
"Kemana perginya? Huh, menyebalkan sekali." Celine berjalan memasuki perusahaan yang Cakra pimpin.
Seperti biasanya, ia menggunakan nama sebagai tunangan dari Cakra. Sehingga dengan mudahnya ia mendapatkan akses masuk kesana, namun saat ia akan memasuki ruangan yang Cakra gunakan. Suara keras membuatnya kaget.
"Anda harus mendapatkan izin, nona." Emry sudah berdiri di balik Celine.
"Aaa... Kau membuatku kaget saja, lagian sejak kapan ada larangan untukku masuk ke dalam ruang kerja ini?" Celine membalikkan fakta jika dirinya mempunyai hak untuk bebas masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Jangan lupa statusmu, Celine." Ucapan Emry bernada tegas, karena ia sudah muak akan sikap wanita itu.
"Hei Emry, sejak kapan kau berkata seperti itu padaku. Pokoknya aku mau masuk." Celine masih terus mencoba membuka pintu ruangan didepannya.
Sejak Cakra mengalami kejadian tersebut, maka ruangan itu hanya diperuntukkan untuk Damendra dan para sahabatnya yang mempunyai kepentingan dalam hal pekerjaan. Untuk selebihnya, makan ruangan itu akan dikosongkan dari semua kegiatan.
Karena tidak dapat membuka pintunya, membuat Celine mencoba menghubungi Cakra. Yang dimana terhubung namun tidak dapat respon apapun, karena ponsel itu telah diamankan oleh Damendra.
"Huh, kenapa Cakra tidak menjawab? Kemana dia, menyebalkan!" Celine terus mengumpat mengenai keberadaan pria yang ia cari.
Dengan melihat sikap Celine, membuat Emry semakin muak. Ia benar-benar ingin menyingkirkan wanita itu dari hadapannya, tidak ada rasa empati sedikit pun jika sudah berhadapan dengannya.
Memilih meninggalkan wanita tersebut untuk kembali bekerja, Emry tidak perduli dengan suara Celine yang terus berteriak mencari keberadaan Cakra. Benar-benar harus fokus dengan pekerjaan yang hampir seluruhnya dilimpahkan pada dirinya, hanya saja ia masih bisa meluangkan waktu untuk berisitirahat.
Tok tok tok...
"Permisi pak, ada tamu yang ingin bertemu dengan pak Cakra?" Ujar Mawar, sekretaris perusahaan.
__ADS_1
"Siapa?" Emry yang baru saja hendak menyandarkan punggungnya, dikagetkan dengan kedatangan staff nya.
"Sepertinya orang baru pak, karena saya belum pernah bertemu dengannya."
Jika saja Mawar tidak mengenalnya, bagaimana dengan dirinya? Rasa penasaran itu begitu besar akan siapa sosok dari tamunya.
Keduanya berjalan bersama untuk menemui tamu tersebut, dimana mereka mempersilahkan sang tamu untuk menunggu di ruang yang sudah disediakan. Ketika mereka telah tiba, sorot mata Emry seakan-akan berubah menjadi waspada.
"Maaf tuan, ini adalah pak Emry. Dia adalah wakil dari pak Cakra. Anda bisa berbicara padanya." Mawar mempersilahkan Emry untuk berbicara pada tamu mereka dan kembali pada pekerjaannya.
Ada keraguan pada diri Emry saat melihat tamu yang dimaksud, ia memperlihatkan wajah yang cukup dingin saat berhadapan. Namun siapa disangka, tamu mereka tersenyum seperti sedang mendapatkan hadiah.
"Perkenalkan, Yoshi Jazztin." Pria itu memperkenalkan namanya kepada Emry.
Mereka saling berjabat tangan satu sama lain, namun Emry hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab ataupun balik memperkenalkan dirinya.
"Heh, ternyata anda adakah orang yang cukup tidak sabar juga ya. Oke, aku kesini untuk bertemu dengan Cakra, ada sesuatu yang harus aku bahas dengannya." Yoshi menyilangkan kakinya dan tersenyum seringai pada lawan bicaranya.
Siapa dia? Kenapa firasatku tidak enak, lagi pula. Aku baru kali ini mendengar namanyanya, tampangnya juga seperti tidak asing.
