Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.32


__ADS_3

Pertemuan kembali Cakra dengan masa lalunya, Eliza. Jika perasaan benci itu begitu besar, tetapi semuanya terhapus begitu saja oleh sedikit dari perasaan cinta yang ada.


Eliza menceritakan semua hal yang ia hadapi, dari awal hingga akhirnya meninggalkan Cakra begitu saja. Hidupnya terancam oleh pria yang membuat dirinya terlena dan tertipu, bahkan hidupnya bisa saja lenyap saat itu juga jika tidak menuruti dan memenuhi keinginan dari pria tersebut.


"Maafkan aku Cakra, semuanya ini adalah salahku. Jika saja aku tidak tergoda olehnya, ini semuanya tidak akan terjadi." Dengan wajah yang menunduk, Eliza menanggis sesegukkan.


Mendengar ceritanya seakan terasa sangat memilukan untuk didengar, siapapun yang berada disana serta menyimak cerita tersebut. Akan menjadi ikut ke dalam alur cerita yang disampaikan, sungguh itu adalah cerita tragis untuk seorang wanita.


Pada awalnya, Cakra begitu membenci wanita itu. Yang dimana hampir saja membuat dirinya berada di ambang hidup dan mati, namun kini. Mereka dipertemukan kembali, kebencian itu terkikis oleh sedikit rasa cinta yang dulu pernah singgah dihatinya.


Berbagai drama yang diberikan oleh Eliza saat itu, namun yang menjadi pertanyaan terbesarnya adalah. Siapa orang yang berada dibalik kejadian ini semuanya? Tidak mungkin jika orang tersebut merupakan orang yang biasa-biasa saja dan tidak mempunyai pengaruh apapun, bisa-bisanya keberadaan dan informasi mengenai Eliza lenyap begitu saja.


Disaat keduanya mengulang kembali masa-masa romantis pada hubungan yanh terdahulu, ponsel Cakra bergetar. Sebuah pesan masuk, namun itu di abaikan oleh dirinya yang sedang begitu bahagia dan merindukan wanitanya.


.


.


.


.


Untuk kepulangan Emry dan Jhony kembali ke negaranya, dengan membawa berbagai macam produk pesana dari tetua besar Damendra.


"Paman, apa ini tidak berlebihan?" Emry yang masih tidak percaya akan apa yang mereka lakukan.

__ADS_1


"Berlebihan? Ini hanyalah seujung kuku, Emry. Cepat tata semuanya didalam, sebentar lagi istri dan calon menantuku tiba." Damendra meminta semuanya membantu menurunkan dan menata barang yang sudah dibawa oleh Emry dan Jhony.


"Tapi paman, Ayara..." Ucapan Emry mengantung saat mengucapkan nama itu.


"Dia tetap anakku, terlepas untuk Cakra atau tidak. Sudahlah, kepalaku sakit jika mengatakan nama anak batu itu." Damendra masuk ke dalam mansion dan bersiap menyambut kedatangan dua wanitanya.


Sepeninggalan Damendra, Emry merasakan aura yang berbeda. Dimana biasanya, pria tuan itu akan begitu murka dan berapi-api untuk segera menghampiri putranya yang membuat keonaran. Tapi kali ini, ia sangat antusias menyambut Ayara.


"Batu batu, anaknya batu lalu bapaknya apa? Semen?! Aah, anak sama bapak sama saja. Sama-sama keras, Ayara akan datang. Apa dia menghubungi Cakra disana? Rumit sekali."


Berbagai macam barang yang dibawa itu telah selesai ditata, terlihat seperti tumpukan barang di gudang. Melihat barangnya saja sudah membuat sakit kepala, apalagi ditambah melihat jumlah total dari keseluruhan biayanya. Bisa-bisanya terkena serangan jantung, tapi itu hanya seujung kuku bagi seorang Damendra.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depan pintu utama. Terlihat Jhony segera membukakan pintunya, Yuri dan juga Ayara telah tiba.


"Ayo nak, daddy sudah menunggu kita. Katanya ada banyak kejutan untuk kita berdua, apa kamu senang? Ah sudah, tidak usah dipikirkan." Yuri langsung mengandeng tangan Ayara dan masuk ke dalam mansion.


