
Perjalan yang sedikit menguras tenaga, Ayara bersama kedua orang yang bersamanya sedang menikmati indahnya nuasana kota tersebut.
"Non, itu ada pedangan makanan." Tunjuk Fia dengan menggunakan tangannya.
"Hem, boleh tuh. Ayo, sekalian sarapan." Ajak Ayara kepada keduanya.
Seorang pedangan makanan kecil, namun terlihat begitu menarik selera orang lain saat melihatnya. Makanan sejenis batagor dan bubur ayam, yang di olah dengan menggunakan bumbu-bumbu khas kota tersebut.
Mereka bertiga menikmati makanan tersebut dengan riweh, karena Fia dan Atun sangat receh sekali. Bahkan mereka sampai menambah porsi makanannya, Ayara menjadi tersenyum dengan sikap keduanya. Ayara beranjak untuk membeli minuman untuk mereka, setelah menyelesaikan pembayaran. Tiba-tiba saja ada seseorang yang tidak sengaja ia tabrak.
"Maaf, maafkan saya tuan. Saya tidak sengaja." Ucap Ayara dengan sedikit menundukkan tubuhnya.
"Ayara."
Mendengar namanya disebut, membuat Ayara kaget dan bingung, ia langsung menegakkan tubuhnya dan melihat siapa orang tersebut.
"Tuan Leo." Beo Ayara saat mengetahui orang tersebut adalah orang yang ia kenal.
"Ya, kamu kenapa ada disini? Pantas saja aku tidak menemukanmu disana, hah kamu membuatku pusing." Begitu panjang penjelasan Leo saat bertemu kembali dengan orang yang ia cari.
Ayara terdiam, ia tidak ingin orang lain mengetahui alasannya sampai berada disini. Berdalih ingin mencari suasana yang berbeda, kini mereka bertemu atas namanya ketidaksengajaan.
"Baiklah, kamu pasti mempunyai alasan tertentu untuk itu. Oh ya, aku boleh menghubungimu lagi? Jika itu tidak membuatmu terganggu." Leo melihat ada sesuatu yang Ayara sembunyikan, maka dari itu ia ingin mengalinya lebih jauh.
"Mmm, baiklah." Mereka berdua bertukar nomor ponsel kembali.
Dimana pertemuan sebelumnya, Leo merasa begitu tertarik dengan diri Ayara. Entah mengapamia sangat menyukai karakter dari sikap Ayara yang cukup tenang, bahkan bisa menghadapi berbagai ujian berat dalam kehidupannya. Setidaknya, mereka sudah bertukar cerita mengenai kehidupannya.
__ADS_1
"Anda disini?" Ayara melempar pertanyaan kepada Leo.
"Ah itu, eee sebenarnya. Apa ya." Leo nampak ragu untuk menceritakan alasan mengapa ia berada disana.
Wajah Ayara menatap Leo dengan raut begitu penasaran, yang dimana Leo bersikap seperti orang yang serba salah. Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal serta tersenyum-senyum sendiri, dan hal tersebut mengundang rasa penasaran dari kedua orang lainnya.
"Fi, liat tu. Tu orang kayak salah tingkah deh sama non Ayara. Ada apa ya." Rasa penasaran itu melintas dalam kepala Atun.
"Mana aku tahu, lagian juga mereka terlihat cukup dekat. Mungkin saja itu teman lamanya non Ayara dan bertemu lagi di mari. Udah, tidak usah penasaran. Nanti juga non Ayara cerita kalau memang tu orang berniat jahat, lanjut makan." Fia yang memang terkesan cuek dengan apa yang terjadi, lebih memilih untuk melanjutkan kegiatan makannya.
"Tapi, kalau di lihat-lihat. Pria itu tampan juga ya, hahaha. Kok aku jadi receh begini ya, Tun."
"Baru sadar lu, sudah makan nih. Itu urusan non Ayara, tidak usah ikut campur."
Keduanya melanjutkan makannya, tak lama kemudian Ayara mengajak mereka untuk kembali. Menyudahi kegiatan jalan-jalannya dengan tujuan mengetahui daerah sekitar, lalu ia tak sengaja bertemu lagi dengan Leo.
Akan tetapi, saat tiba dirumah tersebut. Terlihat mobil mewah yang sudah tersusun rapi disana, Fia dan Atun sudah merasa tidak enak.