Masih berdialog dengan pemikirannya sendiri, Emry memicingkan kedua matanya dengan penuh waspada. Melihat seringai dari orang yang dihadapannya ini, seakan mengatakan jika orang tersebut bukankah orang sembarangan. Perlu banyak bukti untuk memperjelas siapa dia, dan kalo ini dirinya harus tetap tenang.
"Pimpinan kami sedang tidak ada ditempat, untuk waktunya. Kami belum bisa memastikan kapan ia akan ada diperusahaan, harap anda bisa menunggunya jika masih ingin bertemu." Ucap Emry dengan sangat jelas.
"Tidak ada ditempat? Waktunya pun tidak bisa dipastikan, heh. Pimpinan seperti apa itu, apa masih pantas untuk memimpin perusahaan? Hah, baiklah. Lain kali saja aku menemuinya, lagi pula dia saat ini pasti sangat sibuk."
__ADS_1
"Dan satu lagi, tolong sampaikan pada pimpinan kalian. Jangan mudah tergiur dengan sesuatu yang sudah pantas untuk dibuang, itu sama saja membuat dirinya tidak berharga sama sekali. Hahaha."
Setelah menertawakan dengan cukup keras dan tamu tersebut pergi begitu saja, sehingga mereka mendapatkan perhatian dari sebagainya orang-orang yang berada di lokasi tersebut. Hal itu membuat geram Emry, kedua telapak tangannya sudah mengepal dengan sangat kuat.
"Kau dimana? Ada sesuatu yang mencurigakan." Emry berbicara melalui ponselnya.
"Hem, baiklah." Pembicaraan yang terputus, lalu Emry kembali ke ruangannya.
Waktu berjalan dengan begitu cepat, disaat perusahaan sedang dalam keadaan waspada. Tapi tidak untuk keadaan di mansion utama, ada suasana baru yang begitu membuat semuanya tersenyum.
Atas kerjasama dan ketelatenan dari semua orang-orang yang berada disisi Cakra, kini pria itu menampakkan perubahan serta kemajuan dalam kesehatannya. Bahkan Ayara sudah kembali lagi dengan rutinitasnya serta tidak bisa menjauh sedikitpun dari sisinya Cakra, itu akan membuat Cakra menjadi panik.
"Kamu ini, Ayara juga butuh waktu untuk sendiri. Jangan manja, mommy tidak suka kami terlalu membuat Ayara terkekang." Yuri menasihati putranya itu agar tidak terlalu bersikap posesif dengan Ayara.
Tatapan Cakra tetap mencari keberadaan Ayara disana, disaat dirinya sedang terlelap. Ayara memilih untuk menghirup udara segar sejenak, kesempatan itu diberikan oleh Yuri. Ia tidak ingin keadaan Cakra membuat Ayara terjauhkan dari dunia luar, tentunya dengan pengawasan dari pria-pria aneh menurut Ayara. Jika tidak, dirinya tidak akan di izinkan untuk melangkah keluar dari mansion.
Tidak banyak aktivitas yang dilakukan oleh Ayara, ia hanya Berjalan-jalan menikmati indahnya pemandangan alam. Ketika sudah merasa lega, ia melanjutkan untuk sedikit berbelanja disebuah mall terbesar disana. Melihat-lihat beberapa pameran pernak-pernik yang ada disana, lalu ia tertuju pada sebuah pajangan unik yang membuatnya tertarik.
Sebuah pajangan bola salju, bentuknya sederhana dan didalamnya terdapat sebuah bunga mawar putih yang begitu cantik. Entah mengapa dirinya ingin sekali mendapatkannya untuk ia berikan pada Cakra, dengan senyuman indahnya. Ayara mendapatkannya, melanjutkan membeli beberapa barang yang ia butuhkan. Setelah selesai, ia segera pulang. Namun siapa disangka saat akan keluar dari tempat tersebut, dirinya serasa ingin ke kamar kecil. Mencari tempat yang terdekat, Ayara pun masuk kesana.
Ketika ia keluar dari kamar kecil tersebut, tiba-tiba saja ia ditarik okeh dua orang ke arah belakang dengan keadaan mulut yang terbekap. Ia dibawa menuju sebuah ruangan kosong, Ayara menjadi panik dan ketakutan.
"Akhirnya kita bertemu juga ya ma." Ucap salah satu dari orang-orang tersebut.
"Ayo cepat, kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada."
__ADS_1
Betapa kagetnya Ayara ketika mengetahui siapa orang yang telah membekapnya, dua wanita yang pernah membuat hidupnya bagaikan dineraka.