
Keadaan Cakra tanpa sepengetahuan orang lain, sudah mulai membaik. Hanya saja, ia lebih waspada dengan orang-orang disekitarnya. Menyesali peristiwa yang sudah terjadi sebelumnya, ia tidak ingin hal tersebut terulang kembali lagi dalam kehidupannya saat ini.
"Mau kemana?" Cakra yang melihat Ayara sedang berjalan menuju pintu.
"Ah ini, hanya mau menghantarkan pakaian kotor. Ada apa? Apa tuan membutuhkan sesuatu?" Ayara berjalan kembali menghampiri Cakra.
"Tidak ada, lebih baik minta tolong sama pelayanan. Kamu jangan terlalu lelah, sini." Cakra menepuk sisi kosong disampingnya, sebagai tanda untuk Ayara.
Ayara pun menurutinya, ia kini duduk disamping Cakra dengan meletakkan terlebih dahulu keranjang yang ia bawa sebelumnya. Cakra langsung menggenggam tangan Ayara dan menyatukan kedua telapak tangan mereka berdua, Ayara tidak kaget lagi dengan apa yang dilakukan oleh Cakra padanya. Karena, hampir setiap saat ia memperlakukan dirinya seperti itu.
"Masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan, tuan beristirahat saja." Ayara mencari celah untuk menghindar.
"Memangnya kamu pelayanan? Tidak kan, jadi cukup duduk manis disini." Bantah Cakra yang sedikit demi sedikit sudah memahami karakter dari wanitanya.
"Tidak enak hanya berdiam diri saja."
"Kalau begitu, tolong bawa aku untuk menghirup udara segar."
Permintaan itu tidak dapat Ayara tolak, karena keberadaan ia disana memang untuk membantu kesembuhan Cakra. Dengan menggunakan kursi roda, Ayara membawa Cakra berjalan-jalan mengelilingi mansion, yang kemudian keduanya berhenti pada salah satu taman yang cukup sejuk.
Tak lupa akan kebiasaannya, Ayara memberikan sedikit pijatan pada kedua kaki Cakra sebagai terapi rutin agar saraf-saraf motoriknya dapat merespon dan bergerak seperti semula. Begitu cekatan dan penuh kelembutan, itu adalah perhatian yang Ayara berikan pada Cakra.
"Maafkan aku, bisakah kita memulainya kembali dari awal?" Cakra tiba-tiba saja berkata seperti itu pada Ayara.
"Maksud tuan?"
"Aku ingin memulai semua kehidupanku dari awal bersamamu, dampingi aku untuk bisa menjalani kehidupan ini. Apakah kamu mau?" Cakra mengulurkan tangannya dengan tujuan agar Ayara menyambutnya.
Namun semua yang ia pikirkan tidak sejalan dengan apa yang terjadi, Ayara hanya menatapnya dalam diam. Ia merasa bingung untuk menjawab hal tersebut, dimana saat ini. Tujuannya hanyalah untuk membantu Cakra mendapatkan kesembuhan, tidak ada yang lain. Selain membahagiakan orang yang sudah menganggapnya sebagai anak dan saudara, selebihnya tidak ada keinginan apapun. Jika Cakra Sudan mendapatkan semuanya, ia akan pergi.
__ADS_1
"Ayara, kamu melamun." Tangan Cakra melambai-lambai dihadapan wajahnya.
"Ti tidak tuan." Sesungguhnya Ayara berusaha untuk menutupi rasa kagetnya.
"Kamu mau kan." Cakra kembali mempertanyakan hal tersebut kepada Ayara.
"Lebih baik kita fokus dahulu pada kesehatan tuan, itu akan lebih baik." Berbagai jurus digunakan Ayara agar tidak membahas hal tersebut.
"Aku akan segera pulih, tentunya dengan adanya kamu disisiku. Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku dalam keadaan apapun." Cakra memohon kepada Ayara untuk mengabulkan permintaannya.
"Aku hanyalah manusia biasa, yang tidak luput dari kesalahan tuan. Biarkan waktu yang menjawab semuanya ini, kita hanya bisa berusaha dengan sebaik mungkin." Ayara beranjak dari tempatnya dan berpura-pura sedang berdiri dari arah belakang kursi roda yang Cakra gunakan.
Air mata yang tak tertahankan itu mengalir begitu saja, Ayara merasa ia tidak akan sanggup untuk menepati janji yang Cakra inginkan darinya. Tanpa kecurigaan apapun, Cakra hanya dapat memasuki keputusan dari Ayara. Mereka kembali melanjutkan untuk menikmati udara segar dengan berjalan-jalan disekitar mansion, sampai matahari mulai tenggelam dan keduanya memutuskan unttuk kembali.
