
Kabar gembira atas kesadaran Ayara pun menyebar, Pedro dan yang lainnya bergegas kembali untuk bertemu dengan Ayara. Begitu pula dengan Damendra serta Yuri, mereka seperti sedang diburu bom yang ajan meledak untuk bertemu Ayara.
"Daddy awas, mommy duluan yang masuk." Yuri sedikit menggeser tubuh suaminya yang hendak membuka pintu ruang perawatan Ayara.
"Ya ampun mom, disini daddy juga mau masuk. Seharusnya momny yang bergeser sedikit, dasar tidak mau mengalah." Damendra menghela nafas kesalnya kepada Yuri yang membuat dirinya harus mengalah.
Keduanya saling terlibat adu debat, untuk masuk ke dalam ruangan itu saja harus berdebat. Sedangkan yang berada didalamnya, mendengar suara kegaduhan yang ada. Membuat Ayara meminta Cakra untuk melihatnya, saat pintu itu terbuka.
Brugh!
"Aduh, daddy kan!"
"Huh! Mommy ni, jadinya jatuh."
Mereka saling menyalahkan atas jatuhnya tubuh mereka saat pintu terbuka, bukannya selesai berdebat. Mereka kembali saling berebut untuk masuk.
"Ayara! Anak mommy, kamu sudah sadar sayang! Aduh senangnya mommy nak." Yuri terlebih dahulu masuk ke dalam ruangan tersebut dna memeluk Ayara.
__ADS_1
"Dasar wanita keras kepala, mommy geser sedikit lah. Daddy juga mau peluk Ayara!" Damendra tak mau kalah dengan istrinya.
"Ya ampun, mom dad. Ini rumah sakit, lagian juga Ayara masih belum boleh untuk menerima tamu banyak. Ditambah mommy dan daddy heboh begini." Cakra melerai kedua orangtuanya yang masih berdebat.
"Ish kamu ini, merusak suasana saja. Biarkan saja mereka ya nak, ah mommy benar-benar senang melihat kamu begini. Jangan sakit lagi sayang." Yuri membeli kepala Ayara dengan perlahan, seperti anak kecil.
"Mulai dah, dad. Aku curiga, mommy seperti sedang sakit." Ujar Cakra yang mulai bangkit jiwa usilnya.
"Ah, sepertinya juga iya. Coba hubungi pamanmu itu untuk memeriksa mommy, daddy takut akan semakin berbahaya jika terlalu lama."
"Daddy, Cakra!! Kalian benar-benar ya, awas saja." Yuri beranjak dari duduknya dan menghampiri keduanya dengan memasang kepalan tangan di kedua tangannya.
Klek!
"Apa kami melewatkan sesuatu?" Kepala Dzacky muncul dari celah pintu yang terbuka.
Disusul oleh beberapa orang lainnya, hal itu membuat kaget orang-orang yang berada didalam ruangan tersebut. Damendra langsung mengambil langkah seribu untuk menjauh dari istrinya, begitu pula Cakra mengikuti apa yang Damendra lakukan.
__ADS_1
"Kakak ipar!!"
"Ayara!"
Dzacky dan Eliot berhamburan menghampiri Ayara yang sedang tertawa, ia berada dalam pengawasan dua orang yang cukup berpengaruh untuk semuanya. Disaat Eliot dan Dzacky menghampiri, mereka mendapatkan halangan dari dua pria berwajah datar serta dingin itu.
"Mau apa kalian, hah!" Damendra menatap tajam pada Eliot dan Dzacky.
"Paman, ya mau memeluk kakak iparlah. Masa mau peluk paman, apa kata dunia nanti." Dzacky penuh dengan jawaban.
"Ah, aku hanya ingin memastikan keadaan Ayara saja paman." Eliot tidak bisa membantah terlalu keras pada tetua mereka.
Sedangkan Ayara, dia bersama Cakra hanya bisa tersenyum geli akan tingkah dari dua pria itu. Sungguh bukan melambangkan seorang CEO ataupun para pemain dari dunia bawah, tapi lebih tepat untuk saat ini mereka terlihat seperti keluarga yang sedang mendapatkan petuah.
"Daddy, kasihan mereka." Ayara akhirnya membuka suara untuk membela kedua.
Mendapatkan pembelaan dari orang yang mereka tuju, membuat Eliot dan Dzacky merasa lega dan akan melepaskan tatapan tajam dari tetua mereka. Saat akan berhasil mendekati Ayara, mereka Lagi-lagi mendapatkan halangan dari sahabatnya sendiri yaitu Pedro.
__ADS_1
"Apa?!" Pedro penuh kemenangan dihadapan mereka.
Semuanya kembali tertawa akan kekonyolan dari para pria-pria tampan disana, bahkan mereka tidak terlihat seperti orang dari kalangan atas melainkan rakyat biasa yang sedang bersendau gurau.