
"Dasar tidak tahu diri, kamu itu kenapa mencuri kesempatan dari orang lumpuh sih. Salah bener, selama ini aku menilaimu perempuan yang baik-baik. Tidak tahunya, menjijikan sekali." Umpat Celine yang begitu terbakar rasa cemburu.
Mendengar umpatan tersebut, begitu hancur hati Ayara. Karena kesalahpahaman yang ada, membuat sesuatu yang ia takuti selama ini terjadi.
"Dasar tidak tahu malu, sudah dibaikin tapi malah kayak gini. Nyesel aku sudah kenal sama kamu." Dengan begitu sangat emosinya, Celine menatap Ayara tajam.
"Tunggu, ini tidak seperti apa yang kamu duga. Biar aku jelaskan." Ayara mencoba untuk memberikan penjelasan atas kejadian tersebut.
"Diam kamu! Aku tidak butuh penjelasan dari orang seperti kamu, Ayara. Wajahmu itu sangat menipu sekali, keluar dari sini." Bentak Celine kepada Ayara, ia tidak ingin mendengar apapun dari Ayara untuk membela diri.
Mendengar suara keributan tersebut, membuat orang-orang yang berada di mansion menjadi kaget. Mereka bergegas menuju kamar Cakra, untuk memastikan hal tersebut.
Untuk Yuri, ia begitu kaget mendapatkan Ayara yang masih berada di bawah. Dengan Celine berdiri dihadapan Ayara, yang seakan-akan sedang menghakiminya. Bergegas Yuri mempercepat langkahnya menghampiri Ayara dan membantunya berdiri, lalu ia memandang Celine dan Cakra secara bergantian untuk mendapatkan penjelasan.
__ADS_1
"Tante, perempuan ini sudah mengoda Cakra. Mura**an sekali, pasti dia sedang merencanakan sesuatu kepada kita." Tuduh Celine yang langsung kepada Ayara.
"Tidak baik menuduh orang tanpa sebab, Celine. Sudah nak, kamu kembali saja kekamar dan beristirahat." Yuri meminta pada Ayara untuk menjauh dari tempat tersebut, agar terhindar dari imbasnya Celine.
Atas permintaan Yuri, Ayara pun mengiyakannya. Namun tatapan Cakra seakan menyamakan dengan perkataan sang mommy, ia tidak ingin Celine bertindak diluar kendali.
Menahan rasa sakit pada fisik dan perasaannya, Ayara berjalan menjauh dengan membawa luka. Belum sempat ia keluar dari kamar itu, kehadiran Pedro dan juga Emry membuatnya tertahan kembali disana.
Genggaman tangan dari Pedro pada lengan kecil Ayara, menahannya dengan menambah tatapan tajam. Melewati keduanya, Emry menghampiri Cakra terlebih dahulu.
"Berikan alasan untukku tidak membuat gaduh disini." Suara Pedro begitu datar, merinding untuk yang mendengarnya.
Dalam diamnya, Ayara harus membuang semua perasaan sakitnya saat ini. Karena itu akan menambah kecurigaan dari Pedro padanya, sungguh begitu bersalahnya dirinya ketika membuat Pedro khawatir.
__ADS_1
" Aku tidak apa-apa kak, hanya salah paham saja. Lagian juga, kalian pun tahu akan kebenarannya."
Genggaman tangan itu melemah, Ayara pun pamit untuk masuk ke dalam kamarnya. Lalu Pedro meneruskan langkahnya menghampiri semua orang yang masih berkumpul di ruangan tersebut, mendapatkan kabar keributan dari utusan yang ia tugaskan menjaga Ayara. Membuat dirinya meninggalkan semua pekerjaan yang ada, melaju dengan kecepatan kilat mengemudikan mobilnya agar segera sampai.
Begitu pula dengan Yuri, dia tidak ingin memperpanjang ucapannya disana. Karena ia sudah memahami karakter dari Celine, akan terasa percuma saja. Sikap yang tidak mau mengalah dan keras kepala melebihi Cakra, ditambah dengan level pedas untuk didengar. Membuat dirinya lebih baik pergi dan menemui Ayara, karena ia tahu jika wanita itu lebih membutuhkan dirinya.
Sementara itu, Pedro dengan mata elangnya menatap Celine. Dan itu berhasil membuat wanita itu menjadi ketakutan, dimana mereka sangat tahu siapa Pedro. Orang yang pernah mengenal rasa takut, apalagi dirinya merupakan pemimpin klan dunia bawah. Siapa yang berani padanya, makanya nyawa mereka adalah taruhannya.
"Jangan pernah menyakiti adikku, jika kau masih ingin bernafas dengan baik di dunia ini." Perkatan itu sekaligus peringatan seorang Pedro pada Celine.
"Aku tidak tahu siapa adikmu, mana aku tahu jika aku menyakitinya." Jawaban Celine membuat amarah Pedro meninggi.
"Dasar wanita sialan! Sebaiknya mulutmu itu dirobek saja, biar sadar." Dengan seringainya, Pedro mencengkram rahang Celine dengan tangannya.
__ADS_1
"Arkh! Le lepas, lepaskan." Teriak Celine dengan rasa sakit yang begitu dahsyat.