
Ke esokan harinya, seperti biasanya. Ayara terlebih dahulu bangun dan kini berada dapur membantu lainnya untuk menyiapkan sarapan.
Setelah semuanya siap, merek pun bersiap karena penghuni mansion akan segera turun untuk menikmati sarapan pagi. Tidak lupa tuan muda mansion sudah terlebih dahulu meminta Ayara untuk membantunya, walaupun Ayara tahu jika itu hanyalah akal-akalan dari Cakra agar dirinya berada disisi pria dingin itu.
"Dimana Ayara?" Damendra yang tidak mendapati seseorang yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
"Daddy seperti tidak tahu saja, putramu itu yang sudah menahannya dikamar. Ini kopinya." Yuri meletakkan secangkir kopi hitam kesukaan suaminya.
"Heh, jika aku menjadi Ayara. Lebih baik mencari pria lain saja yang tidak keras seperti dia, akan lebih baik jika Ayara menjauhinya." Perkataan itu begitu spontan keluar dari mulut pria yang sangat disegani.
"Daddy!" Sanggah Yuri yang tidak menyukai perkataan dari suaminya.
"Kenapa? Lagian, Ayara juga tidak akan bertindak seperti itu kan. Mereka sudah saling menyukai satu sama lain." Damendra yang cukup antusias untuk membantah ucapan istrinya.
Memutar kedua bola matanya dengan begitu sangat malas, Yuri memilih untuk tidak berdebat lagi dengan suaminya. Melanjutkan sarapan pagi yang tertunda, lalu Damendra berangkat menuju perusahaan.
__ADS_1
Didalam kamar Cakra, pria itu dengan begitu menurutnya pada sang wanita pujaan hati. Mereka duduk bersama di balkon kamarnya tersebut, sambil menikmati sarapan yang dibawa Ayara sebelumnya. Cakra terlihat semakin bersemangat dan kondisinya pun perlahan mulai membaik, namun tidak untuk Ayara.
" Kenapa sayang? Kamu terlihat tidak bersemangat pagi ini, apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" Selidik Cakra dengan menatap Ayara dengan sangat dekat.
"Tidak ada, hanya sedang menikmati udara segar di pagi hari. Hari ini, tuan ada jadwal untuk kontrol ulang. Sekaligus terapi yang utama untuk bagian kakinya, makanya sarapan ini harus dihabiskan ya." Ayara mulai menyuapi Cakra dengan makanan yang ia bawa.
"Jangan membohongiku, Ayara. Katakan saja." Cakra sangat yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ayara darinya.
"Percayalah, aku tidak berbohong apapun dari tuan." Ayara menyentuh punggung tangan Cakra, menyakinkan jika dirinya mengatakan yang sebenarnya.
"Argh!" Cakra tiba-tiba tersentak kaget dengan rasa sakit yang ia rasakan pada kakinya.
Saat itu, setelah selesai dengan sarapan dan beristirahat sejenak. Ayara memulai terapi pada kaki Cakra, ia mulai memijat dengan perlahan pada titik-titik saraf yang ia ketahui saja. Sudah beberapa minggu ia mencoba metode ini, tidak putus asa dan terus berharap akan ada sesuatu keberhasilan dari usahanya tersebut.
"Tuan! Ada apa?" Panik Ayara yang mendengar teriakan Cakra.
__ADS_1
"Sstth, itu. Kakiku terasa seperti tertusuk saat tanganmu bergerak." Penjelasan Cakra yang benar adanya.
"Benarkah? Tuan tidak bohong kan, itu tandanya. Akh tuan, selamat ya." Tanpa sadar Ayara memeluk Cakra atas rasa bahagianya mengetahui respon yang diberikan oleh kaki Cakra.
Deg!
Deg!
Deg!
Suara detak jantung Cakra begitu cepat seperti sedang berlari, perasaan sakit dan bahagianya bercampur menjadi satu. Ia pun membalas apa yang Ayara lakukan padanya, namun ketika Cakra melingkarkan tangannya pada Ayara. Dengan cepat wanita itu menyadarinya dan mendorong dada Cakra menjauh darinya, pipi itu berubah menjadi sedikit memerah atas rasa malu yang dirasakannya.
"Maaf tuan, hmm aku permisi dulu." Beranjak untuk membawa tempat makanan yang telah kosong ke dapur, namun Cakra segera mencegahnya.
"Menikahlah denganku, Ayara?"
__ADS_1
Untuk kesekian kalinya, Cakra mengucapkan hal tersebut kepada Ayara. Namun entah mengapa dirinya seakan belum terpilih untuk menjawab dan menerima.