
Mengulang kembali disaat tim alpa bergerak, Damendra telah mendahului pergerakan yang telah direncanakan oleh para sahabat Cakra. Mereka mengetahui siapa dalang dari peristiwa tersebut, bergerak tanpa ada yang menyadari akan kehadirannya disana.
"Tuan, Yoshi Jazztin adalah tersangka utamanya. . ." Orang kepercayaan Damendra melaporkan mengenai apa yang mereka temukan.
"Lakukan tanpa jejak." Titah mutlak dari orang yang sangat disegani dalam kalangan bisnis maupun dunia bawah itu terucapkan.
"Baik tuan, untuk wanitanya?" Mereka memastikan mengenai apa yang akan diberikan.
"Lenyapkan tanpa sisa."
Titah keduanya begitu sangat keras, bagaimana tidak keras. Karena itu berasal dari seorang Damendra, tim alpa langsung bergerak setelah perintah itu turun.
Mereka melakukannya dengan begitu rapi, tidak ada satupun yang dapat mengendus pergerakan yang dilakukan. Bahkan Pedro pun tak dapat menyentuhnya, walaupun pada akhirnya ia menyadari keberadaan dari tim alpa disana.
Pergerakan Yoshi memang sangat cerdik, ia selalu bisa melepaskan diri dari orang-orang yang akan menangkapnya. Namun tidak untuk kali ini, semua orang sudah mengincarnya. Dan keberuntungan serta keberhasilan itu menghampiri Damendra, melakukan tim alpa nya.
.
.
__ADS_1
.
.
Setelah keadaan Ayara dinyatakan telah membaik dan ttida, terjadi apapun dan diperbolehkan untuk pulang, terlepas dari peristiwa tersebut. Penjagaan serta over posesif maupun protektif dari seorang Cakra dan juga Damendra begitu nyata untuk Ayara, karena mereka tidak ingin peristiwa itu terjadi kembali.
Sudah hampir dua bulan lamanya, Ayara hanya berdiam diri didalam mansion besar milik suaminy. Tidak terlintas dalam benaknya untuk pergi keluar hanya untuk melepas kepenatan, ia selalu patuh akan ucapan dari Cakra.
"Mas, kamu tidak kerja?" Ayara yang bingung akan suaminya yang begitu betah dirumah.
Cakra memindahkan pekerjaannya semua ke mansion, hanya Emry yang berada di perusahaan dan dirinya dimansion.
"Apa tidak kasihan dengan Emry? Sepertinya dia butuh sedikit liburan mas." Ayara menghampiri Cakra dan ikut menatap layar dihadapan suaminya.
"Biarkan saja, dia juga digaji dengan seimbang atas pekerjaannya. Kok kamu malah perhatian sekali sama Emry? Ah, membuatku menjadi merasa panas saja." Cakra sedikit menggoda istrinya.
"Silahkan saja cemburu, makam sampe kenyang ya cemburunya." Dengus Ayara yang menjauh dari Cakra.
Namun itu tidak akan terjadi, sebelum, Ayara benar-benar menjauh darinya. Cakra terlebih dulu sudah menahannya, hingga tubuh Ayara tidak seimbang dan berakhir di atas pangkuan Cakra. Saling bertatapan satu sama lain dengan cukup dalam, membuat keduanya larut dalam keheningan dan suasana yang sangat mendukung.
__ADS_1
Hampir saja Cakra lepas kendali, jika tidak Ayara yang menyadarkannua.
"Mas, stop. Tidak baik diruangan terbuka, malu juga nanti kalau ada yang lihat." Wajah Ayara sudah berubah sedikit memerah.
"Biarkan saja sayang, siapa tahu mereka yang mengintip mau ikutan seperti kita. Dengan mudahnya akan aku ledakan kepala mereka, enak aja melihat istriku." Seringai Cakra yang selalu cemburu.
"Hush, nyawa orang kok dibuat seperti itu. Mas, kalau tidak ke perusahaan. Boleh kita berkunjung ke tempat kak Aina?"
"Bukannya mereka sedang ada di desa?" Cakra yang mengetahui jika Pedro sedang berkunjung ke kampung halaman istrinya.
"Kan Sudan pulang, lagian Mas juga sibuk kerja terus. Ada kalanya butuh rileks untuk beberapa waktu, kasihan otaknya dipaksa kerja teras terus." Papar Ayara yang sangat menginginkan liburan.
Nampak Cakra terdiam untuk beberapa waktu, meletakkan berkas dan juga ipad dari tangannya ke atas meja.
"Oke, kita liburan. Apa sih yang tidak untuk istriku ini." Memeluk dan menghujami Ayara dengan beberapa kecupan manja.
"Aaaa! Tapi tidak mesum juga kali mas. Tolong! Hahaha."
Kehidupan keduanya kini begitu bahagia, saling melengkapi satu sama lainnya.
__ADS_1