"Wah, kamu punya banyak mobil rupanya. Selera kamu memang bagus, Ayara." Leo berdecak kagum melihat deretan mobil mewah tersebut.
"Itu semuanya bukan milik non Ayara, tapi punya nya tuan-tuan tampan."Celoteh Atun dengan segera turun dari mobil yang menghantarkan mereka di ikuti oleh Fia.
Ketika Ayara membuka pintu disampingnya, Leo pun terdiam akan ucapan dari Atun dan sedikit membuatnya kaget. Ayara menyadari akan hal tersebut, lalu ia menawarkan pada Leo untuk bertemu dengan pria tampan versi Atun.
"Mari turun, akan aku perkenalkan merek semuanya padamu. Mereka adalah orang yang berjasa dalam hidupku, mereka juga sudah menganggapku sebagai bagian dari keluarganya."
Ayara turun dari mobil dan di ikuti pula oleh Leo, ia merasa begitu penasaran akan siapa pria-pria yang dimaksud oleh Ayara. Bagaimana mungkin mobil-mobil mewah itu tersusun rapi disana, bahkan Ayara bilang ia baru di daerah tersebut.
__ADS_1
Saat Ayara masuk ke dalam rumah, seluruh tatapan tajam dari ke tiga pria disana tertuju pada Ayara dan Leo. Bahkan tatapan Pedro seperti elang yang hendak akan menerkam mangsanya, begitu menyeramkan.
"Jangan menakutinya, akan aku jelaskan pada kalian semua." Ayara mempersilahkan Leo untuk duduk bersama, berkumpul dengan yang lainnya.
Ada rasa ketakutan tersendiri dari Leo, ia seperti hendak diadili oleh mereka semuanya. Ayara menyuguhkan secangkir minuman hangat untuk tamunya, lalu ia ikut bergabung. Menjelaskan dari awal mereka bertemu, menjalin kerjasama untuk produk yang Ayara produksi saat ditempat yang lama, hingga mereka bertemu kembali ditempat ini.
"Kau yakin, pertemuan ini tidak sengaja? Heh, jangan-jangan ada tulang dalam tanah." Ketus Eliot dengan wajah seringainya.
"Hush, jangan bilang sembarangan. Kakak ipar tidak mungkin berbohong pada kita bang, benarkan kakak ipar?" Dzacky bertukar manis membela Ayara.
Anggukan kepala Ayara seakan membenarkan apa yang dikatakan oleh Dzacky, namun tidak untuk Pedro dan Eliot. Mereka masih menatap tajam pada Leo, dan ketika Liam hadir disana. Ia melihat Leo dengan seksama, lalu duduk disamping Eliot.
"Leo Ferdinand?" Ucap Liam dengan tenang.
Mendengar namanya, Leo mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Liam. Tatapan itu seakan sedang mengingat sesuatu yang pernah ada, untuk persekian waktunya ia mulai mengingat.
"Liam?! Senang berjumpa denganmu lagi." Ingatan Leo kembali, dimana ia cukup mengenal siapa Liam.
"Ada apa yang membuatmu datang kemari?" Liam cukup heran kenapa Leo bisa berada disana.
Mereka berdua bertukar cerita, dan dapat disimpulkan jika keberadaan Leo disana adalah masalah pekerjaan. Pertemuan dengan Ayara memang tidak disengaja, bahkan ia sempat frustasi ketika mendapati Ayara menghilang begitu saja.
Dalam percakapan tersebut, ponsel Liam berkeringat. Terlihat jika Emry menghubunginya, ia sedikit menjauh dari semuanya untuk menerima panggilan tersebut. Raut wajah Liam seketika berubah datar, saat sebuah kabar berita disampaikan kepadanya.
"Baiklah, akan aku coba untuk membujuknya. Tapi tidak sekarang, hubungi paman dan bibi'. Mereka berhak untuk mengetahuinya, jangan sampai peristiwa lalu itu terulang kembali." Jawab Liam dengan tenang.
Pembicaraan itu terhenti, Liam terdiam sejenak. Lalu ia kembali ikut bergabung dengan semuanya. Ingin ia segera untuk menyampaikan berita yang didapatkannya, akan tetapi situasi kala itu benar-benar belum mendukung. Maka ia memilih untuk menyimpannya dahulu, menceritakan kepada sahabatnya tanpa Ayara mengetahuinya.
__ADS_1