Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC. 47


__ADS_3

Menghabiskan minuman hangat di tangannya, lalu Ayara bermaksud untuk meletakkan gelas tersebut di atas meja yang berada tidak jauh darinya. Namun baru saja beberapa langkah ia berjalan, tubuh itu limbung dan terjatuh. Kepala Ayara mengenai sudut meja yang membuat keningnya terluka, mendapati Ayara seperti itu. Liam segera menghampirinya, lalu ia membawa Ayara untuk bersandar pada sofa yang ada disana.


"Keningmu terluka, istirahat saja disini dulu." Liam segera sedikit berlari keluar dari sana, bermaksud untuk mencari Matteo.


Sepeninggalan Liam, Ayara hanya bisa memejamkan kedua matanya. Tubuhnya memang merasakan tidak nyaman dalam beberapa hari ini, nampaknya ia kelelahan. Hal tersebut juga membuat Cakra panik, ingin rasanya ia memeluk dan membantu Ayara untuk mengobati lukanya. Namun apa daya, tubuhnya begitu sulit untuk digerakkan.


"Aku tidak apa-apa tuan, maaf membuatmu menjadi khawatir." Ucap Ayara ditujukan pada Cakra yang terus menatapnya dengan tatapan sedih.


Telapak tangan Ayara masih menutupi keningnya yang masih mengeluarkan darah, pandangannya pun nampak sedikit kabur. Ayara menganggap jika dirinya hanya kelelahan, karena beberapa hari ini memang jam istirahatnya berkurang.


"Ayara! Ayara!" Yuri terlihat sedikit berlari masuk ke dalam kamar Cakra, ia langsung menghampiri Ayara.


"Nak, kenapa bisa begini?" Kekhawatiran itu begitu terasa.


"Tidak apa-apa, mom. Hanya terbentur sedikit." Senyuman Ayara sebagai tanda jika dirinya baik-baik saja.


"Baik-baik apanya, ini berdarah nak. Mana pamanmu ini, jalannya lamban sekali." Kepanikan Yuri berujung omelan kepada sang adik.


Tak lama kemudian, suara langkah terdengar. Matteo bersama Liam berjalan bersamaan, ada dua pelayan juga yang berjalan dibelakang mereka membawa tempat air dan handuk kecil. Matteo langsung memeriksa keadaan Ayara, sebelum ia memberikan penanganan lebih. Pria itu beralih menghampiri Cakra, dengan memasang wajah geramnya, ia serasa ingin memberikan hukuman sedikit untuk keponakannya itu.


"Haish! Belum juga kamu sembuh, sudah membuat orang lain seperti ini. Makanya jangan lamban, kasihan Ayara terlalu lama menunggu. Tahu begini, lebih baik aku jodohkan saja dia dengan kenalanku." Dengus kesal Matteo, dengan sengaja ia memukul salah satu punggung kaki Cakra.


Seakan ada aliran listrik yang menyerang kakinya tersebut, namun hanya dirinya yang bisa merasakan dan mengetahuinya. Mulutnya sudah ingin berteriak akan hal tersebut, akan tetapi semuanya belum bisa ia kendalikan.

__ADS_1


Kembali pada Ayara, Matteo mulai menggunakan beberapa alat medis untuk mengetahui keadaan Ayara. Ia meminta Ayara untuk beristirahat pada tempat tidur yang lainnya dikamar tersebut, tampak jarum infus menancam pada punggung tangannya. Lalu Matteo menyusulkan sebuah suntikan pada tabung infus tersebut, tak lama kemudian Ayara sudah terlelap.


Rasa kekhawatiran itu menyebar pada pria-pria dingin lainnya, mereka segera berdatangan atas kabar dari Liam mengenai Ayara. Begitu juga dengan Damendra, ia membatalkan pertemuan penting dengan salah satu kliennya dan memilih pulang.


Melihat kedatangan semuanya, membuat Cakra sedikit terangsingkan sejenak. Mereka semuanya panik dengan kabar mengenai Ayara, dalam pikiran Cakra saat itu jika dirinya bukanlah anak dari kedua orangtuanya. Karena mereka lebih mengkhawatirkan Ayara daripada dirinya yang merupakan anak kandungnya, begitu menyebalkan jika ia bisa berbicara.


"Bagaimana keadaannya, Matteo?" Suara sejak berat khas Damendra membuat ruangan tersebut menjadi hening.


"Dia kelelahan, mungkin terlalu memaksakan diri. Apa dia pernah terluka sebelumnya dibagian kepala?" Pertanyaan Matteo membuat semuanya mengalihkan tatapan tajam kepada dirinya.


