Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.23


__ADS_3

Penurunan nilai saham dan juga beberapa proyek yang terbengkalai dari perusahaan milik Cakra, membuat Damendra dan juga Emry memutar otak. Karena jika terus dibiarkan, itu akan berdampak besar.


Saat ini, Cakra berada di perusahaannya. Namun tidak ada satu pun yang ia kerjakan, berdiam diri dan hanya raganya saja ada disana. Tapi tidak dengan pikirannya, entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Selamat siang menjelang sore, tuan Cakra yang terhormat." Seseorang masuk dengan begitu bebasnya dan langsung menyapa dan menghampiri Cakra.


Untuk sekilas, Cakra hanya melirik pemilik suara yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. Saat mengetahui siapa orang tersebut, ia kembali memfokuskan diri untuk mengerjakan pekerjaannya.


Orang tersebut adalah Pedro, ia sengaja mendatangi sahabatnya itu untuk melakukan sesuatu. Karena, tidak biasanya ia akan menampakkan diri begitu saja kalau tidak ada sesuatu yang menjadi tujuannya.


"Jika kau tidak mau mengakuinya, lebih baik berikan saja dia padaku." Kalimat Pedro terdengar begitu tajam di telinga Cakra.


Senyuman sinis itu terukir dari wajah Pedro, ia tahu jika sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja. Sejak ia menemukan keberadaan Ayara dengan tidak sengaja, pada awalnya ia tidak terlalu peduli dengan hal tersebut. Namun, terasa menarik jika sedikit melakukan kekonyolan.


"Ah, wajahnya saja begitu sederhana namun sangat menarik." Pedro memandangi layar ponselnya dan sedikit melirik ke arah pria keras kepala itu.


Awalnya tidak ada tanggapan ataupun respon dari Cakra, atas apa yang dilakukan oleh Pedro padanya. Lama kelamaan, sikap Pedro membuat dirinya menjadi sangat kesal.


"Cukup! Pergilah dari ruanganku." Suara tinggi itu begitu mengagetkan.


"Hahaha, akhirnya kau bereaksi juga. Aku kira, kau akan tetap berhati batu untuk selamanya." Pedro merasa jika apa yang ia lakukan mulai mendapatkan hasil.

__ADS_1


"Diamlah, pergilah. Aku muak denganmu."


"Tidak perlu mengusirku, aku akan pergi setelah temanku datang. Dia masih dalam perjalanan kemari, dan sebentar lagi akan sampai." Jawab Pedro dengan sangat santai.


Padahal ia hanya memainkan perannya untuk memancing emosi dari Cakra, jika bukan Damendra dan istrinya yang meminta untuk mengatasi hal ini. Maka dirinya tidak akan berada di hadapan Cakra.


Brukh!


Sebuah berkas melayang tepat dihadapan Pedro, lirikan mata devil itu menajam. Menggerakkan sedikit anggota tubuhnya, lalu Pedro berjalan menghampiri pelaku dari penempatan tersebut.


"Anggap menganggap persahabatan ini akan selamanya terjalin, jika kau sendiri yang menabuh genderang pertikaian!" Kerah kemeja milik Cakra tertarik oleh salah satu tangan Pedro.


"Jangan mengampuni urusanku! Urus saja dirimu sendiri, jika kau bermaksud untuk membuatkan emosi. Ya, kau berhasil atas itu. Sekarang, enyalah dari hadapanku!"


Tubuh Cakra terhempas begitu kuat dan menabrak lemari pajangan pada salah satu sudut ruangan, hempasan dari tangan Pedro tidak perlu diragukan lagi kekuatannya. Tidak ada kemarahan yang ditunjukkan oleh Pedro, yang ada adalah senyuman menyeringai penuh kemenangan.


"Pergilah dari hadapanku! Jika kau mau mengambilnya, ambil saja." Maki Cakra dengan emosi yang sudah tidak tertahankan.


"Kalian memang selalu saja ingin bersaing denganku untuk masalah wanita, jika kalian mampu. Jangan suka mengambil punya orang lain! Sekarang enyalah dari hadapanku, karena kau bukan sahabatku lagi! Pergi!" Cakra berdiri dihadapan Pedro dan meluapkan segala amarah yang ia rasakan ketika itu, dengan tatapan yang begitu tajam.


Bugh!

__ADS_1


Bugh!


Sapaan dari kepalan tangan Pedro, berhasil mendarat dengan baik pada kedua sisi wajah Cakra. Membuat tubuh itu goyah dan hampir jatuh, keduanya terlibat saling baku hantam di dalam ruangan tersebut.


Tidak ada siapa pun yang berada disana untuk membantu melerai keduanya, karena semuanya sudah direncanakan sebelumnya. Dimana Emry, Liam, Eliot, Dzacky dan juga Ayara berada di dalam ruangan lainnya yang melihat aksi dari keduanya melalui kamera pengawas.


"Hei, kenapa kalian jadi begini?! Lihat, mereka sudah saling memukul seperti itu. Apa kalian tidak ada yang mau melerainya?" Ayara bersuara karena tidak sanggup melihat keduanya terluka.


"Biarkan saja kakak ipar, percayalah. Mereka tidak akan mengalami luka yang serius." Dzacky menyakinkan Ayara atas peristiwa yang mereka lihat.


"Tapi, keduanya seperti itu. Kalian benar-benar tega ya." Walaupun hal tersebut sudah di rencanakan, tapi itu tidak membuat Ayara untuk membiarkan mereka terluka.


"Eleh eleh, udah mulai cinta ni kakak ipar." Goda Dzacky pada Ayara yanh ngotot mau melerai.


"Mmmpph." Mulut Dzacky langsung dibekap oleh tangan Liam.


Liam memberikan isyarat dari gerakan matanya pada Ayara, untuk bisa segera melakukan apa yang ia mau. Setelah kepergian Ayara, tangan yang menbungkam mulut Dzacky terlepas. Ia merutuki apa yang dilakukan oleh Liam padanya, namun kembali lagi ia mendapatkan ketukan pada kepalanya dari Eliot.


Tukh!


"Jika mulutmu itu bisa diam, maka kami akan tenang." Jawab Eliot yang langsung membuat Dzacky terdiam.

__ADS_1


Orang yang jarang sekali bicara, dan saat ia bicara. Ucapannya begitu teramat tajam, sangat pas untuk menghadapi orang yang super aktif seperti Dzacky.


__ADS_2