
"Itu semuanya tidak akan terjadi, aku berjanji akan semuanya." Cakra menyakinkan Ayara akan semua perasaan yang ia takutkan itu tidak akan terjadi.
Ayara hanya diam, ia tidak ingin mengatakan apapun. Ia terlalu takut untuk merasa yakin dan percaya diri atas ucapan yang Cakra katakan padanya, karena ia tahu status pria yang menyukai dan ia sukai itu.
Seiring berjalannya waktu, ayara pun diperbolehkan untuk pulang. Sikap super protektif dan posesif dari Cakra, membuat Ayara harus beradaptasi kembali dengan kehidupannya. Bagaimana tidak, pria itu selalu seperti bayangan yang berada disisi Ayara.
Bahkan Cakra tidak mengizinkan Ayara untuk membuka tokonya kembali, jika hal itu masih ingin berlangsung. Ia hanya memperbolehkan orang lain yang mengerjakannya, tugas Ayara hanya mengawasi dan memberikan pengarahan.
"Kakak ipar, ajari aku membuatnya. Susah sekali ini." Dzacky yang berusaha membuat satu hasil karyanya, mengalami kesulitan.
"Cerewet sekali, minggir." Eliot mendorong Dzacky agar memberikan ia ruang untuk menunjukkan hasil karya miliknya kepada Ayara.
"Hei!" Dzacky berteriak saat tubuhnya sudah oleng.
Pemilik tempat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, bagaimana bisa pria seperti mereka bersikap seperti anak kecil. Kini Ayara mempunyai beberapa karyawaan yang ikut membantunya di toko, apalagi disaat pesanan lagi banyaknya.
"Sayang, bagaimana hari ini?" Cakra yang baru saja tiba dan segera menghampiri Ayara.
"Cukup ramai, ramai dengan mereka." Lirikan mata Ayara menunjukkan keberadaan dari para sahabatnya Cakra.
"Heh, apa mereka tidak bekerja. Selalu berada disini, lama-lama akan aku tendang mereka." Ketua Cakra yang melihat keberadaan Eliot dan Dzacky disana.
Setelah memberikan kecupan hangat pada kening Ayara, Cakra berjalan mendekati kedua dengan muka masam. Lalu ia menyentil kedua kening sahabatnya itu, menatapnya dengan tatapan geram.
"Jika kalian terus berada disini, akan ku pastikan perusahaan kalian akan hancur." Begitu kesalnya Cakra menghadapi keduanya.
"Wait!!! Ini masih belum selesai." Keluh Eliot yang masih menggenggam hasil karyanya yang belum terbentuk sempurna.
"Iya kak, ini juga masih jauh." Dzacky mengikuti langkah Eliot yang memprotes tentang karya mereka.
Menatap keduanya dengan tatapan geram, akhirnya Cakra menghela nafas beratnya. Ia kembali menghampiri Ayara dan membawanya menjauh dari semuanya.
"Hei, mau dibawa kemana Ayara?"
"Kakak ipar, ini bagaimana?!!"
__ADS_1
Tidak memperdulikan teriakan yang ada, Cakra terus berjalan bersama Ayara menuju mobil miliknya. Mereka berdua pun masuk ke dalamnya, hal itu membuat Ayara sedikit merasa ketakutan. Sebuah kotak kecil berwarna biru langit diberikan kepada Ayara.
"Untukmu sayang, dipakai ya." Ucap Cakra dengan senyuman begitu lepas.
Wajah Ayara nampak kebingungan, dirinya merasa bimbang akan hadiah tersebut. Menerima pemberian yang diberikan kepadanya, sama saja itu sebagai tanda jika dirinya menerima Cakra sepenuhnya.
Mendapati keraguan dari Ayara, sehingga Cakra mengambil inisiatif untuk membantu membukanya. Di dalam kotak tersebut berisikan sebuah kalung dengan liontin berlian disana, begitu terlihat elegan dan juga sederhana. Cakra tahu jika Ayara menyukai bentuk tersebut, senyuman itu semakin terlihat begitu teduh.
Tangan kekar itu membantunya untuk menggunakannya pada leher Ayara, disaat akan menarik dirinya. Cakra membisikan sesuatu pada telinga ayara dengan perlahan, dan itu membuat Ayara semakin merasa tidak berdaya.
"Kamu adalah wanitaku, saat ini dan untuk selamanya."
.
.
.
.
