Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC. 54


__ADS_3

"Aku sudah mengizinkanmu seharian, apa masih kurang?" Tangan itu mulai merambat pada pipi Ayara.


"Maaf, hari ini memang cukup membuatku lelah. Aku mohon, jangan membuatku semakin merasa bersalah sudah membiarkanmu sendirian." Sanggah Ayara yang mulai memejamkan matanya menahan rasa sakit dikepalanya.


"Lain kali, aku tidak akan memberikanmu izin lagi." Tegas Cakra dengan raut wajah dinginnya.


Ngiing...


Denyutan pada kepala Ayara semakin terasa menyakitkan, hingga ia merasa tidak mampu untuk menahannya. Memberontak untuk melepaskan diri dari pangkuan Cakra, namun pria itu tidak membiarkannya begitu saja. Hingga terlihat cairan berwarna merah mengalir dengan sangat banyak dari hidung Ayara.


"Sayang!" Panik Cakra menahan kepala Ayara yang limbung ke belakang.


"Aku aku tidak apa-apa." Ayara mendorong Cakra untuk menjauh, ia menyadari cairan itu telah mengenai pakai pria dihadapannya.


"Tunggu Ayara, jangan pergi. Berbaringlah, aku akan menelfon paman." Cakr ayang panik mencari ponselnya dan menghubungi Matteo.


"Jangan! Aku tidak apa-apa, ini hanya kelelahan." Sanggah Ayara yang menahan Cakra.


"Kamu mimisan Ayara, ayo berbaringlah." Suara Cakra sedikit meninggi dan membuat Ayara merinding.


Menuruti perkataan Cakra untuk berbaring, dengan syarat tidak menghubungi Matteo. Ayara berpikir sudah larut malam dan tidak ingin merepotkan orang lain, dengan berdebat sedikit yang akhirnya membuat Cakra mengabulkannya.


Dengan perlahan, Cakra membantu Ayara membersihkan hidungnya dari cairan merah itu. Kekhawatiran menyerang Cakra dengan kondisi wanitanya, cukup normal jika dirinya curiga akan kondisi Ayara dan dengan tenangnya wanita itu membuat Cakra percaya jika dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Terima kasih tuan, aku sudah merasa lebih baik." Ayara segera duduk dari baringannya.


"Bisakah kau menuruti ucapanku, Ayara."Terdengar cukup tegas ucapan yang Cakra katakan.

__ADS_1


Hal tersebut membuat Ayara menghentikan tindakannya, namun disaat ia dalam posisi sudah duduk dengan manis. Berkali-kali Cakra harus menghela nafasnya, menyaksikan sikap Ayara yang hampir mirip dengannya yaitu keras kepala.


Ayara masih cukup tahu batasan atas dirinya dan Cakra, apalagi kehadiran Celine sudah membuat dirinya semakin menyadari siapa sebenarnya dirinya saat ini.


"Aku sudah tidak apa-apa, terima kasih tuan sudah membantuku." Ayara melepaskan senyuman sebagai tanda jika dirinya sudah lebih baik, padahal sakit dikepalanya masih begitu terasa.


"Jangan mengulanginya lagi, aku tidak mau kamu ada apa-apanya. Seharian ini, dirimu pergi. Itu sama saja dengan menguras tenagamu, sayang." Cakra benar-benar sangat panik saat melihat Ayara mimisan.


"Mungkin ini karena kelelahan saja, lebih baik tuan beristirahat saja. Lagian, ini sudah begitu malam. Ah sampai lupa." Ayara menepuk keningnya dan segera bangkit, lalu ia mengambil sebuah kursi dan diletakkan dihadapan Cakra.


Duduk dengan manis, Ayara meraih kaki Cakra untuk diletakkan di atas kakinya yang sudah ditekuk. Mendapati hal itu, Cakra memprotes sikap Ayara tersebut.


"Tuan, aku sampai melupakan terapi untuk kakimu, maafkan aku." Ayara mulai menggerakkan jemarinya untuk memberikan terapi pada kedua kaki tersebut.


"Ini sudah malam, Ayara." Cakra terus menolak namun ia tidak dapat menggerakkan kakinya agar bisa menghindar.


Benar-benar lelah jika harus berdebat terus dengan Ayara, Cakra mulai pasrah. Karena keteguhan dari wanita dihadapannya ini, dirinya bisa mendapatkan kondisinya seperti sekarang. Setelah selesai, Cakra meminta Ayara untuk segera berisitirahat, karena ia tidak mau jika wanitanya jatuh sakit.


