Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.74


__ADS_3

Dikala Cakra masih terlelap dalam rasa lelahnya, menantikan wanita yang ia cintai untuk membuka mata. Dan ketika semuanya sudah berada di alam mimpi, Cakra merasakan sesuatu yang bergerak di atas kepalanya.


Dengan refleks ia menangkap hal tersebut yang sudah membuatnya terganggu, perlahan membuka mata agar bisa melihat dengan jelas. Alangkah kagetnya saat ia mengetahui apa yang telah ia tangkap ditangannya itu, tangan mungil yang masih terlihat pucat. Lalu kedua matanya beralih melihat wajah sang pemilik dari tangan tersebut, kedua matanya masih tertutup dengan begitu rapat. Hal aneh yang dirasakan oleh Cakra, akan tetapi ia berusaha menetralkan alam pikirannya kala itu.


"Aku benar-benar merasakan gerakannya dikepalaku, tapi mengapa kamu masih terpejam sayang. Apa kamu marah padaku? Jangan hukum aku seperti ini, bangunlah sayang."


Masih menatap wajah yang terlelap begitu nyamannya, Cakra terus berusaha mengajak Ayara berbicara. Walaupun tidak ada respon apapun yang diberikan oleh wanita itu, akan tetapi ia berkeyakinan jika Ayara dapat mendengarkan.


Meletakkan tangan mungil itu kembali di atas pembaringannya, Cakra beranjak dari tempatnya untuk pergi ke kamar mandi. Sekadar membasuh mukanya yang terasa cukup sembab, setelah merasakan kesegaran yang ada. Ia kembali menghampiri sisi Ayara, tanpa menyadari perubahan yang ada disana.


"Sayang."


Suara yang cukup nyata terdengar di telinga Cakra, namun ia tidak mau berharap banyak akan semuanya itu. Ia hanya berpendapat jika Ayara masih terlelap, dan menganggap suara itu hanyalah halusinasinya.

__ADS_1


"Sayang, mas."


Kembali terdengar suara yang benar-benar seperti nyata, Lagi-lagi Cakra hanya menganggapnya sebagai suara dari alam bawah sadarnya saja. Menyandarkan punggungnya untuk mendapatkan kenyamanan, menyilangkan kedua tangannya di atas dada dan memejamkan kedua mata.


Tukh!


"Aduh!" Cakra kaget dan terbangun ketika kepalanya terkena lemparan sesuatu yang rasanya cukup lumayan sakit.


Melihat sekitarnya dan mencari sumber dari semuanya itu, namun ia tidak dapat menemukan apa-apa. Lalu ia memijat keningnya yang ia kira sebagai akibat dari kurangnya waktu istirahat, dan kali ini benar-benar membuat dirinya terbelalak tak percaya.


Haluan tubuh tinggi dan kekar itu berputar menghadap dimana Ayara berada, kalau dahulu dunia Cakra seakan berhenti dan hancur. Untuk saat ini, dunia itu kembali menjadi sangat hidup dna berwarna.


"Sayang, Ayara! Kamu, kami sadar sayang!" Kedua tangan kekar itu meraih kedua sisi wajah Ayara, menyakinkan jika semuanya itu adalah nyata.

__ADS_1


"Aku haus mas, dari tadi tidak didengar. "Ucap Ayara yang merasakan tenggorokannya begitu sangat kering.


Mendengar hal tersebut, Cakra bergegas mengambil sebetulnya air mineral biasa dan menambahkan sedotan kecil disana. Agar memudahkan Ayara untuk meminumnya, mungkin sudah terlalu lama tertidur. Hingga air tersebut hampir kandas diminum oleh Ayara, sungguh bahagia Cakra saat mendapati Ayara telah sadar.


"Mas lepas, lepas mas. Aku tidak bisa bernafas." Ayara mendorong tubuh Cakra menjauh darinya, karena pria itu memeluk tubuhnya dengan sangat erat.


"Akh, maaf sayang. Maafkan aku, aku terlalu senang karena kamu sudah sadar. Apa masih ada yang terasa sakit atau tidak nyaman?" Cakra memastikan jika Ayara benar-benar tidak merasakan sakit apapun itu bentuknya.


"Tidak ada mas, hanya saja aku terasa lapar." Ucap Ayara dengan tersipu malu.


"Mau makan apa? Kamu ini, menggemaskan sekali." Cakra mentoel kedua pipi Ayara.


"Kepingin cake saja, mau makan nasi. Tapi perut masih terasa penuh."

__ADS_1


"Baiklah, tunggu sebentar ya. Biar Jhony saja yang membelinya." Dengan cepat, Cakra mengambil ponselnya dan menghubungi Jhony untuk memberikan apa yang di inginkan Ayara.


Kedua larut dalam kebahagian, tak lupa Cakra menghubungi Matteo atas kesadaran Ayara. Pemeriksaan pun dilakukan untuk memastikan kalau Ayara baik-baik saja, lalu mereka pun sedikit berbincang-bincang setelahnya.


__ADS_2