
"Huh, pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya." Emry yang sedang berhadapan dengan tumpukan berkas untuk segera ia periksa.
Tumpukan berkas tersebut bukan tanpa alasan, apalagi ditambah pimpinan mereka yang tidak hadir karena ia tinggalkan di negara orang. Benar-benar saat ini, Emry harus memutar isi kepalanya dengan tepat.
Sedangkan para sahabat-sahabatnya yang lain, terlihat sangat tenang dan sibuk melakukan perjalan menemui Ayara. Berdalih dengan alasan jika wanita itu akan merasa kesepian disana, lalu mereka dengan mudahnya menggunakan kendaraan capung raksasa sebagai transportasinya.
Hal tersebut membuat jengkel Emry yang selalu mendapat postingan dari ke empat sahabatnya itu, jika mereka dengan tawanya berada disana bersama Ayara. Lalu dirinya, harus berhadapan dengan tumpukan berkas-berkas.
Klek!
Pintu ruangan kerja milik Emry terbuka, mau kaget tapi itu sudah menjadi hal yang biasa baginya. Melihat siapa yang membuka pintu tersebut, hanya sudut bibir Emry yang bergerak.
"Dasar tidak punya hati, kau meninggalkanku sendirian disana." Cakra yang langsung mengutarakan kekesalannya pada sahabat sekaligus orang kepercayaannya.
Lirikan mata Emry melesat tajam pada Cakra, ia memilih untuk fokus saja dengan pekerjaan yang ada. Tidak ada niatan dirinya untuk menanggapi ucapan dari Cakra padanya, yang ada hanyalah perasaan yang geram serta menahan emosi.
Mendapati Emry yang hanya diam, membuat Cakra merasakan ke anehan tersebut. Akan tetapi semuanya ia tepis dan segera berlalu kembali ke ruangannya, dalam ruangannya ia merenungkan apa yang terjadi. Kemudian ponselnya bergetar, siapa lagi kalau bukan Eliza yang menghubunginya.
"Halo baby." Sambut Cakra dengan suara yang begitu pelan.
"Sayang, aku mau belanja disini. Card kamu tidak bisa digunakan lagi, isinya sepertinya habis." Eliza dengan mudahnya mengatakan hal tersebut.
"Habis! Jumlah saldo card itu sangat besar, baby. Belum juga selesai liburannya, tapi kamu sudah menghabiskan semuanya." Ada nada kecewa dari perkataan yang Cakra ucapkan.
"Disini aku bosan, tidak ada yang bisa aku lakukan selain berbelanja. Beda kalau kamu ada disini, jadi kamu tidak mau mengisinya lagi? Huh, kamu semakin lama semakin menyebalkan." Menggunakan kalimat yang seakan-akan sedang marah, merajuk dan manja, itulah yang Eliza gunakan saat berbicara pada Cakra.
__ADS_1
Dalam percakapan tersebut, membuat Cakra untuk beberapa saat terdiam. Ia sedikit memijat keningnya sambil memejamkan kedua mata, begitu kecewanya dirinya terhadapan apa yang terjadi. Akan tetapi ia tidak bisa meluapkan semuanya itu, mau tidak mau ia harus mengabulkan apa yang di inginkan oleh Eliza.
"Baiklah, untuk kali ini berhematlah baby. Aku akan sedikit sibuk disini, pergunakan untuk hal-hal yang penting saja." Masih dalam keadaan memijat keningnya, Cakra harus menghelas nafas panjangnya.
"Ah, terima kasih sayang. Kami memang yang terbaik, aku mencintaimu. Sampai bertemu nanti sayang, bye."
Pembicaraan tersebut berakhir begitu saja setelah Eliza mendapatkan apa yang ia inginkan, dengan mudahnya sejumlah uang yang sangay besar pun dikirimkan oleh Cakra. Tanpa ia sadari jika Eliza sudah mengeluarkan semua sikap aslinya, yang dimana semuanya itu tertutupi oleh kebodohan atas nama cinta.
Melanjutkan kembali pekerjaannya yang sudah terlalu banyak menumpuk, disusul oleh kedatangan Emry disana dengan membawa tumpukan berkas di tangannya. Meletakkan semuanya di atas meja kerja sang pemimpin perusahaan dengan cukup kasar.
Brakh!
Seketika pandangan Cakra menatap pada Emry, ia mengharapkan penjelasan dari semuanya itu.