.
.
.
.
Ketajaman analisa dari sahabatnya itu tidak lagi dapat diragukan, baru kali ini Eliot mendapatkan berkas dari Emry. Biasanya pria itu bersama Cakra dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri, tapi tidak untuk kali ini.
Dalam diamnya, Eliot mulai membolak balik berkas tersebut. Cukup memakan waktu untuk ia memutuskan hasilnya, tentunya dengan pertimbangan yang cukup.
"Hubungi Pedro untuk ini, dugaanmu benar. Tapi aku perlu dia untuk memastikan siapa dalangnya, apakah sudah ada yang tak terkendali?" Eliot membutuhkan akses Pedro untuk menembus pengamatannya.
Tanpa menunggu lama, Emry segera menghubungi Pedro untuk membahas hal tersebut. Karena perusahaan sedang dalam keadaan tidak baik, semenjak Cakra tidak bekerja. Ada sesuatu yang aneh terjadi, dimana nilai saham dengan perlahan menurun jauh. Saat ditelusuri, mereka tidak dapat menemukan siapa pelakunya.
__ADS_1
Bahkan Damendra harus bekerja keras untuk menahan para pihak investor dan berbagai proyek yang sedang berjalan agar tetap stabil, walaupun tidak dapat dipungkiri jika dia mengalami kesulitan. Hal tersebut tidak bisa dibiarkan, para sahabat Cakra mulai bergerak untuk mencari penyebabnya.
Imbas dari peristiwa tersebut, perusahaan mereka pun ikut terkena dampaknya. Mereka tidak memberitahukan ataupun melibatkan Cakra, membiarkan sahabatnya itu untuk fokus pada kesembuhannya terlebih dahulu.
Ketika Pedro tiba, mereka segera berdiskusi mengenai permasalahan yang ada. Dzacky yang menghubungi pun tidak mereka gubris, karena pria itu hanya akan memperkeruh suasana dan bisa membuat emosi tidak stabil. Jadi, mereka menahan Dzacky untuk tetap fokus pada perusahaannya saja.
"Apa kamu punya gambaran untuk pelakunya?" Sorot mata Pedro masih tertuju pada berkas yang sedang ia baca.
"Aku tidak yakin, tapi paman juga memberikan hal yang sama." Emry menyerahkan berkas lainnya yang berisikan sebuah data informasi.
Mengenai berkas tersebut, membuat Pedro menajamkan tatapannya. Ia merasa tidak asing dengan nama yang tertera disana, tidak menyangka jika nama tersebut menjadi sumber dari masalah.
Lalu Pedro menghubungi salah satu orangnya untuk memberikan informasi yang ia butuhkan, sambil menunggu hasilnya. Mereka membereskan masalah kecil yang cukup mengganggu dalam bisnis yang ada, cukup menguras tenaga, waktu dan pikiran semuanya.
Tak lama kemudian, informasi yang mereka butuhkan telah didapatkan. Pedro segera memainkan ponsel miliknya, dalam beberapa detik kemudian ia sangat kaget.
"What?!!" Pandangannya terfokuskan pada ponsel miliknya.
Emry dan Eliot pun segera menghampirinya untuk mengetahui penyebabnya, namun mereka belum mengerti akan apa yang didapatkan Pedeo kala itu.
"Kau mendapatkannya?" Eliot memastikan hal itu.
Awalnya Pedro nampak ragu untuk mengatakannya, akan tetapi hal tersebut sudah membuat mereka semuanya pusing.
"Yoshi Jazztin." Ucap Pedro dengan sangat halus, hanya ia yang bisa mendengarnya.
"Hei, kenapa kau mengatakan apa?" Emry berdiri dihadapan Pedro untuk mendapatkan hasil yang mereka inginkan.
Begitu pula dengan Eliot, ia juga menantikan hasilnya. Lalu mereka hanya mendapatkan hembusan nafas dari Pedro sebagai jawabannya, gelengan kepala pun menyusul dan menandakan jika mereka belum dapat menemukan inti dari dalang semuanya ini.
__ADS_1
Meninggalkan keduanya, Pedro terlebih dahulu pergi dengan dalih untuk bertemu dengan salah satu kliennya. Begitu juga dengan Emry dan Eliot, mereka pun kembali ke perusahaan untuk tetap fokus.