
"Jam sepuluh nanti, kita akan bertemu klien. Aku harap, kau tidak membatalkannha lagi demi wanita ular itu." Emry meletakkan berkas yang harus Cakra pelajari sebelum pertemuan terjadi.
"Kau tahu dimana Ayara?" Sebuah pertanyaan keluar dari mulut Cakra.
Hal tersebut membuat Emry sedikit kaget, namun ia langsung mengalihkan semuanya agar terlihat tetap seperti biasanya. Ia mengira jika Cakra sudah melupakan Ayara semenjak wanitanya6kembali, bahkan sejak awal kepergian Ayara saja dia tidak begitu menanyakannya.
"Aku tidak tahu, itu bukan urusanku." Dengan sedikit bernada ketus, Emry menjawab pertanyaan itu.
Melanjutkan pekerjaannya dengan mengambil berkas-berkas yang sudah Cakra periksa, saat ia akan melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan tersebut. Ada seseorang yang tiba-tiba saja berjalan masuk menghampiri mereka berdua dengan dandan yang memuakkan, dia adalah Eliza.
"Sayang, aku bawain kamu makanan." Eliza berjalan melewati Emry begitu saja.
"Kenapa kemari? Aku sedang banyak kerjaan." Cakra menyambut kehadiran Eliza dengan ramah.
Sejak Eliza menginjakkan kakinya kembali ke negara tersebut, banyak sekali permintaannya yang membuat Cakra menjadi sedikit kewalahan. Meminta dirinya untuk menemani di apartemen, bahkan tak jarang Eliza suka membuat Cakra mabuk. Akan tetapi, Jhony selalu sigap membawanya pulang walaupun dimana ia berada. Bahkan pernah suatu malam, Jhony hampir menjadi bulan-bulanan dari orang suruhan wanita ular itu.
Dengan pengawasan dari orang-orang khusus yang ditugaskan, membuat hal itu tidak terjadi. Karena kejadian itu membuat Eliza menjadi marah dan menyiapkan rencana lainnya, agar ia bisa segera mendapatkan apa yang sudah ia rencanakan.
"Aku bosan berada di apartemen terus, belanja, dan lain-lainnya. Aku mau menemanimu saja disini, ayo makan dulu. Nanti makanannya dingin dan tidak enak lagi untuk dimakan, ayo sayang." Eliza memaksa Cakra untuk menurutinya, melainkan semua pekerjaannya pada saat itu.
Berada disana dalam waktu lama, akan membuat Emry berubah menjadi sebuah pajangan mewah. Berdengus kesal serta menahan amarah yang ada, ia menggelengkan kepalanya dan mempercepat langkah kaki itu untuk segera keluar dari ruangan yang sudah semakin panas udaranya.
"Kau mau kemana? Aku belum selesai denganmu." Cakra menghentikan langkah Emry.
"Ruangan kerja dan nomor ponselku belum berubah." Emry menghela nafasnya dengan sedikit memutar kedua bola matanya juga.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Cakra, lalu Emry benar-benar sudah keluar dari ruangan itu. Melihat wanita itu semakin membuat amarah dalam dirinya membesar, apalagi mengingat semua yang sudah dilakukannya.
Setelah kepergian Emry dari ruangannya, Cakra kembali berdua bersama dengan Eliza. Namun ia merasakan sesuatu yang tidak biasanya, pada awalnya ia bertemu setelah beberapa tahun lamanya. Memang Cakra merasakan kemarahan yang besar, namun secara tiba-tiba ia menjadi begitu bahagia.
Dan sekarang, ia merasa ada kejanggalan dari pertemuannya ini. Namun ia tidak mengatakannya, perasaan bersalah pun ia rasakan begitu besar pada Ayara.
"Sayanh, kapan kamu akan mempertemukan aku lagi dengan kedua orangtuamu?"
"Tunggu waktu yang tepat." Jawab singkat Cakra yang menyelesaikannya makannya lebih awal.
"Jika mereka tidak mau menerimaku kembali, apa kamu akan meninggalkanku?" Mengeluarkan wajah sedihnya, agar orang lain menjadi empati kepadanya.
Untuk Cakra, ia seakan sedang terkena pukulan begitu keras pada hatinya. Penyakit yang ia derita dahulu, sempat ia rasakan kembali. Namun ketika ia mengingat nama Ayara, entah mengapa seakan ada kekuatan dari dalam dirinya untuk bertahan.