Ketika mereka masuk dan melihat tumpukan disana, Yuri tidak kaget akan hal tersebut. Namun Ayara, dia terdiam dan bingung.


"Nak, kenapa diam? Lihat, ini kejutan dari daddy untuk kita. Ayo kita lihat, mommy sudah tidak sabar."


"Tapi..." Ayara tidak sempat untuk berkata-kata, karena Damendra sudah hadir disana.


Damendra langsung menyambut istrinya, lalu tatapannya beralih pada Ayara. Ada sesuatu yang tersirat dalam pandangan tersebut, seperti tatapan seorang ayah kepada anaknya.


Begitu pun Ayara, ia segera menyambut tatapan itu dengan mendekatinya dan mencium punggung tangan Damendra. Ada perasaan yang begitu mendalam bagi Ayara, namun perasaan itu segera ia tepis agar kedepannya tidak membuatnya kecewa.

__ADS_1


"Dad, ini semuanya untuk kita berdua?" Yuri dengan begitu semangatnya melihat susunan barang disana.


"Untuk siapa lagi, kalian bisa mengaturnya. Bergabunglah dengan mommy, daddy tidak menerima penolakan. Jangan pikirkan anak batu itu, biar daddy yang mengurusnya." Damendra menyerahkan Ayara pada istrinya untuk bergabung.


Dengan senang hati, Yuri bersama Ayara mulai membuka satu persatu tumpukan dari barang-barang yang ada disana. Walaupun Ayara nampak begitu canggung dengan keadaan tersebut, ia berusaha untuk tetap tenang agar tidak mengecewakan orang-orang baik disekelilingnya.


Berbagai produk mulai dari tas, pakaian, sepatu, sandal yang tentunya bermerek serta dengan nominal sepadan. Bagian Ayara, untuk memiliki barang-barang tersebut hanyalah sebuah mimpi yang tidak tahu akan kapan terkabulkannya. Dan sekarang, begitu mudahnya ia mendapatkan semuanya dengan percuma.


"Nak, mommy tahu apa yang kamu pikirkan. Jika putra mommy itu tidak membuatmu bahagia, jangan dipaksakan. Hidupmu harus bahagia sayang, mommy dan daddy tetap orangtua untukmu." Yuri sedari awal memperhatikan sikap Ayara yang terlihat sangat berbeda dari biasanya.


Disaat Ayara mendengarkan semuanya, hatinya terasa begitu sejuk. Perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtua yang selama ini tidak ia dapatkan, kini perlahan mulai menghampiri kehidupannya.


"Terima kasih mom, mommy dan daddy telah menerimaku." Ujar Ayara dengan kedua mata yang sudah berembun.


Tidak ada jawaban untuk ucapan tersebut, Yuri segera memeluk Ayara dan meluapkan kasih sayangnya. Walaupun nyatanya Ayara bukankah anak kandungnya, namun semuanya itu tidak menjadi dinding pembatas baginya untuk mencurahkan kasih sayangnya.


Dari kejauhan, Emry dan Jhony memperhatikan mereka. Secara diam-diam, ia mengambil potret momen bersejarah itu dengan menggunakan ponsel miliknya.


"Makan tu wanita ular, jika paman sudah bertindak sejauh ini. Aku menyerah, Cakra. Kau akan menghadapi benteng kokoh untuk menemui Ayara kedepannya, karena aku yang terlebih dahulu mengamankannya dari manusia bo**h sepertimu. Hah!" Emry harus menghela nafasnya.


Tidak lupa memberitahukan kepada sahabatnya yang lain mengenai peristiwa tersebut, dimana mereka pun mendukung apa yang dilakukan oleh seorang Damendra.


Sejak saat itu, dimana Damendra mengetahui apa yang dilakukan putranya tersebut. Maka sejak itu pula, Ayara sudah berada ditempat teraman dengan perlindungan serta pengawasan terbaik dari Damendra serta keenam pria yang sangat berpengaruh.


Kekuatan serta kekuasan dari ke enam pria tersebut, dengan sekejap mata merubah segalanya. Terutama Pedro, ia begitu geram saat mengetahui kabar berita tersebut.

__ADS_1


"Kau harus membayarnya dengan begitu mahal, Cakra." Erangnya dengan kepalan dari kedua telapak tangannya.


__ADS_2