang diminta oleh Ayara sebelumnya, kini ia terlelap. Leha pun ikut merebahkan diri didekatnya, agar sewaktu-waktu dibutuhkan ia ada disana.


Sedangkan kondisi di kamar sang paman, Rosa terus-terusan memajukan Ayara pada Barry. Bahkan dengan teganya, Rosa menambahkan bumbu-bumbu fitnah agar Barry membenci keponakannya.


Lelah dengan sikapnya, Rosa akhirnya pergi ke kamar Elina untuk tidur disana. Meninggalkan Barry yang tidak menanggapi apapun yang telah ia ucapkan, sehingga menambah kekesalan dan kemarahan pada ibu dan anak itu.

__ADS_1


.


.


.


.


Pagi menjelang, Ayara terbangun. Walaupun tubuhnya masih merasakan sakit, namun ia tetap bertanggung jawab akan pekerjaannya. Dimana Leha sudah meminta agar dirinya beristirahat, tetapi itu semuanya Ayara tolak dengan halus.


"Tidak baik membuat kepercayaan orang kepada kita berkurang, bik. Aya sudah baik-baik saja."


Leha hanya bisa menghela nafasnya, terasa berat untuk melepaskan nona kecilnya itu pergi bekerja. Sedangkan penghuni rumah yang lainnya, masih tenang dalam tidurnya.


Begitupun yang terjadi pada Cakra, setelah kejadian dimana ia bersama Ayara. Cakra memutuskan untuk kembali ke rumah orangtuanya, entah mengapa dirinya begitu lemah kali ini.


"Sudah dari dulu, mommy bilang. Lebih baik kamu kembali dan tinggal bersama daddy dan mommy, ada apa nak? Sepertinya ada sesuatu." Yuri menghampiri kamar Cakra, dimana putra semata wayangnya itu baru saja datang.


"Akan aku pikirkan, mommy seperti tahu saja." Hela nafas Cakra dengan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Yuri tersenyum akan sikap Cakra yang selalu berubah-ubah, mungkin karena dia adalah putra semata wayang dari seorang pengusaha ternama.


"Coba ceritakan sama mommy, ada apa?" Yuri menepuk tangan Cakra dan anaknya langsung duduk disisi sang mommy.


Awalnya Cakra nampak ragu untuk menceritakan apa yang ia alami akhir-akhir ini, ada rasa malu yang Cakra rasakan. Karena selama ini dirinya benar-benar tertutup dari namanya perempuan dan sekarang. Dirinya sedang dihadapkan dengan hal tersebut.


"My, apa salah jika aku menyukai seseorang?" Dengan menunduk, Cakra berusaha untuk mengatakannya.


Pria tegas, datar serta dingin itu, kini tertunduk malu pada wanita yang merupakan cinta pertamanya. Baru kali ini, Cakra mengungkapkan rasa sukanya pada seseorang dan menceritakannya.

__ADS_1


__ADS_2