"Kita lihat saja nanti, aku ada pertemuan dengan klien. Kamu bisa pulang, disini akan terasa membosankan untukmu." Cakra bergegas mengambil dan mengenakan jas nya.
Apa yang dikatakan Cakra saat itu, seakan tidak didengarkan oleh Eliza. Pada akhirnya, Cakra membuang nafasnya dengan kasar, kedua tangannya bertolak pinggang.
"Terserah dirimu, jangan mengeluh jika merasa bosan. Aku pergi." Biasanya Cakra akan menghampiri Eliza dan memberikan kecupan pada keningnya, namun tidak kali ini.
Ia mempercepat langkahnya keluar dari sana dan menghampiri ruangan Emry, keduanya berjalan beriringan menuju mobil. Berangkat bersama dalam satu mobil yang dikendarai oleh Jhony, tidak ada percakapan apapun dari mereka. Hingga mereka tiba disuatu tempat dan bertemu dengan kliennya, membahas beberapa hal penting mengenai kerjasama mereka.
Pertemuan tersebut terbilang sangat lancar dan berhasil, mereka pun berpisah kerana kesibukan masing-masing. Dalam perjalan kembali, mereka masih tetap diam. Dan secara tiba-tiba Cakra mengeluarkan suaranya, dan itu membuat Emry maupun Jhony kaget.
"Katakan, dimana kalian menyembunyikan Ayara?" Pertanyaan yang begitu mendadak dan tajam.
__ADS_1
Keduanya tidak menjawab sepatah kata apapun, mereka tetap dalam diamnya. Bahkan Emry begitu malas untuk mengomentarinya, berpura-pura tidak mendengar dan melempar pandangannya keluar jendela. Sedangkan Jhony, ia tetap fokus mengemudikan laju kendaraannya.
"Aku tahu kalian menyembunyikannya, katakan dimana Ayara?!" Nada suara itu meninggi sehingga membuat kaget yang lainnya.
"Bo**h! Kau bisa membuat kita semuanya celaka, berhenti bertanya. Karena aku tidak akan menjawabnya, urus saja wanita ularmu itu. Hah, aku benar-benar muak dengan kalian berdua! Berhenti Jhon, kau antar saja pria ini."
Ketika mobil berhenti, Emry segera keluar dari mobil tersebut. Yang dimana secara kebetulan sebuah mobil taxi sedang melintas, Emry segera memberhentikannya dan masuk kedalam taxi tersebut dan membawanya pergi.
Di dalam mobilnya, Cakra terlihat tetap tenang namun ada guratan pada wajahnya yang menandakan jika dirinya merasa kecewa.
"Tuan, apa kita lanjut?" Jhony memperhatikan Cakra dari kaca didekatnya.
"Ja jalan saja."Terdengar suara Cakra yang berat dan terbata-bata.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" Jhony memutar wajahnya untuk melihat keadaan Cakra di bagian belakang.
Cakra menyandarkan tubuhnya dengan kedua mata yang terpejam, tubuhnya sedikit bergetar dan sepertinya penyakit lama itu kembali menyerangnya. Tanpa ragu, Jhony segera menghubungi Matteo sebagaimana telah diberitahukan sebelumnya.
"Argh!" Tiba-tiba saja Cakra berteriak dan menyakiti dirinya sendiri.
"Aduh, tuan bagaimana ini." Jhony diserang panik namun masih terhubung dengan Matteo kala itu.
Sesuatu perintah yang diberikan Matteo pada Jhony, segera ia laksanakan dan berpindah pada sisi Cakra. Membuka tas yang dibawanya, mengambil sebuah obat yang dengan cepat Jhony tancapkan pada bagian dada Cakra. Membutuhkan waktu beberapa saat, hingga tubuh itu berhenti bergetar dan tenang.
"Tuan." Jhony memastikan keadaan Cakra.
__ADS_1
"Aku tidka apa-apa, terima kasih Jhon. Pulang saja, aku mau berisitirahat." Ujar Cakra yang masih menahan rasa sakit pada tubuhnya.
Sambil menganggukan kepalanya, Jhony melajukan mobil tersebut untuk segera pulang ke mansion. Tanpa diketahui oleh Cakra, Jhony menghubungi tuan besarnya dengan menggunakan pesan singkat.