Wanita Spesial Milik CEO

Wanita Spesial Milik CEO
WSMC.71


__ADS_3

Sudah berjalan lebih dari lima belas menit, waktu yang ditunjukkan untuk menunggu reaksi dari obat yang diberikan. Namun sampai saat ini, tidak ada tanda-tandanya jika tubuh Ayara menerimanya.


Dengan hal tersebut, membuat Matteo menjadi panik. Dari kepanikan tersebut dapat Pedro kenali, ia segera menghampiri Matteo yang juga saat itu dalam kepanikan.


"Jangan sampai aku melenyapkanmu!" Erang Pedro yang tahu akan situasi saat itu.


"Aku sedang berusaha, sialan!!" Tak kalah garangnya Matteo kala itu, ia benar-benar bingung akan apa yang sedang terjadi.


"Jika terjadi apa-apa pada nyawa adikku, kau akan menanggungnya." Pedro menjauhkan dirinya dan memberikan ruang pada Matteo untuk melakukan tindakan.


Untuk Cakra, ia terdiam tanpa apapun. Menyaksikan orang yang begitu ia cintai sedang berjuang untuk hidup, entah apa yang terjadi padanya hingga mengalami hal seperti itu. Melihat Matteo sang paman berjuang, sempat terlintas dalam benaknya untuk marah.

__ADS_1


"Apa yang terjadi pada Ayara?" Cakra menanyakan hal tersebut kepada Pedro yang menepi.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, tidak ada yang perlu pria itu ucapkan. Bagi Pedro, yang terpenting saat ini adalah keselamatan nyawa Ayara.


"Apa yang terjadi pada Ayara, katakan!!" Suara Cakra yang meninggi sempat membuat para medis disana tersentak kaget.


Dengan menatapkan wajah ke atas, Pedro menghela nafas beratnya serta mengusap wajah itu dengan cukup kasar. Ia menarik Cakra ke salah satu sudut ruangan yang ada disana, dalam keadaan emosi yang sudah tidak terkontrol. Pedro melepaskan hantaman dari kepalan tangan kirinya ke arah dinding, yang dimana dinding itu kini sudah berlubang.


" Bahkan saat ini, kau bisa lihat dia sedang berjuang untuk tetap hidup. Rasa sakit yang dia derita berkali-kali lipat dari rasa sakit yang ada, karena dia alergi obat anestesi!"


" Lihat, obat yang biasa digunakan dalam dunia bawah dalam dosis besar saja belum memberikan reaksi apapun padanya. Kau pahamkan itu artinya apa!" Suara Pedro sangat tegas, namun ia tidak meninggikan nada bicaranya.

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan dari Pedro, Cakra melirik ke arah Ayara yang masih terus mendapatkan pertolongan dan tindakan dari Matteo dan juga yang lainnya. Seakan dunianya hancur saat itu, tubuh itu tersandarkan pada dinding pembatas didalam ruangan tersebut.


Mereka semuanya dalam keadaan yang cukup khawatir serta tegang, karena kondisi Ayara yang begitu kritis. Disaat Matteo hendak menyerah, disaat itu pula Ayara memberikan sinyal jika ia merespon.


Disaat itu pula, Cakra dan Pedro kembali menghampiri. Melihat Ayara yang terbatuk, Cakra refleks menyandarkan bagian atas tubuh Ayara pada dirinya yang sudah berada disana. Cukup banyak darah yang berwarna hitam pekat keluar dari mulut mungil tersebut, hingga Matteo harus mengambil sampel dari cairan tersebut.


Cukup lama Ayara mengeluarkan cairan tersebut, dengan cepat pula Matteo memberikan penggantinya melalui cairan infus. Kini, wajah itu tidak berwarna pucat lagi dan perlahan menjadi seperti semula. Hal itu membuat Matteo dan Pedro menghembuskan nafas leganya, berlanjut membersihkan Ayara dan memberikan penanganan selanjutnya. Memberikan ruang pada dokter yang ada untuk melanjutkannya, mereka berdua pun menyingkir dari sana.


"Tolong, tolong jelaskan padaku apa yang terjadi." Cakra berhadapan dengan Pedro saat mereka berdua memisahkan diri dari ruangan dimana Ayara berada.


Sambil menghembuskan benda kecil yang mengeluarkan asap dari tangannya, Pedro berupaya untuk menetralkan dirinya dari semua rasa yang menguras emosi besar dalam dirinya dengan apa yang baru saja mereka hadapi.

__ADS_1


__ADS_2