Mendadak mendapatkan tatapan seperti itu, membuat nyali Matteo sedikit menciut. Apalagi mata elang Damendra dan Pedro, seakan-akan ingin menerkam dirinya.


"Ah iya, Ayara pernah mengalami pendarahan di otak dan itu juga dilakukan tindakan operasi. Ada apa?" Yuri menjelaskan apa yang pernah terjadi.


Takh!


"Aduh! Kenapa memukulku?" Protes Matteo setelah kepalanya terkena sentilan dari jemari Damendra, cukup sakit dan meninggalkan warna pada keningnya.


"Kau sendiri yang mengoperasinya, dasar dokter puyeng." Yuri menambahkan penjelasan.


Matteo melebarkan kedua bola matanya, ia baru teringat akan hal itu. Lalu ia menepuk keningnya yang tidak bersalah.


"Iya ya, tapi. Aku khawatir, karena gejala yang aku dapatkan. Kepala Ayara mengalami sensitivitas terhadap benturan, itu berakibat buruk untuk kedepannya kak." Matteo mengkerutkan keningnya.

__ADS_1


"Maksud paman?" Pertanyaan Pedro seakan menghakimi Matteo kala itu.


"Benturan yang ia alami sebelumnya, membuat ketahanan dari pelindung bagian sensor bagian otak terganggu. Itu bisa berakibat fatal, kali ini ia mengalami benturan kembali." Helaan nafas berat itu menyatakan jika penjelasan yang diberikan sangat genting.


"Tapi paman, kita tidak bisa memprediksi kejadian apapun yang akan terjadi kedepannya. Apa ada cara lainnya untuk mencegah hal itu terjadi?" Dzacky semakin merasa cemas.


"Itu yang harus kita pikirkan untuk kedepannya, tidak mungkin untuk menahan dan membatasi ruang gerak Ayara dalam beraktivitas. Tentu itu akan membuatnya semakin tertekan." Penjelasan Matteo cukup jelas untuk menjadi catatan mereka semuanya.


Semuanya menatapi Ayara yang kini sedang terlelap dalam rasa lelahnya, mereka semuanya begitu mencemaskan keadaannya. Wanita asing yang hadir dalam kehidupan mereka semuanya, memberikan warna dan kehangatan. Perasaan itu tumbuh begitu saja terhadap dirinya, mereka pun menerima kehadirannya dengan perasaan cinta.


Apa yang sedang mereka rasakan, begitu pula dengan Cakra. Ia sangat merasa bersalah akan semuanya yang terjadi, terutama pada Ayara. Wanita yang sudah membuatnya keluar dari masa lalu, namun atas kebodohannya. Kini ia tidak bisa berbuat apa-apa, air mata mengalir dari kedua matanya. Menanamkan dari hatinya untuk segera kembali hidup normal, sehingga dapat melindungi dan menebus segala kesalahannya pada semua orang dan Ayara.


Mata Yuri yang sudah basah dan sembab, dengan tubuh yang mulai merasa lelah. Ia mengambil tempat untuk duduk disisi Ayara, menggenggam tangan yang tidak terdapat infus disana.


"Apa yang terjadi padamu nak, kenapa kamu harus menerima semuanya ini. Mommy mohon, jangan pernah menjauh dan meninggalkan kami semuanya. Kuatlah, kami semuanya mencintaimu Ayara." Tanggisan itu pecah dan tidak tertahankan.


Bahkan seorang Damendra, ia ikut meneteskan air mata yang sangat sulit baginya untuk keluar. Kali ini dirinya berhasil menjadi manusia seutuhnya, bahkan disaat Cakra dengan peristiwa dahulu pun ia tidak meneteskan air mata.


"Kita selesaikan satu persatu, terutama untuk hama itu. Pedro." Damendra memejamkan matanya.


"Baik paman." Jawaban yang singkat, namun mewakili semua rencana besar yang mereka susun.


Mereka pun membiarkan Ayara untuk beristirahat, begitu juga dengan Cakra. Ia sedang berperang dengan semua ke egoisan dalam dirinya, berusaha untuk kembali pada kesehatan dirinya. Lirikan matanya pada Ayara, membuat sebuah kekuatan untuk segera bangkit dari keterpurukan.

__ADS_1


...Aku tidak boleh menyerah, maafkan aku. Aku berjanji padamu Ayara, aku akan menjadi pelindungmu. Tunggu aku sayang....


__ADS_2