Hari-hari berikutnya pun tetap sama, dimana Cakra selaku bersikap over kepada Ayara. Namun lama kelamaan, hal itu membuat Ayara menjadi tidak nyaman.
"Ayu, bisa bantuin untuk memindahkan lemari ini?" Sebuah etalase yang sedikit menghalangi para pengunjung toko.
"Iya kak, biar kami saja yang memindahkannya. Kakak duduk saja, nanti tuan Cakra marah jika membiarkan Kakak bekerja." Ayu adalah salah satu orang yang Cakra kirimkan untuk membantu kegiatan Ayara.
"Tidak apa-apa, lagian aku juga sedang tidak sibuk."
Sebenarnya, etalase tersebut bisa dipindahkan dengan cara menggesernya perlahan. Karena memiliki roda dibawahnya, namun dikarenakan etalase tersebut berisikan barang-barang yang cukup berat. Untuk menggesernya akan memerlukan tenaga lumayan banyak, maka dari itu Ayara meminta bantuan pada yang lainnya.
Setelah memindahkan etalase, mereka pun beristirahat. Ayara memesan beberapa makanan melalui aplikasi online yang ada, sehingga memudahkan semua orang jika tidak ataupun sedang mager untuk keluar rumah.
Disela-sela mereka sedang menikmati waktu istirahatnya, tiba-tiba saja datanglah seorang laki-laki dengan perawakan yang cukup tampan. Siapa pun yang melihatnya akan menjadi tertarik, tapi sayangnya itu tidak berlaku untuk Ayara.
"Selamat siang, maaf menganggu kalian. Apa aku bisa bertemu dengan pemilik toko ini?" Pria tersebut berbicara dengan cukup sopan.
__ADS_1
"Siang tuan, tunggu sebentar ya." Ayu mempersilahkan pria itu untuk menunggu dan duduk.
Menyudahi makanannya, Ayara pamit pada ketiganya untuk menemui tamu mereka.
"Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu?" Sapa Ayara ketika berhadapan dengan pria tersebut.
"Anda pemilik dari toko ini?"
"Iya benar."
"Saya ingin pesan produk anda dalam jumlah yang cukup banyak, apakah anda bisa?" Pria itu langsung mengatakan maksud dari kedatangannya.
"Seperti apa yang anda pesan? Jika kami sanggup memproduksinya, tidak ada salahnya untuk menerima pesanan."
Pria itu menunjukkan contoh dari produk yang ia inginkan, untuk sesaat. Ayara melihat serta mempertimbangkan semuanya, ia pun meminta pendapat dari yang lainnya untuk produk tersebut. Dan mereka pun menyanggupinya, karena Ayara tidak ingin memaksakan di luar batas kemampuan yang ada.
"Kami bisa menerimanya tuan, untuk harganya.."
"Aku akan bayar berapa pun harga yang kalian berikan, asalkan semuanya selesai dengan tepat waktu. Bagaimana?"
Sejenak Ayara melirik ke arah temannya, anggukan kepala pun yang ia dapatkan sebagai tanda persetujuan.
"Baiklah, kami akan mengerjakannya. Anda bisa tulis alamat dan juga nomor kontak yang bisa dihubungi." Ayara menyerahkan sebuah kertas yang berisikan data dari konsumennya.
"Ini, kalian bisa menghubungiku." Pria itu menyerahkan sebuah kartu nama kepada Ayara.
"Leo Ferdinand, CEO Hadinata's??" Membaca tulisan pada kartu nama tersebut, membuat Ayara menjadi pemikir yang keras.
"Apa?!!!" Ayu dan lainnya berteriak saat mendengar nama tersebut dan segera menutup mulut mereka karena kaget.
"Kalian kenapa?" Heran Ayara.
"Ih, kakak tidak tahu perusahaan Hadinata's? Itu perusahaan besar hampir sama dengan tuan Cakra kak, aduh mana ganteng lagi." Tuti berceloteh sambil melirik ke arah pria tersebut.
"Benar kak, aduh beruntungnya kita." Ayu pun merasa bahagia.
__ADS_1
"Ya elah, jangan berkhayal tinggi. Tapi, ini kabar baik juga sih. Kita jadi banyak perasaan dan ada bonus juga kan kak?! Hahaha." Nova yang terkenal sebagai pribadi yang cuek, menjadi ikut berceloteh.
"Sudah-sudah, kita syukuri saja. Lanjut ya." Ayara pun kembali menghampiri Leo yang masih berada disana, membicarakan mengenai kesepakatan yang ada.