Ketika Ayara sudha kembali ke dalam kamarnya, Cakra segera menghubungi Pedro mengenai aktivitas Ayara bersamanya seharian. Cukup puas dengan penjelasan yang diberikan, karena Ayara tidak membohongi dirinya. Namun perasaan khawatirnya masih terus memenuhi pikirannya, dan berakhir dengan menghubungi sang pamannya.


"Ada apa? Kamu ini, paman habis melakukan operasi besar di rumah sakit. Tidak bisakah pamanmu ini beristirahat sejenak, dasar bocah batu." Umpat Matteo yang merasa kesal akan sikap Cakra yang selalu semaunya sendiri.


"Sudah mengumpatnya, paman." Suara datar itu membuat Matteo kaget.


"Kau! Kau sudah bisa bicara, akh! Benar bocah batu sialan, kenapa tidak ada yang membertahukanku masalah ini."


"Tidaka ada yang tahu selain Ayara dan juga paman sekarang, nanti akan aku jelaskan. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, mengenai Ayara."

__ADS_1


"Ayara?" Matteo membeo.


"Hem, sebenarnya bagaimana keadaan kondisi Ayara saat paman menanganinya?"


Matteo terpaku akan pertanyaan dari Cakra, memang benar ia yang menangani kasus Ayara. Akan tetapi, ada sesuatu yang membuatnya merasa ganjil akan kondisinya.


"Katakan, ada apa?" Perkataan Matteo ikut mendatar dan juga tegas.


Cakra pun menceritakan semua apa yang di alaminoleh Ayara pada hari ini, ada rasa kekhawatiran juga yang muncul dalam hatinya. Bagaimana pun juga, kondisi Ayara tidak bisa dibilang baik-baik saja.


"Untuk saat ini, jaga dia agar tidak terlalu kelelahan. Biar paman yang akan bicara untuk pemeriksaan selanjutnya, semoga saja ini hanya karena faktor kelelahan."


"Baiklah, paman lanjutkan saja membuat peta dia tas meja." Ucap Cakra dengan mudahnya dan memutuskan percakapan diantara mereka berdua.


"Membuat peta? Hei, bocah batu sialan. Kamu mengatai paman tidur dengan ileran ya! Wah, semakin berani saja ini bocah, awas saja kau ya." Umpat Matteo dengan menghempaskan ponsel miliknya di atas meja, lalu ia mendaratkan kepalanya dia tas meja untuk melepas lelah.


Dalam waktu beberapa saat, ia tersadar dan segera menegakkan bahunya. Menggelengkan kepalanya dan menutupi perbuatannya yang benar-benar tidak disadari, betapa sangat malunya dirinya jika disaksikan oleh keponakannya itu.


...Bagaimana bisa ucapan bocah batu itu terwujud begitu saja, dna aku pun tidak menyadarinya? Sial!...


Melanjutkan lelahnya yang sempat tertunda oleh keponakannya itu, namun Matteo tidak lekas cepat terlelap. Dalam pikirannya tergiang akan ucapan Cakra sebelumnya, ia pun segera mengambil catatan rekam medis milik Ayara. Lalu membacanya kembali untuk memastikan tidak terlewatkan satu pun penjelasan mengenai pasiennya, untuk sekilas tidak ada sesuatu yang mencurigakan.


"Apa ini?" Sorot kedua mata itu menangkap suatu penjelasan yang telah ia lewatkan untuk diamati.


"Ya Tuhan, kenapa aku bisa melewatkan informasinya seperti ini. Huh, lebih baik aku memastikannya sendiri besok. Jika tidak, bocah batu itu akan murka." Matteo mengusap wajahnya dengan kasar, menutupi kelalaiannya atas rekam medis milik pasien.


Tak lupa sebelum memejamkan kedua matanya, Matteo membuat sebuah catatan penting pada ponselnya. Ia takut jika akan melupakannya lagi, dan itu akan semakin memperkeruh keadaan yang ada. Otaknya pun ikut-ikutan membuat rencana selanjutnya agar dapat memperbaiki semua kelalaian yang telah ia lakukan, entah mengapa kali ini hatinya tidak cukup tenang.

__ADS_1


"Kenapa malah memikirkan gadis itu, wah bisa-bisa aku akan mendapatkan masalah besar dari bocah batu dan para sahabatnya. Tapi, memang tidak bisa dipungkiri jika Ayara sudah berhadil mencuri semua hati dan perhatian dari semua orang yang menyayangimu."


__ADS_2