"Tugasku sudah selesai, giliran tugasmu merevisi semuanya. Huh, tangan dan mataku sangat kelelahn. Aku mengajukan cuti satu minggu, kau bisa bekerja sendiri dengam tenang, jika perlu bantuan. Hubungi saja paman, dia akan membantumu untuk menyelesaikannya." Emry berbalik begitu saja setelah mengatakan semuanya.
"Bos?! Seharusnya kau lebih mementingkan semua yang berhubungan dengan perusahaan, bukan malah beralih pada wanita ular itu! Apa otakmu itu sudah rusak, kenapa harus kau terima lagi dia untuk masuk ke dalam kehidupanmu yang sudah membaik!" Emry tak kalah garangnya atas sikap Cakra.
"Diam kau! Jika tidak tahu apa-apa, jangan pernah mengambil keputusan sendiri." Balas Cakra yang kini sudah berdiri menghadapi Emry.
Emry hanya bisa membuang pandangannya dan menghela nafas beratnya, mereka berdua kini sedang tersulut secara emosional.
"Aku memang tidak tahu apa-apa, tapi kau harus ingat. Jangan pernah mencariku jika suatu saat nanti penyesalanmu itu datang, dengan sendirinya aku kan memusnahkan wanita itu." Ada sedikit penekanan dalam ucapan Emry tersebut.
"Aku tidak perlu bantuanmu." Ketus Cakra yang merasa percaya diri dan yaki jika hal tersebut tidak akan terjadi.
__ADS_1
Hanya seringai tajam yang Emry berikan pada Cakra, ia benar-benar sudah tidak dapat menahan emosinya kali ini. Jika ia masih terus-terusan berada didalam ruangan tersebut, maka sudah dapat dipastikan jika akan terjadi pertarungan diantara keduanya.
"Terserah kau saja, aku sudah mengatakan semuanya. Dan ingat, lepaskan dan lupakan Ayara. Dengan itu, kau bisa kembali pada wanita ular itu." Lalu Emry berlalu begitu saja, bahkan tidak ada yang bisa menahannya untuk tetap berada disana.
Sepeninggalan Emry, Cakra seakan seperti terkena hantaman keras ketika nama Ayara terdengar.
" Ayara, Ayara. "
Menghempaskan tubuhnya dan duduk di kursi kerja miliknya, seakan tidak ada pekerjaan lainnya. Cakra segera beranjak dari tempatnya, ia melangkah dengan cepat menuju mobilnya. Disana ada Jhony yang segera membukakan pintu mobil tersebut, saat ia melihat Cakra mengarah ke sana.
"Tuan, anda mau kemana?" Jhony segera masuk ke mobil pada bagian kemudi.
"Jalan saja, nanti akan aku tunjukkan alamatnya." Cakra mencoba menghubungi Ayara, yang dimana ia tidak mendapatkan respon apapun.
...Kenapa nomornya tidak aktif, apa dia sengaja....
Ketika tiba ditempat yang mereka tuju, terlihat bangunan yang biasa digunakan menjadi tempat Ayara mendirikan usahanya sangat sepi sekali. Kening Cakra tampak berkerut sangat banyak, ia turun dari mobilnya dan sedikit bertanya-tanya pada orang sekitar sana mengenai Ayara. Namun tidak ada satu pun yang mengetahuinya.
Kepala Cakra mulai berdenyut lagi setelah sekian lama tidak ia rasakan, dengan cepat Jhony memapahnya untuk masuk ke dalam mobil.
"Tuan tidak apa-apa?" Jhony sedikit meragukan keadaan Cakra yang secara tiba-tiba menjadi pucat.
"Aku tidak apa-apa, kembali ke kantor." Ucap Cakra yang sudah bersandar dan memejamkan kedua matanya.
"Apa kita tidak pulang saja tuan, wajah anda ..."
__ADS_1
"Turuti saja perkataanku, Jhony." Dengan bernada ketus, membuat Jhony segera menjalankan laju mobilnya menuju kantor.
Dalam keadaan seperti itu, ponsel Cakra bergetar. Pesan notifikasi dari penggunaan card gold miliknya yang berada pada Eliza, kaget sudah pasti. Dan hal tersebut membuat kepala Cakra semakin berdenyut, ia mengerang dalam menahan rasa sakit.