
"Aduh! Rusak sudah kesucian mataku ini, huh." Teriak Dzacky yang baru saja menginjakkan kakinya di mansion Cakra.
"Tuh kan mas." Ayara segera beranjak dari pangkuan Cakra.
Berjalan dengan perlahan mendekati Cakra yang bersikap biasa saja, Dzacky berdengus kesal.
"Kakak ipar, tidak usah malu. Yang seharusnya malu itu, ini ni. Kak, aku bawakan buah-buahan. Siapa tahu kakak sedang mengidam." Ucapan receh dari mulut Dzacky benar-benar membuat pasangan suami istri itu mendadak terdiam.
Cakra memandangi Ayara yang tertunduk terdiam, ia juga menyadari jika perjalanan rumah tangganya bersama Ayara masih terbilang baru. Wajar saja jika mereka belum dikaruniai momongan, namun raut wajah Ayara menampakkan kesedihan.
Tukh!
"Aduh, kenapa memukul sih!" Dzacky menatap Cakra yang sudah memberikan kode padanya.
Mendapati Ayara yang masih terdiam, membuat Dzacky ikut terdiam dan merasa bersalah. Dengan cepat Cakra segera menghampiri istrinya, memeluknya dari arah samping dan memberikan kecupan singkat di keningnya.
"Tidak usah didengar ucapan pria aneh ini, lebih baik kita bersiap-siap saja. Katanya mau kerumah Pedro? Ayo." Cakra mengalihkan pikiran Ayara dari kesedihan.
__ADS_1
"Iya mas, aku bersiap dulu." Ayara berjalan menaruh dari kedua pria itu.
Plak!
"Dasar tu congor tidak pakai filter lagi, awas saja kalau istriku sampai stres. Akan aku habisi kau!" Cakra menjitak kepala Dzacky dengan cukup kuat, ia merasa geram akan ulah Dzacky.
"Kan aku tidak sengaja, maaf." Ucap Dzacky dengan lirih, ia begitu sedih ketika mendapati Ayara yang terdiam akan ucapannya.
"Huh, itu urusunmu. Ya jelas, kalau terjadi sesuatu pada istriku akibat dari ucapanmu itu. Habis kau!" Seringai Cakra yang cukup membuat Dzacky tertunduk.
Lalu, Cakra memberikan waktu untuk Ayara larut dalam pikirannya. Sampai mereka tiba pun, Ayara masih tetap terdiam. Sambutan hangat dari pasangan sang pemilik rumah menjadi pemecah kesunyian yang ada.
"Bagaimana kabarmu, Ayara?" Aina membawa Ayara ikut bersamanya untuk duduk bersama di halaman belakang.
"Baik kak, kakak juga sehat terus ya. Keponakan aunty apa kabarnya didalam sana?" Ayara mengusap perut Aina yang sudah terlihat membesar.
"Alhamdulillah baik aunty, doa yang sama untuk aunty." Aina membalas ucapan Ayara dengan doa, karena ai tahu kegundahan hati wanita itu.
__ADS_1
Semuanya berkumpul bersama, melepas kepenatan yang ada. Hingga acara pun berakhir dan mereka berpisah kembali, disaat semuanya telah pulang. Pedro dan Aina berbincang mengenai perubahan pada Ayara.
"Mas, kamu tahu tentang Ayara?" Aina membuka pembicara diantara mereka.
"Hem, bagaimana menurutmu sayang?" Pedro bermanja selalu dengan istrinya.
"Tapi mas, apa mas tidak menyadari ada yang berbeda dengan Ayara? Seperti misalnya dengan sikapnya yang lebih dewasa dan cenderung seperti mengalah." Jelas Aina yang dibenarkan oleh Pedro.
"Tapi sayang, sepertinya pipinya juga terlihat lebih kembung. Nih, hampir sama dengan pipi kamu."
"Benar mas, aku juga menyadari perubahan itu. Semoga saja nanti akan ada kabar bahagia, kasihan Dzacky menjadi merasa sangat bersalah pada Ayara."
"Biarkan saja, anak itu memang perlu diberi pelajaran. Anak ayah gimana kabarnya hari ini, jangan terlalu lelah sayang." Pedro mengusap perut Aina dengan lembut.
"Alhamdulillah baik, ayah. Semoga saja aunty Ayara juga membawa kabar bahagia untuk teman aku bermain Ayah."
"Aamiin."
__ADS_1