
Kabar berita mengenai keadaan Ayara tersebar dengan sangat cepat, hingga kedatangan mereka meramaikan rumah sakit di depan ruang tindakan.
"Nak, bagaimana keadaan Ayara?" Yuri yang baru saja tiba bersama dengan Damendra, mereka berdua sangat khawatir.
"Masih didalam mom." Jawab Cakra dengan singkat, karena ia juga masih menunggu hasil pemeriksaan.
"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Ayara sampai sakit, Cakra!" Tidak ada yang berani mengeluarkan pertanyaan disaat melihat wajah khawatir Cakra, melainkan Damendra.
Cakra hanya terdiam dengan pertanyaan yang terus tergiang di telinganya, tak lama kemudian para sahabatnya baru berani menghampiri dirinya. Cakra juga merasa bersalah pada Ayara, karena dirinya sempat membentak wanita yang ia cintai itu.
Pintu ruangan tersebut terbuka, terlihat jika para perawat sedang mendorong brankar dimana Ayara berasa disana, mereka menuju salah satu ruangan berikutnya yang kemudian baru berakhir pada kamar perawatan.
"Bisa bicara dengan keluarga dari pasien?" Seorang dokter wanita yang berada disisi tempat Ayara berada.
__ADS_1
"Saya suaminya dokter." Jawab Cakra dengan cepat.
"Sebelumnya, tidak mengurangi rasa hormat. Untuk para pihak keluarga yang lainnya, agar bisa menunggu diluar ruangan. Pasien saat ini sangat membutuhkan keadaan yang nyaman, untuk selanjutnya nanti akan lebih enak berkunjungnya." Papar dokter yang bernama Nadia itu.
Perlahan, satu persatu para sahabat dan keluarga yang lainnya berjalan keluar dari ruangan tersebut. Menyisahkan Cakra bersama kedua orangtuanya, karena mereka adalah pihak yang lebih dekat dengan pasien.
"Baiklah tuan, nyonya. Saat ini, keadaan pasien bisa dibilang sangat lemah. Maka dari itu, kita membatasi untuk pihak keluarga yang lainnya untuk berkunjung. Untuk selebihnya, pasien tidak ada penyakit yang serius."
"Beneran dok? Tapi, kenapa anak saya ini sampai pingsan dan kata suaminya merasakan sakit pada bagian perut? Apa itu tidak apa-apa? Itu pendarahan juga dok." Yuri mendahului untuk mengatakan hal yang ia ingin ketahui.
"Maafkan saya sebelumnya, apakah anda sebagai suaminya sudan mengetahui pada istri anda tuan?" Nadia melemparkan pertanyaan kepada Cakra yang terlihat sangat penasaran.
"Maksud dokter? Mengetahui apa?" Cakra mengatakan yang sebenarnya, karena ia memang tidak mengetahuinya.
__ADS_1
"Katakan saja langsung dok, kami tidak ingin bertanya-tanya." Damendra menegaskan ucapannya.
Lalu Nadia kembali tersenyum, sungguh kali ini ia sangat merasa lucu sendiri. Karena siapa yang tidak mengetahui siapa yang saat ini sedang berada dihadapannya, bahkan hampir disetiap tempat mengetahui mereka.
"Baiklah, apa suami dari pasien mengetahui jika pasien sedang mengandung?" Kalimat sederhana, namun berdampak besar untuk keluarga tersebut.
"Mengandung?!" Beo Cakra dan kedua orangtuanya yang ikut serta.
"Ya, benar. Pasien sedang mengandung, menurut prediksi pemeriksaan yang ada saat ini, usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke sembilan. Adapun penyebab dari pendarahan yang terjadi, itu dikarenakan pasien tidak menyadari akan kehamilannya. Sehingga mengalami berbagai tekanan pikiran dan juga tingkat kelelahan yang berlebihan, untuk itu kami menyarankan jika pasien harus bedrest total dari kegiatan yang ada." Begitu panjangnya Nadia menjelaskan hal tersebut, agar tidak ada pertanyaan berulang.
"Dad, aku akan menjadi ayah!" Ucap Cakra yang sangat kaget dengan kabar tersebut.
"Mommy dan daddy menjadi oma dan opa! Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengabulkan doa kami. Mommy akan jadi oma, oma." Teriak Yuri yang bahagia.
__ADS_1
Untuk Damendra, ia mengusap wajahnya yang telah basah akan air mata kebahagian saat ini.